Tafsir

Penghormatan Kepada Penghuni Surga

ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ  ٣٤

Masuklah kalian ke dalam surga itu dalam keadaan aman. Itulah hari kekekalan. (QS Qaf [50]: 34).

 

Dalam ayat sebelumnya diberitakan bahwa surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Itu merupakan janji Allah SWT kepada mereka pada Hari Kiamat. Ayat ini melanjutkan kejadian yang terjadi pada hari itu. Ketika mereka didekatkan dengan surga, mereka juga dipersilakan masuk ke dalamnya.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ٣٤

Masukilah surga itu dengan aman.

 

Dalam ayat ini ada bagian yang dihilangkan. Kalimat lengkapnya diperkirakan: Dikatakan kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam surga itu.”1

Dhamîr al-fâ’il pada kalimat tersebut: « اُدْخُلُوها » adalah al-muttaqûn (kaum yang bertakwa), sedangkan dhamîr al-maf’ûl adalah al-jannah (surga). Hal ini kembali pada ayat sebelumnya yang disebutkan:

وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٣١

Didekatkanlah surga itu kepada kaum yang bertakwa (QS Qaff [50]: 31).

 

Artinya, ketika kesempurnaan, keindahan dan kedekatannya telah sempurna, dikatakan kepada mereka bahwa surga itu adalah tempat tinggal mereka dengan firman-Nya:

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ ٣٢

Inilah yang dijanjikan kepadamu (Qaf [50]: 32).

 

Lalu diizinkanlah bagi mereka untuk memasuki surga itu.2

Ayat ini menunjukkan bahwa masuknya mereka ke dalam surga bergantung pada izin dari Allah. Dalam hal ini terdapat unsur penantian yang sekilas terlihat tidak pantas dengan konsep sikap memuliakan penghuni surga. Menurut Fakhruddin ar-Razi, sesungguhnya tidak demikian. Sebabnya, jika ada orang yang mengundang seseorang yang dia muliakan diundang ke kebunnya, dia akan membukakan pintu bagi dirinya, membiarkan tamunya duduk di tempatnya, dan tidak ada yang berdiri di depan pintu untuk menyambut dirinya, dan dia berkata, “Jika engkau sampai ke kebunku, masuklah ke dalamnya.” Jika hal ini terjadi, yakni tidak ada seorang pun yang menyambut tamu yang dia undang itu, maka itu berarti ia mengurangi penghormatan. Berbeda halnya jika ada orang-orang yang berdiri di depan pintunya sambil berkata, “Masuklah kalian dengan menyebut nama Allah.” Ini justru menunjukkan pemuliaan atau penghormatan. Dengan demikian firman Allah SWT: « بِسَلامٍ » (dengan selamat), sebagaimana tuan rumah yang berkata, “Masuklah kalian dengan disertai keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan.”3

Secara bahasa, kata « السَّلَامُ » berarti « تَبَرَّأَ » (terbebas).4 Dalam kalimat: « سلِمَ فلانٌ », berarti: « أمِن على نفسه وماله » (dia aman atas diri dan hartanya).5 Makna ini pula yang terkandung dalam ayat ini. Ibnu ‘Asyur juga menyatakan bahwa makna as-salâm di sini adalah « السَّلَامَةُ مِنْ كُلِّ أَذًى مِنْ تَعَبٍ أَوْ نَصَبٍ » (selamat dari segala bahaya, baik yang melelahkan dan meletihkan).6

Huruf al-bâ‘ di depannya memberikan makna « لِلْمُصَاحَبَةِ » (untuk menunjukkan penyertaan), yakni menerangkan al-hâl (keadaan). Dengan demikian: « بِسَلامٍ » bermakna: « سَالِمِينَ مَقْرُونِينَ بِالسَّلَامَةِ » (mereka dalam keadaan selamat yang disertai dengan keselamatan).7

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga ini dengan aman dan selamat dari kesedihan, kemurkaan, dan azab Allah SWT, serta terbebas dari segala hal yang tidak disukai sebagaimana ketika di dunia.”8

Menurut Abdurrahman as-Sa’di, kepada kaum yang bertakwa lagi saleh itu dikatakan: « ادْخُلُوها بِسَلامٍ » (Masuklah kalian ke dalamnya dengan selamat), berarti, “Masuklah ke dalamnya dengan disertai keselamatan dari berbagai bencana dan keburukan, terjaga dari segala hal yang tidak disukai; sehingga kenikmatan mereka tidak akan terputus, dan tidak ada kekeruhan ataupun gangguan di dalamnya.”9

Abu Bakar al-Jazairi juga berkata, “Masuklah ke dalamnya,’ yakni ke dalam surga, ‘dengan selamat’, yakni dengan keselamatan, dalam keadaan kalian terbebas dari segala sesuatu yang menakutkan.”10

Bisa pula makna ayat tersebut adalah: « اُدْخُلُوهَا مُسَلَّمًا عَلَيْكُمْ » (Masuklah dengan diucapkan salam kepada kalian). Allah SWT dan para malaikatnya memberikan salam kepada kalian.11

Menurut Syihabuddin al-Alusi, kata as-salâm, bisa berasal dari « السَلام » (keselamatan), bisa juga dari kata « التسليم » (salam, penghormatan). Dengan demikian ayat tersebut bisa berarti: “Masuklah kalian ke dalamnya dalam keadaan disertai keselamatan dari azab dan hilangnya nikmat.” Bisa juga berarti salam dan penghormatan dari Allah SWT dan para malaikat-Nya.12

Menurut az-Zamakhsyari, makna bi salâm adalah: “Mereka masuk dalam keadaan selamat dari azab dan hilangnya nikmat.”13

Bisa juga bermakna: “Disampaikan salam atas kalian.” Artinya, Allah dan para malaikat-Nya memberi salam kepada kalian.”14

Penjelasan senada juga dikemukakan Qatadah yang berkata, “Mereka selamat dari azab Allah SWT dan malaikat Allah mengucapkan salam atas mereka.”

Ibnu Aysur juga berkata, “Bisa jadi yang dimaksud dengan itu adalah salam para malaikat kepada mereka ketika mereka memasuki surga. Ini sebagaimana firman-Nya:

سَلَٰمٞ قَوۡلٗا مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ  ٥٨

(Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang (QS Yasin [36]: 58).15

 

Adanya salam penghormatan kepada kaum Mukmin pada Hari Kiamat juga diberitakan dalam firman Allah SWT yang lain (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 44). Ucapan salam yang diucapkan oleh para malaikat kepada penghuni surga juga diberitakan dalam firman-Nya yang lain (Lihat: QS al-Ra‘d [13]: 23–24). Salam juga disampaikan antara sesama penghuni surga (Lihat: QS al-Waqi’ah [56]: 25–26).

Menurut Fakhruddin ar-Razi, ada aspek lain dari ayat ini. Hal itu merupakan irsyâd (bimbingan) kepada kaum Mukmin agar tetap berakhlak mulia pada hari itu, sebagaimana mereka dibimbing kepadanya di dunia, sebagaimana firman Allah SWT:

لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ٢٧

Janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (QS an-Nur [24]: 27).

 

Seakan-akan Allah SWT berfirman: “Inilah rumah kalian dan tempat tinggal kalian. Akan tetapi, janganlah kalian meninggalkan kebiasaan baik kalian, dan jangan mengabaikan akhlak mulia kalian. Masuklah ke dalamnya dengan salam.”16

Menurut Ibnu ‘Asyur, izin tersebut termasuk bentuk penyempurnaan pemuliaan terhadap tamu; yaitu jika seseorang diundang ke walimah atau dibawa ke sana, maka ketika ia sampai di rumah tuan rumah, dikatakan kepada dia, “Masuklah dengan selamat.”17

Kemudian Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ  ٣٤

Itulah hari kekekalan.

 

Al-Isyârah atau kata penunjuk « ذلِكَ » (itu) menunjuk pada « ذَلِكَ الْيَوْم » (hari itu).18 Penggunaan kata dzâlika yang merupakan isyârah li al-ba’îd (kata penunjuk untuk sesuatu yang jauh) menarik dicermati.

Menurut Abu asy-Su’ud dan Syihabuddin al-Alusi, kata tersebut menjadi isyârah (penunjuk) kepada waktu yang memanjang, yang sebagian dari perkaranya telah disebutkan sebelumnya.19

Menurut Ibnu ‘Asyur, kata penunjuk untuk jarak jauh (dzalika) digunakan untuk menunjukkan pengagungan.20

Penjelasan ini juga disampaikan al-Biqa’i yang memaknainya: “Hari yang sangat agung.”21

Bisa jadi kata penunjuk itu menunjuk pada hari yang disebut dalam firman-Nya:

يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ  ٣٠

Pada hari ketika dikatakan kepada neraka Jahanam, “Apakah engkau telah penuh?” (QS Qaf [50]: 30).

 

Alasannya, setelah disebutkan apa yang dialami oleh penduduk Neraka Jahanam dan penduduk surga, kemudian disebutkan:

ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ  ٣٤

Itulah Hari Keabadian.

 

Ini sebagai bentuk tarhîb wa targhîb (ancaman dan motivasi). Menurut sudut pandang kedua ini, kalimat tersebut merupakan sisipan yang ditujukan kepada kaum yang bertakwa pada Hari Kiamat atau kepada orang-orang yang mendengar itu di dunia. Dalam kedua sudut pandang ini, idhâfah (penyandaran) kata al-yawm (hari) kepada al-khulûd (kekekalan) didasarkan pada pertimbangan bahwa awal Hari Kekekalan adalah hari-hari dengan ukuran yang tidak biasa, atau dengan mempertimbangkan penggunaan kata hari dalam makna waktu yang mutlak.22

Hari itu disebut « يَوْمُ الْخُلُودِ » (Hari Kekekalan, Hari Keabadian) karena tidak ada akhirnya. Bahkan kekal abadi.23 Disebut demikian karena di surga tidak ada kematian maupun kebinasaan.24

Muhammad Mukmin al-Harari berkata, “(Hari Kekekalan) dan kehidupan kekal di surga, karena ia tidak akan berakhir selamanya. Maka dari itu, tenanglah dan puaslah, karena ini adalah Hari Kekekalan. Setelahnya tidak ada kematian, tidak ada perpindahan, maupun kepergian.”25

Ini sebagaimana dalam firman-Nya:

وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ  ٧٣

Berkatalah kepada mereka para penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Berbahagialah kalian! Masukilah surga ini, sedangkan kalian kekal di dalamnya (QS az-Zumar [39]: 73).

 

Qatadah berkata, “Mereka kekal di surga. Demi Allah, mereka tidak akan pernah mati. Mereka menetap tanpa harus pergi dan diberikan nikmat tanpa rasa bosan.”26

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka kekal di dalam surga. Mereka tidak akan mati selama-lamanya, tidak akan pergi darinya serta tidak mau pindah darinya.27

Ibnu Jarir al-Thabari mengatakan bahwa Allah SWT berfirman “Wahai Manusia, inilah yang aku janjikan kepada kalian tentang orang yang Aku masukkan ke dalam surga. Itu adalah hari masuknya manusia ke dalam surga. Mereka tinggal di dalamnya tanpa kesudahan.”28

Menurut Fakhruddin al-Razi, firman-Nya: « ذلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ » bisa jadi merupakan firman Allah SWT di dunia sebagai pemberitaan dan pemberitahuan. Bukan firman Allah SWT yang disampaikan ketika Dia berfirman: « اُدْخُلُوها » (masuklah kalian semua). Seolah-olah Allah SWT mengabarkan kepada kita bahwa hari itu adalah yawm al-khulûd (Hari Kekekalan).29

Demikianlah. Kaum yang bertakwa mendapatkan kemuliaan dan penghormatan yang sangat tinggi pada Hari Kiamat. Mereka tidak hanya disediakan surga dan didekatkan kepada mereka pada Hari Kiamat. Mereka pun dipersilakan masuk ke dalam surga. Ini merupakan salah bentuk perhormatan dan pemuliaan kepada mereka. Mereka pun menjadi penghuni di dalamnya selama-lamanya.

WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

  1. Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 92
  2. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 148
  3. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 148
  4. Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, 12 (Beirut: Dar Shadir, 1994), 289
  5. Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, 2, 1099
  6. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 14, 74
  7. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 148
  8. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 366
  9. Al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân, 807
  10. Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 148
  11. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 148; ; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 306
  12. Al-Alusi, h al-Ma’ânî, 13 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 340
  13. Al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, 4 (Kairo: Dar al-Rayyan, 1987), 390
  14. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), 406
  15. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
  16. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
  17. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
  18. Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 93
  19. Abu al-Su’ud, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm, 8 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabiyy, tt), 133; al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 132
  20. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 321
  21. Al-Biqai’, Nazhm al-Durar, 18 (Haidar Abadi: Dairah al-Ma’arifah al-‘Utsmaniyyah, 1984), 433
  22. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 321
  23. Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5 (Kairo: Dar al-Shabuni, 1997), 93
  24. Al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3, 229
  25. Al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27, 472. Lihat juga al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Kairo: Dar al-Shabuni, 1997), 93
  26. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 366
  27. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 406
  28. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 366
  29. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 148

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 20 =

Back to top button