Telaah Kitab

Mereka Yang Nafkahnya Dijamin Oleh Negara (Telaah Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 156)

(Telaah Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 156)

Di dalam Negara Khilafah, Negara wajib menjamin nafkah orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki pekerjaan dan tidak ada orang yang menanggung nafkahnya.  Pasal 156 Kitab Muqaddimah ad-Dustuur menyatakan:

تَضْمَنُ الدَّوْلَة نَفَقَةَ مَنْ لاَ مَالَ عِنْدَهُ وَلا عَمَلَ لَهُ، وَلاَ يُوْجَدُ مَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ، وَتَتَوَلَّى إِيْوَاءَ الْعَجَزَةِ وَذَوِيْ الْعَاهَاتِ

Negara menjamin biaya hidup bagi orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan atau tidak ada orang yang wajib menanggung nafkahnya. Negara menampung orang lanjut usia dan orang-orang cacat.

 

Dalil yang mendasari pasal ini adalah keumuman sabda Nabi saw.:

اَلْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (kepala negara) itu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyat yang dia pimpin (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Di antara urusan penting yang termasuk bagian dari tugas ri’aayah (mengurus rakyat) adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negara yang memiliki kemampuan tetapi tidak mendapatkan pekerjaan.  Adapun nafkah orang fakir yang tidak memiliki kerabat yang mampu menafkahinya menjadi tanggungjawab negara.  Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:

مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ كَلاًّ فَإِلَيْنَا

Siapa saja yag meninggalkan harta, harta itu adalah hak ahli warisnya. Siapa saja yang meninggalkan orang lemah (yang tidak punya anak maupun orangtua), itu adalah urusan kami (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Al-Kallu adalah orang lemah yang tidak memiliki anak dan bapak.  Di dalam riwayat lain dituturkan:

مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ

Siapa saja yang meninggalkan harta, harta tersebut menjadi hak keluarganya. Siapa saja yang meninggalkan hutang atau keluarga (yang wajib diberi nafkah), itu urusanku dan kewajibanku (HR Muslim).

 

Dhiyaa‘[an] artinya adalah ‘iyaal[an] (keluarga).

Orang yang wajib dinafkahi oleh Negara, berkonsekuensi logis bahwa Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka. Tentu agar bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.   Anas bin Malik ra. berkata:

 

Pernah ada seorang laki-laki Anshor mendatangi Nabi saw. Dia meminta sesuatu kepada beliau. Nabi saw. bertanya, “Apakah di rumahmu sudah tidak ada apa-apa lagi?” Laki-laki itu menjawab, “Benar. Hanya ada baju kasar yang kami kenakan sebagiannya dan sebagiannya kami hamparkan. Juga ada mangkuk yang kami gunakan untuk minum air.” Rasulullah saw bersabda, “Bawalah keduanya kepadaku.”   Perawi berkata: Orang itu pun membawa keduanya ke hadapan beliau.  Rasulullah saw. mengambil keduanya dengan tangannya, seraya bersabda, “Siapa yang mau membeli dua barang ini?  Seorang laki-laki menjawab, “Saya beli keduanya dengan satu dirham.”  Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mau membeli lebih dari satu dirham?”  Beliau mengucapkan dua atau tiga kali.   Laki-laki tadi menjawab, “Saya beli keduanya dengan dua dirham.” Nabi saw. memberikan keduanya kepada laki-laki itu dan mengambil dari dia dua dirham.  Kemudian, beliau memberikan dua dirham tersebut kepada laki-laki Anshar tersebut, seraya bersabda, “Belilah makanan dengan satu dirham, dan berikanlah kepada keluargamu. Lalu belilah sebuah kapak dengan satu dirham yang lain, dan bawalah kapakku kepadaku.”  Lalu laki-laki itu memberikan kapak kepada beliau. Kemudian beliau mengikatkan tali yang ada di tangan beliau pada kapak itu. Lalu Nabi saw. bersabda kepada laki-laki Anshar itu, “Pergilah, dan carilah kayu bakar, dan juallah.  Aku benar-benar tidak akan melihatmu selama 15 hari.”   Laki-laki itu pergi mencari kayu bakar dan menjualnya.    Laki-laki itu mendatangi Nabi saw. dan dia membawa 10 dirham.  Kemudia ia membeli baju dengan sebagian uangnya. Sebagiannya ia belikan makanan.  Rasulullah saw. bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada kamu datang meminta-minta yang akan menjadi tanda buruk (nuktah) pada wajahmu kelak pada Hari Kiamat.  Sesungguhnya meminta tidak layak kecuali bagi tiga orang; orang yang sangat miskin, orang yang terlilit hutang, atau pembunuh yang harus membayar diyat (sedangkan dia tidak memiliki uang).” (HR Ibnu Majah).

 

Negara juga wajib menanggung nafkah orang-orang tidak mampu jika tidak ada kerabat yang sanggup memberi dia nafkah. Al-‘Aajiz (orang yang tidak mampu) menurut pengertian syariah adakalanya ‘aajiz haqiiqah, yaitu orang yang secara fisik benar-benar tidak mampu bekerja.  Adakalanya ‘aajiz hukm[an], yakni orang yang tidak mendapat pekerjaan yang dari pekerjaan itu  ia bisa memperoleh nafkah.  Masing-masing dari keduanya adalah orang yang tidak mampu (‘aajiz).  Syariah menjamin seluruh kebutuhan dasar mereka berdasarkan dalil-dalil tersebut. Caranya dengan mewajibkan suami dan ahli waris memberikan nafkah kepada wanita secara mutlak dan orang yang tidak mampu secara hakiki atau secara hukum.  Kemudian, jika mereka tidak ada, atau ada tetapi tidak mampu, maka syariah mewajibkan nafkahnya kepada Baitul Mal, yakni kepada Negara.

Agar syariah menjamin Baitul Mal melaksanakan pemenuhan nafkah tersebut, syariah menetapkan pos-pos pengeluaran untuk (pemberian) nafkah tersebut sebagai bentuk perhatian khusus. Syariah menetapkan di dalam Baitul Mal pos seperti zakat untuk orang-orang fakir. Allah SWT berfirman:

۞إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ ٦٠

Sungguh zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin… (QS at-Taubah [9]: 60).

 

Dalam lanjutan ayat ini berikutnya dinyatakan:

وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ ٦٠

… dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (QS at-Taubah [9]: 60).

 

Jika zakat tidak mencukupi, pemberian nafkah akan diambilkan dari pos-pos Baitul Mal lain berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ

Siapa saja yang meninggalkan harta, harta tersebut menjadi hak keluarganya. Siapa saja yang meninggalkan hutang atau keluarga (yang wajib diberi nafkah), itu urusanku dan kewajibanku (HR Muslim).

 

Artinya, menjadi tanggungan Negara.  Hal ini juga berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

اَلْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (kepala negara) adalah pemimpin dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia pimpin (HR al-Bukhari).

 

Inilah dalil-dalil yang mendasari ketentuan bawha Negara wajib menjamin nafkah orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki pekerjaan dan tidak ada orang yang menanggung nafkahnya.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Gus Syams]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + seven =

Back to top button