
Saat Manusia Bangkit Dari Kubur (Lanjutan)
Dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika malaikat) penyeru memanggil dari tempat yang dekat! (41). Pada hari itulah mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenar-benarnya. Itulah hari (ketika manusia) keluar (dari kubur) (42).(QS Qaff [50]: 41-42).
Dalam ayat sebelumnya Allah SWT mengabarkan tentang peristiwa pada Hari Kiamat. Disebutkan bahwa pada hari itu terdengar suara penyeru (malaikat) menyeru dari suatu tempat. Ketika itulah manusia mendengar suara dahsyat. Ditegaskan bahwa itulah hari saat manusia keluar dari kubur.
Ayat ini kemudian memberikan bukti kekuasaan Allah SWT: Dia berkuasa menghidupkan dan mematikan manusia. Manusia dulunya tidak ada, lalu diciptakan dan dihidupkan Allah SWT. Kemudian mereka dimatikan oleh Allah SWT. Lalu apa sulitnya bagi Allah SWT untuk menghidupkan kembali seperti sediakala?
Tafsir Ayat
Ditegaskan dalam firman-Nya:
Sungguh, Kami yang menghidupkan dan mematikan.
Ayat ini diawali dengan kata « إِنَّا » (Sungguh, Kami). Asal kata tersebut adalah « إِنَّنَا », lalu salah satu huruf nun dibuang karena memberatkan ketika dua huruf yang sama bertemu. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa huruf yang dibuang adalah nun yang di tengah.1 Kata inna (sesungguhnya) memberikan penegasan bahwa berita yang akan disampaikan sesudahnya benar-benar terjadi.
Menurut Fakhruddin ar-Razi, kedudukan kata « نَحْنُ » (Kami) dalam ayat ini sebagaimana dalam firman Allah SWT:
Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pula) Yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka (tinggalkan) (QS Yasin [36]: 12).
Dalam ayat tersebut, firman-Nya: « ِنَّا نَحْنُ », terdapat dua pendapat. Pertama: Kalimat tersebut adalah mubtada‘ (subjek) dan khabar (predikat). Kalimat ini seperti halnya perkataan seseorang: « أَنَا أَبُو النَّجْمِ وَشِعْرِي شِعْرِي » (Aku adalah Abu al-Najm dan syairku adalah syairku). Ungkapan seperti ini biasa diucapkan seseorang yang sudah sangat terkenal. Sebabnya, orang yang belum dikenal biasanya ketika ditanya: « مَنْ أَنْتَ؟ » (Siapa engkau?) akan menjawab: « أَنَا ابْنُ فُلَانٍ » (Aku anak si Fulan) sehingga ia dikenali melalui nasabnya.
Adapun orang yang sudah terkenal, jika ditanya: « مَنْ أَنْتَ » (siapa engkau?), ia cukup menjawab, « أَنَا » (aku), yang berarti: “Tidak ada penjelas bagi diriku yang lebih jelas daripada diriku sendiri.”
Dengan demikian, makna firman Allah SWT: « ِنَّا نَحْنُ » (Sesungguhnya Kami adalah Kami). Artinya: Kami telah dikenal dengan sifat-sifat kesempurnaan. Jika Kami diperkenalkan melalui diri Kami sendiri maka janganlah kamu mengingkari kekuasaan Kami untuk menghidupkan orang-orang yang mati.
Kedua: Yang menjadi khabar (predikatnya) adalah kata « نُحْيِ » (Kami menghidupkan), seolah-olah Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati.” Kata « نَحْنُ » (Kami) berfungsi sebagai penguat (ta’kid).
Menurut Fakhruddin ar-Razi, pendapat pertama lebih tepat.2
Dijelaskan juga oleh Fakhruddin, firman Allah SWT: « إِنَّا نَحْنُ » (Sesungguhnya kami) mengandung isyarat pada tauhid. Hal ini karena adanya al-isytirâk (persekutuan; kesamaan nama atau sifat pada makhluk) menuntut adanya pembeda dengan menggunakan hal lain selain diri sendiri. Sebagai contoh, jika Zaid memiliki kesamaan nama dengan orang lain, lalu ia berkata: “Aku adalah Zaid,” maka perkenalan tersebut belum menghasilkan kejelasan yang sempurna. Sebabnya, orang yang mendengar pasti akan bertanya, “Zaid yang mana?” Lalu ia akan menjawab, ‘Anak Amr.” Bahkan jika di tempat itu ada Zaid lain yang ayahnya juga bernama Amr, maka ucapannya “anak Amr” pun belumlah cukup (untuk membedakannya).
Maka dari itu, ketika Allah berfirman: « إِنَّا نَحْنُ » (Sesungguhnya Kami adalah Kami), maka bermakna: “Tidak ada seorang pun selain Kami yang menyekutui (menyamai) Kami,” hingga Kami harus mengatakan: “Sesungguhnya Kami adalah begini atau begitu” agar Kami tampak berbeda (dari yang lain).
Dengan demikian, (pada rangkaian ayat tersebut) tiga prinsip pokok agama telah disebutkan semuanya, yaitu: risalah, tauhid dan Hari Kebangkitan.3
Adapun firman Allah SWT: « نُحْيِي وَنُمِيتُ » (Kami menghidupkan dan Kami mematikan), menurut al-Baidhawi, bahwa hal itu terjadi di dunia.4 Artinya, Allah SWT menghidupkan dan mematikan manusia di dunia. Hal yang sama juga dikatakan oleh Abu as-Su’ud dan Syihabuddin al-Alusi. Keduanya pun menegaskan, “Tanpa ada seorang pun yang menyekutui Kami dalam urusan tersebut.”5
Menurut as-Samarqandi, ayat ini bermakna: “Kami menghidupkan di akhirat dan Kami mematikan makhluk yang hidup di dunia.”6
Wahbah az-Zuhaili menggabungkan penafsiran-penafsiran tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya Kami, Kamilah yang menghidupkan di dunia dan akhirat, dan Kami yang mematikan di dunia ketika ajal telah habis. Tidak ada satu sekutu pun yang andil bersama Kami dalam urusan itu.”7
Dengan demikian, ayat ini memastikan bahwa Allah SWT benar-benar menghidupkan dan mematikan. Jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka berita tersebut berguna untuk menghapus keraguan tentang kepastian Hari Kiamat. Sebagaimana Allah SWT berkuasa menghidupkan dan mematikan manusia, perkara yang dapat disaksikan siapa pun, Dia juga berkuasa untuk menghidupkan kembali manusia setelah kematian mereka.
Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengembalikan ciptan-Nya kembali sebagaimana penciptaan pada permulân. Tentulah itu lebih mudah bagi Dia.”8
Kemudian Alah SWT berfirman:
…kepada Kami tempat kembali.
Penyebutan kata « إِلَيْنَا » (kepada Kami) di depan dalam ungkapan « وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ » (kepada Kamilah tempat kembali) bertujuan li al-ihtimâm (untuk menunjukkan perhatian [penekanan]).
Adapun alif-lam pada kata « الْمَصِيرُ » (tempat kembali) ada dua kemungkinan. Bisa jadi ta’rîf al-‘ahd, yakni menunjuk pada tempat kembali yang sedang dibicarakan, yaitu kematian. Sebabnya, tempat kembali setelah kematian adalah pada keputusan (hukum) Allah.
Bisa juga ta’rîf al-jins sehingga mencakup segala sesuatu akan kembali pada apa yang telah Kami takdirkan. Yang paling utama dari hal tersebut adalah hukum kefanaan (kematian) yang telah ditetapkan bagi seluruh makhluk hidup.9
Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Kepada-Nya kembali semua makhluk, lalu Dia akan membalas tiap-tiap makhluk sesuai dengan amal perbuatannya. Jika amalnya baik. maka balasannya baik. Jika amal perbuatan buruk, maka balasannya buruk pula.”10
Kemudian Allah SWT berfirman:
Itulah hari (ketika) bumi terbelah, mereka keluar dengan cepat.
Kata « يَوْمَ » (hari) berkedudukan sebagai zharf az-zamân (keterangan waktu) yang berbuhungan dengan kata dalam ayat sebelumnya: « الْمَصِيرُ » (tempat kembali).11
Dalam membaca kata « تشقق », terdapat perbedaan qirâ’ah. Nafi’, Ibnu Katsir, Ibnu Amir, Abu Ja’far dan Ya’qub membaca « تَشَّقَّقُ » dengan huruf al-tâ‘ yang di-fathah dan asy-syîn yang di-tasydîd. Asal katanya adalah « تَتَشَقَّقُ » dengan dua huruf al-tâ‘, kemudian at-tâ‘ yang kedua di-idgham-kan ke dalam huruf al-syîn setelah mengubahnya menjadi syin karena kedekatan tempat keluarnya (makhraj) huruf tersebut.
Adapun Abu ‘Amr, ‘Ashim, Hamzah, dan al-Kisa’i membaca lafal tersebut dengan « تَشَقَّقُ » dengan as-syîn yang ringan (tanpa tasydid), berdasarkan kaidah penghapusan at-tâ` pada wazan « التَّفَعُّلِ » karena dirasa berat jika harus mengumpulkan dua huruf at-tâ`. Keduanya adalah bacaan yang mutawâtir dan shahih.12
Secara bahasa, kata kata « تَشَقَّقُ » berasal dari « شَقَّ ، يَشُقّ ، شقًّا » mengandung beberapa makna. Di antaranya adalah membelah. Dalam kalimat: « شقّ الشَّيءَ » bermakna « صدعه وأحدث به شرْخًا أو فلقًا، أو خرقًا، أو ثقبًا نافذًا » (membelahnya, menimbulkan retakan, belahan, robekan, atau lubang tembus padanya).13
Makna ini pula yang terdapat dalam ayat ini. Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, makna firman-Nya: « تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ » adalah « تصَدَّعُ الأرضُ عنهم » (bumi terbelah bagi mereka).14
Menurut al-Biqa’i, penggunaan bentuk fi’l al-muthâwa’ah (kata kerja yang menunjukkan dampak atau hasil perbuatan yang dikerjakan) karena tuntutan keadaan. Penghilangan tâ‘ al-muthâwa’ah memberikan isyarat bahwa peristiwa bumi terbelah terjadi dengan sangat mudah dan cepat atas kehendak Allah.
Adapun frasa « عَنْهُمْ » (dari mereka) maksudnya: Bumi terbelah dan menjauh dari mereka, setelah sebelumnya mereka berada di dalam perut bumi. Lalu mereka keluar daribumi itu dalam keadaan hidup, sebagaimana dulu mereka hidup di atas permukaannya.15
Adapun « سِرَاعًا » merupakan bentuk jamak dari kata « سريع » (yang cepat). Kata « السُّرْعَة » (kecepatan) adalah lawan dari « الْبُطْءِ » (kelambatan). Istilah ini digunakan baik untuk benda maupun perbuatan.16
Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, kata « سِرَاعًا » di sini berkedudukan sebagai al-hâl (keterangan keadaan) dari kata ganti al-hâ‘ dan al-mîm pada « عَنْهُمْ ». Maknanya: « يومَ تَشَقَّقُ الأرضُ عنهم، فيخرجون منها سِراعًا » (Itulah hari ketika bumi terbelah dari mereka, lalu mereka keluar dari dalamnya dengan cepat). Makna tersebut sudah cukup dengan penunjukan firman-Nya: « يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ » (Itulah hari ketika bumi terbelah dari mereka) tanpa menyebutkan (kata ‘keluar’) secara eksplisit.17
Dengan demikian, pada hari manusia keluar dari kuburnya itu bumi terbelah dan manusia akan keluar dengan sangat cepat. As-Sam’ani mengatakan bahwa maknanya adalah: “Sesungguhnya ketika mereka mendengar suara sangkakala, bumi akan terbelah dari mereka, dan mereka keluar tanpa penundaan dan tanpa jeda waktu.”18
Menurut Ibnu Katsir, hal itu terjadi setelah Allah SWT menurunkan hujan dari langit yang karenanya semua tubuh makhluk bangun dari kuburnya masing-masing. Ini seperti tumbuhnya bebijian dari dalam tanah karena disirami air. Ketika semua jasad telah sempurna, maka Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala, lalu ia meniup sangkakala. Pada saat itu, semua ruh tersimpan pada tiap-tiap lubang yang ada di dalamnya.
Manakala Malaikat Israfil meniup sangkakala itu, maka keluarlah semua ruh yang berhamburan di antara langit dan bumi. Lalu Allah SWT berfirman: ”Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, setiap ruh benar-benar harus kembali ke tubuh yang pernah dihuninya.” Lalu kembalilah setiap ruh kepada tubuhnya masing-masing dan merasuk ke dalamnya seperti halnya racun yang menyebar pada tubuh manusia yang dipatuknya. Bumi pun terbelah mengeluarkan mereka. Lalu mereka bangkit menuju tempat hisab dengan cepat dan bersegera menghadap kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ”Ini adalah hari yang berat.” (QS al-Qamar [54]: 8).
Disebutkan juga dalam firman Allah SWT:
Itulah hari saat Dia memanggil kalian. Lalu kalian mematuhi Dia sambil memuji Dia dan kalian mengira bahwa kalian tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja (QS al-Isra’ [17]: 52).19
Dalam hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. pernah bersabda:
Aku adalah pemimpin anak Adam, orang yang pertama kali keluar dari perut bumi (dibangkitkan) dan orang yang pertama kali memberikan syafaat dan mendapat izin untuk memberikan syafaat (HR Abu Dawud).
Kemudian Allah SWT berfirman:
Yang demikian adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.
Ism al-isyârah, kata « ذَلِكَ » dalam ayat ini menunjuk kepada « الإخراج العظيم » (pengeluaran yang sangat agung).20 Bisa juga menujuk pada « التَّشَقُّقِ عَنْهُمْ » (peristiwa bumi terbelah dari atas mereka). Bisa juga menunjuk pada « الْإِخْرَاجِ » (dikeluarkannya mereka dari kubur) yang dipahami dari firman-Nya « سِرَاعًا » (dengan cepat). Kemungkinan lainnya, maknanya adalah: « ذَلِكَ الْحَشْرُ حَشْرٌ يَسِيرٌ » (pengumpulan itu adalah pengumpulan yang mudah). Alasannya, makna hasyr (pengumpulan) telah diketahui dari ungkapan-ungkapan yang telah disebutkan sebelumnya.21
Adapun firman-Nya: « عَلَيْنا يَسِيرٌ » (bagi Kami sangat mudah), al-jarr wa al-majrûr, yakni: « عَلَيْنا » didahulukan atas ‘âmil-nya, yakni: « يَسِيرٌ » (mudah) bertujuan untuk memberikan makna pengkhususan kemudahan itu bagi Allah SWT. Sebabnya, hal itu tidaklah mudah kecuali bagi Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa dengan Zat-Nya sendiri, yang tidak disibukkan oleh satu urusan dari urusan lainnya, sebagaimana firman Allah:
Tidaklah menciptakan dan membangkitkan kalian (melainkan) hanyalah seperti mudahnya menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (QS Luqman [31: 28).
Ayat ini mengabarkan bahwa menghimpunkan semua makhluk itu setelah menghidupkan mereka kembali merupakan sesuatu yang amat mudah bagi Allah SWT.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Catatan kaki:
- Lihat: al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, 30 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1991), 431
- al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 26 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 258
- al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 26 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 258
- al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiyy, 1998), 226.
- Abu al-Su’ud, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm Ilâ Mazâ al-Kitâb al-Karîm, 8 (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabiyy, tt), 135; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 13 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994), 344
- al-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, 3, 340
- al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, 26 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1991), 317
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 411
- Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 331
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 411
- Majm’ah al-Muallifin, al-Jadwâl fî I’râb al-Qur‘ân, 26, 332
- Lihat: Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 332-333; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, vol. 17 (Kairo: Dar al-Maktabah al-Mishriyyah, 1964), 27;
- Lihat: Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, 2 (Beirut: ‘Alam al-Kitab, 2008), 1222
- al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22 Kiro: Dar al-Hijrah, 2001), 476
- al-Biqa’, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa al-Suwar, 14 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, 1084), 442
- al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 494
- al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22 Kiro: Dar al-Hijrah, 2001), 476-477
- al-Sam’ani, Tafsîr al-Qur‘ân, 5 (Riyadh: Dar al-Wathan, 1997), 248
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 411
- al-Biqa’, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa al-Suwar, 14 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, 1084), 442
- al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 26 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 258

