Catatan Dakwah

Utopia

Utopis…!

++++

Demikianlah komentar yang acap dilontarkan oleh beberapa tokoh, pengamat, akademisi, wartawan, kadang juga orang awam. Mereka menanggapi arah perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang ingin mewujudkan kembali kehidupan Islam melalui penegakan syariah secara kâffah dalam institusi Khilafah.

Menurut KBBI, utopia adalah sistem sosial politik yang sempurna. Ia hanya ada dalam bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan. Istilah ini merujuk pada tempat imajiner yang ideal. Ia sering disinonimkan dengan mimpi atau visi. Jika demikian, benarkah cita-cita untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam itu utopia?

Perjuangan untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam memang tidak mudah, tetapi bukan utopia. Banyak peristiwa besar dalam sejarah yang awalnya dikatakan mustahil, tetapi akhirnya terwujud juga. Contohnya penaklukan Konstantinopel. Benteng ini dikenal dengan sistem pertahanan terkuat di dunia saat itu. Ia mampu bertahan lebih dari 1000 tahun dari terkaman musuh dari mana pun datangnya. Akan tetapi, benteng itu akhirnya bisa ditaklukkan. Ini berkat strategi cerdik al-Fatih. Ia memimpin kaum Muslim untuk menyerang di sisi paling lemah. Sebelumnya mereka berhasil menarik 72 kapal dalam semalam melewati Bukit Galata menuju Teluk Tanduk Emas (Golden Horn). Penaklukan itu sekaligus mengakhiri kekuasaan Bizantium.

Keberhasilan ini tak lepas dari kombinasi ikhtiar ekstrem dengan keyakinan yang sangat kuat. Hal serupa terjadi pada Perang Badar. Perang ini menghadapkan 313 pasukan Islam melawan sekitar 1000 pasukan Quraisy. Meski jumlah dan persenjataan lawan yang sangat timpang, kemenangan bisa diraih oleh pasukan Islam. Ini memberikan bukti: realitas acap melampaui kalkulasi rasional.

Dalam konteks yang berbeda, keruntuhan Uni Sovyet, kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam, juga berakhirnya rezim apartheid di Afrika Selatan, yang semula tak terbayang sama sekali, akhirnya benar-benar terjadi. Terdapat pola yang hampir senada bahwa status quo yang terlihat tak tergoyahkan—seperti kekuasaan kafir Quraisy di Makkah, Bizantium, Uni Soviet, AS di Vietnam dan lainnya—akhirnya tak berdaya menghadapi perlawanan yang gigih, yang digerakkan oleh pemimpin yang hebat seperti Nabi Muhammad saw., al-Fatih, Nelson Mandela dan lainnya.

Nyatalah, sejarah bukan hanya ditentukan oleh kekuatan yang terlihat, tetapi juga oleh kombinasi ikhtiar, keyakinan dan faktor tak terduga yang sering di luar kalkulasi manusia. Nabi Musa as. dan Siti Maryam adalah contoh klasik bagaimana Allah SWT memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang secara logika tampak “tidak memadai” dengan apa yang sedang mereka alami. Musa tengah menghadapi Firaun, seorang penguasa zalim yang memiliki segala. Siti Maryam, yang dalam situasi lemah, harus mempertahankan hidupnya.

Kisah Nabi Musa as. yang memukul lautan dengan tongkat diceritakan dalam QS asy-Syu‘ara ayat 63. Secara rasional, tongkat tidak mungkin membelah laut. Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan Musa melakukan hal itu. Hasilnya, laut terbelah, menjadi jalan keselamatan bagi dirinya dan para pengikutnya, dan sekaligus jalan kebinasaan bagi Firaun dan bala tentaranya.

Begitu juga dengan Siti Maryam. Kisah Maryam menggoyangkan pohon kurma diceritakan dalam QS Maryam ayat 25. Dalam kondisi lemah setelah melahirkan, secara logika, menggoyangkan pohon kurma besar hampir mustahil dilakukan. Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan hal itu. Hasilnya, rutab, kurma matang, jatuh sebagai makanan bagi dirinya.

Untuk membelah lautan atau menjatuhkan kurma, Allah jelas tidak membutuhkan tongkat Musa atau goyangan Maryam. Akan tetapi, Allah menginginkan Musa dan Maryam untuk bertindak. Bukan diam. Pasif. Ibn al-Qayyim menjelaskan, meninggalkan ikhtiar adalah sebuah kekeliruan, tetapi bergantung semata pada pada ikhtiar seakan pangkal keberhasilan adalah syirik khafi. Yang benar, berikhtiarlah dengan optimal, dengan hati tetap bergantung kepada Allah. Kepada Musa dan Maryam, Allah “mengajari” untuk jangan menunggu mukjizat tanpa usaha. Akan tetapi, juga jangan menganggap usaha sebagai segalanya.

Dari Musa dan Siti Maryam kita mendapat pelajaran penting. Lakukanlah apa yang diperintahkan meskipun tampak kecil atau tidak rasional. Hasil bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh kehendak Allah. Belajar bukan jaminan lulus. Apalagi jika tidak belajar. Doa tanpa usaha keliru. Usaha tanpa tawakal juga keliru. Kisah Musa dan Maryam bukanlah kisah tentang keajaiban, tetapi tentang disiplin spiritual dalam mengambil sebab, disertai ketundukan total pada perintah Allah dan keyakinan akan kekuasaan-Nya.

Bagi Musa, memukul laut adalah perintah saat kondisi buntu total. Di depannya, ada laut yang amat dalam. Di belakangnya, Fir’aun dan bala tentaranya makin mendekat. Dengan tongkat itu, Musa membelah lautan. Akan tetapi, tongkat itu bukanlah penyebab hakiki. Allahlah Yang menjadikan tongkat itu ‘terlihat bekerja’. Padahal hakikatnya, Allah langsung yang menciptakan hasilnya.

Kisah Musa dan Siti Maryam, menurut Al-Qurtubi, adalah dalil, bahwa orang yang paling lemah sekalipun tetap diperintahkan berusaha. Jika Allah mau, kurma bisa jatuh tanpa digoyang oleh Maryam, dan laut terbelah tanpa pukulan tongkat Musa. Akan tetapi, Allah ingin mengajarkan adab ikhtiar. Seandainya tawakal cukup tanpa usaha, niscaya Maryam tidak diperintah untuk menggoyang pohon, dan Musa tidak akan diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke lautan.

Di titik itu, Allah ingin menghancurkan dua ekstrem: fatalisme dan materialisme. Fatalisme membawa orang tak mau berusaha. Materialisme mengingkari kuasa Allah dan mendewakan ikhtiar. Perintah kepada Musa untuk memukulkan tongkat dan kepada Siti Maryam untuk menggoyang pohon kurma “tidaklah rasional”. Apa hubungan posisi kritis Musa yang saat itu dalam kejaran Fir’aun dengan perintah memukulkan tongkat, juga posisi kritis Siti Maryam yang tengah memerlukan asupan makanan dengan perintah menggoyangkan pohon kurma?

Inilah yang dikatakan Nabi saw. dalam hadis riwayat Ahmad, bahwa seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan memberi rezeki seperti burung yang terbang meninggalkan sarangnya, kemudian pulang membawa makanan. Perhatikan, burung tidak tinggal diam di sarang. Ia tetap “keluar’. Ikhtiar. Sama seperti Musa dan Maryam. Keduanya tetap “bergerak” untuk melakukan ikhtiar dengan keyakinan penuh kepada kekuasaan Allah meski dalam keadaan yang nyaris mustahil sekalipun.

++++

Dalam dakwah, utopis adalah kata yang mesti dijauhkan, setampak mustahil apapun cita-cita yang dicanangkan. Apalagi jika cita-cita itu—tegaknya kembali kehidupan Islam yang di dalamnya diterapkan syariah secara kâffah—adalah sebuah kewajiban yang memang harus dicapai.

Dalam analisis actor vs structure, ikhtiar Musa dan Maryam, juga para pengemban dakwah dalam mewujudkan cita-cita, adalah agensi atau actor. Struktur tertinggi tetaplah kuasa Allah. Sebagai agensi, pengemban dakwah harus berdakwah mengikuti tharîqah dakwah Rasulullah saw.; dengan strategi yang baik, materi yang mantap, argumen yang menggugah akal, menyentuh perasaan dan menggetarkan jiwa; disertai pemanfaatan secara optimal media yang ada oleh jaringan kader yang solid.

Dalam analisis rational vs non-rational action, menurut pikiran sekuler, tindakan harus rasional. Adapun dalam ajaran Islam, hasil ketaatan kadang malah bisa melampaui batas rasionalitas. Dalam crisis decision-making seperti yang dialami oleh Musa, juga dalam kegiatan dakwah, saat semua opsi terlihat tertutup, tetap ada “instruksi Ilahi”, yang ternyata malah membuka peluang hasil luar biasa. Jika diformulasikan, ikhtiar itu ibadah, hasil itu murni kehendak Allah.

Maka dari itu, meski probabilitas tampak seperti nol, teruslah melangkah. Tak boleh berhenti. Para pengemban dakwah harus tetap terus bergiat. Persis seperti Musa. Tetap memukul laut. Maryam tetap menggoyang pohon. Dalam teori realisme, kekuatan adalah segalanya. Akan tetapi, dalam perspektif tauhid, kekuatan hanyalah “asbâb”, bukan penentu. Coba, berapa persen peran pukulan tongkat Musa dalam terbelahnya lautan, atau goyangan Maryam dalam jatuhnya kurma? Hampir nol, tetapi tidak benar-benar nol. Dalam teori Barat, keputusan diambil berbasis probabilitas. Dalam Islam, ada layer tambahan: iman kepada qadhâ’ Allah. Di situ nashrulLâh (pertolongan Allah) ada.

Oleh karena itu, dalam dakwah tidak boleh over confidence (terlalu percaya) pada seluruh ikhtiar, tetapi juga tidak boleh bersikap fatalistik, pasrah tanpa strategi. Musa tetap bergerak walau dalam keadaan yang tampak “mustahil”. Maryam tetap juga berusaha walau dalam keadaan yang amat lemah. Seorang pengemban dakwah yang baik akan mengambil keputusan dengan menggunakan seluruh resource atau sumber yang ada, dengan tetap menyadari bahwa outcome beyond control. Hasil tak sepenuhnya dalam kendali. Itu bukanlah utopia! [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + nineteen =

Check Also
Close
Back to top button