Nisa

Jeritan Keluarga Muslim di Tengah Perang Iran

Dunia kembali menyaksikan keangkuhan dan kebiadaban imperialis Amerika Serikat (AS). Serangan berskala besar dilancarkan oleh AS bersama entitas zionis atas Iran. Ini menambah bukti kejahatan dan permusuhan mendalam mereka terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Amerika dengan agenda Kapitalisme global tidak peduli dengan nasib perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang yang mereka rancang. Serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, pada Maret 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 165 hingga 175 orang. Mayoritas korbannya adalah anak-anak sekolah.

Berdasarkan laporan IFRC (Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional), dalam waktu kurang dari sebulan, lebih dari 2.000 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dan setidaknya 21.000 orang terluka. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sekitar 3 persen dari populasi Iran yang berjumlah sekitar 92 juta jiwa kini menjadi pengungsi internal. Juga terdapat 82.417 unit sipil yang terdampak. Rincian tersebut mencakup 62.440 rumah tinggal serta 19.187 bangunan komersial yang tersebar di berbagai wilayah Iran.

Provinsi Teheran menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan paling signifikan. Di wilayah ibukota saja, sebanyak 25.280 unit rumah dan bangunan komersial dilaporkan telah hancur atau rusak akibat rangkaian serangan udara tersebut. Tercatat sebanyak 281 fasilitas medis, termasuk apotek dan unit gawat darurat, terkena dampak serangan. Kerusakan juga melanda 481 sekolah serta 17 pusat operasional IFRC.

Serangan ini telah mengubah lanskap sosial-kemanusiaan Iran serta menciptakan luka kolektif yang mendalam bagi masyarakat setempat. Organisasi hak asasi manusia internasional telah menyuarakan kekhawatiran serius mengenai proporsionalitas dari operasi militer tersebut dan dampak jangka panjangnya terhadap populasi sipil yang tidak berdosa.

Bukan hanya Iran. Lebanon juga menjadi target operasi militer. Otoritas Lebanon menyebut 1.368 orang tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret, termasuk sedikitnya 124 anak-anak.

 

Keluarga Muslim Global Juga Menjadi Korban

Perang ini juga memberikan pengaruh bagi keluarga Muslim di seluruh dunia, terutama bidang ekonomi. Perang yang memicu ketegangan geopolitik telah menjadikan dunia mengalami krisis energi. Terjadinya kenaikan harga barang karena krisis energi sangat erat kaitannya dengan kebutuhan bahan bakar rumah tangga dan industri, termasuk transportasi dan distribusi. Akibatnya, memunculkan inflasi. Begitu juga bagi negeri kaum Muslim yang mengandalkan impor dalam memenuhi kebutuhan pangannya akan merasakan kenaikan harga. Kondisi ini akan melemahkan daya beli keluarga dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan.

 

Katalisator Kesadaran Politik Keluarga Muslim

Di sisi lain, perang ini telah menjadi katalisator yang signifikan dalam membuka kesadaran politik strategis umat Islam di tingkat global. Konflik ini tidak lagi hanya dipandang sebagai perseteruan regional, melainkan benturan kepentingan geopolitik dan ideologis yang mendalam.

Perang ini mendorong seruan untuk menyatukan visi strategis umat Islam atas dasar aqidah Islam di atas kepentingan mazhab atau sektarian. Perang narasi di antara Iran dan AS di dunia digital telah membuka perbincangan baru di tengah umat Islam. Jika saat Perang Iran-Irak tahun 1980-an atau Perang Irak tahun 2000an opini media mengerucut pada kekuatan AS sebagai negara adidaya yang tak terkalahkan. Sekarang, perlawanan Iran telah membongkar kelemahan dan kebohongan AS. Komentar netizen di Dunia Islam mayoritas mendoakan kemenangan bagi Iran atas dasar ukhuwah Islam dan semangat jihad.

AS tampak plin-plan menghadapi strategi Iran. Kondisi ini menjadi perbincangan keluarga Muslim: jika menghadapi satu negara Iran saja AS sudah kewalahan, apalagi jika semua negeri Muslim bersatu untuk melawan AS.

Kondisi dalam negeri AS juga dipenuhi protes rakyatnya sendiri. Aksi “No Kings” telah menggerakkan 8 juta warga untuk menentang kebijakan Trump terhadap perang ini.

Dari narasi dan respon umat Islam global atas perang ini, ada beberapa poin penting yang bisa dijadikan bahan renungan dan diskusi bagi keluarga Muslim. Di antaranya:

 

  1. . Kesadaran untuk mengembalikan persatuan umat.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyerukan, “Ini bukan saatnya untuk mempertentangkan perbedaan di antara kita.” Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan, seperti antara Sunni dan Syiah, maupun latar belakang etnis seperti Arab dan Persia. Menurutnya, seluruh Muslim memiliki landasan persatuan yang kuat, yakni al-Quran sebagai kitab suci dan Ka’bah sebagai kiblat.

Kekuatan Amerika dengan Kapitalisme globalnya hanya bisa dikalahkan dan dihentikan jika umat ini kuat. Modal bagi umat Islam agar kuat adalah dengan persatuan politik atas dasar aqidah Islam. Persatuan politik umat Islam hanya akan bisa diwujudkan dengan diangkatnya seorang khalifah yang akan memobilisasi seluruh tentara kaum Muslim baik di Timur Tengah maupun kawasan lainnya untuk berjihad melawan AS dan Israel.

 

  1. Pentingnya Kemandirian Ekonomi dan Militer.

Liberalisasi perdagangan yang dipaksakan kapitalisme global pasca Perang Dunia 2 terhadap dunia, mengakibatkan ekonomi saling bergantung terhadap rantai pasokan global. Keluarga akhirnya harus mengandalkan pemenuhan kebutuhan strategis seperti pangan dan energi melalui mekanisme ekspor impor. Dunia Islam menjadi mudah untuk ditekan secara ekonomi mauoun politik. Jika suatu wilayah terjadi perang apalagi di kawasan strategis jalur distribusi dunia, semua negara akan kewalahan seperti sekarang.

Kondisi ini menjadi momentum negeri Muslim untuk membangun kemandirian ekonomi mulai dari pangan, energi dan industri termasuk industri militer. Pertarungan senjata Iran dan AS-Israel telah memberikan semangat baru bagi generasi muda Muslim akan pentingnya umat Islam memiliki senjata canggih dan mandiri intuk menantang negara adidaya.

Kemandirian ekonomi hanya bisa diwujudkan jika negara menerapkan politik ekonomi Islam. Maka dari itu umat ini butuh negara yang menjadikan syariah sebagai basis politik ekonominya. Begitu juga kemandirian militer harus lahir dari negara yang menjadikan jihad sebagai politik luar negerinya. Sejarah membuktikan negara yang mampu melakukan itu hanyalah sistem Khilafah. Bukan yang lain.

 

  1. Semangat Perlawanan Generasi Muda terhadap Hegemoni Kapitalisme

Keberanian Iran untuk melawan AS-Israel memicu kekaguman bagi generasi muda Muslim. Kondisi ini terjadi karena yang mereka indera selama ini, pemimpin Dunia Islam selalu tunduk dengan kepentingan AS. Apalagi dengan sikap politik penguasa terhadap Genosida Gaza selalu mengikuti desain AS, padahal sudah nyata penjajahan Israel. Generasi hari ini merindukan pemimpin yang cerdas, peduli terhadap nasib umat serta berani menantang penjajahan dan kemunafikan tata dunia hari ini. Kita merindukan pemimpin yang serius memobilisasi tentara untuk membebaskan Palestina.

 

Keluarga Muslim Pabrik Generasi Pemimpin Harapan Umat

Dinamika situasi politik global saat ini menjadi peluang umat Islam untuk menawarkan bahwa Islam mampu memberikan tatanan kehidupan, tatanan bernegara, tatanan peradaban, tatanan hubungan internasional bahkan bagaimana membangun generasi untuk mewujudkannya. Respon umat dan generasi muda adalah sinyal bahwa umat Islam harus siap menjadi pemain bukan sekadar jadi penonton. Meskipun Amerika saat ini sudah lemah, tetapi masih memiliki jangkar pada sistem ideologinya. Oleh karena itu umat Islam harus menyiapkan jangkar perjuangannya.

Keluarga Muslim adsalah ekosistem yang mewariskan pemikiran dan nilai-nilai Islam antar generasi. Ia harus mampu menjalankan peran strategisnya sebagai pabrik generasi melahirkan peradaban Islam yang agung. Hal mendasar yang harus disiapkan keluarga, di antaranya:

  1. Keluarga harus mampu menanamkan pada generasi kekuatan konsep dan nilai Islam (fikrah), termasuk kekuatan mengoperasionalkan fikrah untuk mengubah dunia. Dengan itu generasi muda memahami bahwa Islam memiliki format dalam panggung internasional.
  2. Keluarga harus menyiapkan diri untuk panggilan jihad, panggilan dakwah dan panggilan untuk mengubah dunia karena identitas umat Islam adalah umat terbaik. Dengan itu setiap anggota keluarga harus bekerja sama berikhtiar untuk memiliki kapasitas itu.
  3. Keluarga harus menempa fondasi yang kuat berupa keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Termasuk memiliki pandangan yang mendunia (nazhrah ilâ al-‘aalam) dan punya pandangan yang khas (zaawiyat[un]-khâshat[un]) dengan standar yang berbeda dengan Barat. Islam punya standar khas tentang halal-haram, baik-buruk, terpuji-tercela. Itulah panduan menilai masalah-masalah dunia dan mengatur tatanan dunia. Ini menjadi tantangan bagi para ibu, para politisi, para ulama, para pejuang agar bisa membumikan al-Quran dengan sudut pandang yang khas dan global.
  4. Keluarga harus memahami bahwa Islam tidak hanya diterapkan dalam skala lokal atau fikih saja, tetapi Islam mempunyai kapasitas politik untuk menyelesaikan masalah umat manusia yang ditindas kapitalisme global.

 

Ketika keluarga membangun perubahan dan bergerak dimulai dari dasar ini, seperti tsunami karena lempeng bumi yang bergerak dari dasar, maka akan melahirkan kekuatan yang akan menyapu seluruh tatanan dunia zalim hari ini. Insya Allah. Dengan itu harapan dan kerinduan keluarga Muslim akan kebangkitan Islam akan menjadi kenyataan. AlLâhu Akbar!

 

WalLâhu a’lam. [Zikra Asril]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 19 =

Back to top button