
HT Serukan Negara Muslim Keluar dari BoP
Hizbut Tahrir menyerukan kepada negara-negara mayoritas Muslim segera menarik diri dari Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sejatinya hanyalah dewan penjajahan.
“Sadarilah dan tariklah diri dari dewan penjajahan ini sebelum kalian menyesal, ketika penyesalan tidak lagi berguna,” demikian seruan Hizbut Tahrir sebagaimana dilansir Harian Ar-Rayah dan dikutip media-umat.com, Rabu (4/2/2026).
Untuk ditegaskan sebelumnya, sebagai pelopor yang jujur, Hizbut Tahrir akan terus melangkah bersama umat—berikut pemilik kekuatan dan pengaruh di dalamnya—untuk menegakkan Khilafah Kedua di Atas Manhaj Kenabian.
Dikabarkan, Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani piagam Dewan Perdamaian (BoP) pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss, yang disaksikan perwakilan negara anggota. Dewan ini terdiri dari 20 negara, meliputi 13 negara mayoritas Muslim (termasuk Indonesia) dan 7 negara minoritas Muslim, dengan Amerika Serikat sebagai ketuanya.
Juga terungkap, dewan ini awalnya dirancang untuk rekonstruksi Gaza, tetapi piagamnya—sebagaimana pernyataan Trump—menetapkan tugas yang jauh lebih luas dalam penyelesaian konflik global.
Karena itu Hizbut Tahrir memandang dewan bentukan Trump ini tak lepas dari upaya melegitimasi ambisi AS di Gaza dan seluruh tanah Palestina yang diberkahi.
Selain menyerukan agar negara Muslim mundur dari keanggotaan, Hizbut Tahrir juga menegaskan beberapa pernyataan sikap. Pertama, dengan kesombongan dan keangkuhannya, Amerika sedang memaksakan penjajahan global dan melegitimasi segala bentuk pendudukan.
Kedua, penandatanganan Piagam BoP oleh 13 negara Muslim tersebut menjadikan mereka sebagai mitra dalam kejahatan penjajahan di Gaza.
Hizbut Tahrir menegaskan, umat Islam tidak akan lupa. Sejarah penindasan, pembunuhan, dan perampasan tanah di Gaza serta seluruh Palestina tersimpan dalam memori kolektif lintas generasi. Jarak dan waktu tidak akan menghapus tuntutan atas keadilan dan pembalasan bagi setiap nyawa yang hilang.
“Umat ini akan mengadili Amerika dan negara-negara yang ikut dalam kejahatannya di Gaza, seluruh Palestina, dan tempat-tempat lain, setelah Allah menganugerahinya kemenangan dan menegakkan khilafah,” pungkasnya. []





