
Ma’iyyatullâh
“Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita” (QS at-Taubah [9]: 40).
++++
Dari ayat al-Quran didapat istilah ma’iyyah. Ma’iyyatulLâh ( معية الله ) artinya kebersamaan (dengan) Allah. Tentu saja makna dari frasa “Allah bersama hamba-Nya” bukan berarti Allah bercampur atau berada di setiap tempat bersama hamba-Nya. Allah tentu tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Kebersamaan Allah dengan makluk-Nya, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madârij as-Sâlikîn, adalah dengan ilmu, pendengaran, penglihatan, kekuasaan, pertolongan, penjagaan dan pengawasan-Nya.
Ibnu Qayyim selanjutnya membagi ma’iyyatulLâh menjadi dua macam. Pertama: Ma’iyyah ’Âmmah (Kebersamaan Umum). Artinya, kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya tanpa kecuali, baik mereka beriman atau tidak, taat atau tidak. Demikian sebagaimana tersebut dalam ayat berikut:
Dia bersama kalian di mana saja kalian berada (QS al-Hadîd [57]: 4).
Ibnu Katsir menjelaskan makna ma’iyyatulLâh sebagai Râqib[un] ‘alaykum, Syâhid[un] ‘alâ a’mâlikum haytsu kuntum wa aynamâ kuntum (Allah mengawasi kalian dan menyaksikan seluruh amal kalian di mana pun kalian berada).” Oleh karena itu, siapapun sesungguhnya tidak pernah benar-benar sendiri. Ketika ia tampak sedang sendiri, sesungguhnya Allah menjadi yang kedua. Ketika berdua, Allah akan menjadi yang ketiga. Begitu seterusnya. Demikian sebagaimana disebut dalam QS al-Mujadilah ayat 7 (yang artinya): Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia adalah yang keempatnya. Tidak ada (pembicaraan) antara lima orang, melainkan Dia adalah yang keenamnya. Tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.
Dia (Allah) senantisa bersama mereka di mana pun mereka berada (QS al-Mujadilah [58]: 7).
Makna ayat ini, menurut Ibnu Katsir: Allah bersama mereka dengan ilmu-Nya; Dia mengetahui seluruh pembicaraan rahasia, dan amal mereka. Ibnu Taimiyah menyebut ini sebagai ayat ma’iyyah ’âmmah (kebersamaan umum), yaitu Allah bersama seluruh makhluk dengan ilmu, pendengaran, penglihatan dan pengawasan-Nya; sementara Allah tetap Mahatinggi di atas ’Arsy.
Kedua: Ma’iyyah Khâshshah (Kebersamaan Khusus). Maknanya adalah kebersamaan Allah dengan orang-orang yang memiliki kualifikasi khusus seperti bertakwa, sabar, selalu berbuat kebaikan dan lainnya. Kebersamaan itu dalam bentuk pertolongan, penjagaan, taufik, kemenangan dan kasih sayang-Nya. Ini sebagaimana, misalnya, disebut dalam ayat berikut:
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS al-Baqarah [2]: 153).
Contoh lain dalam ayat berikut:
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat kebaikan (QS an-Nahl [16]: 128).
Yang paling terkenal adalah dalam QS at-Taubah ayat 40. Ketika itu Nabi SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq berada di Gua Tsur dalam perjalanan hijrahnya menuju Makkah. Dinyatakan:
Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita (QS at-Taubah [9]: 40).
Meyakini ma’iyyatulLâh sangatlah penting. Ia akan sangat berpengaruh pada hidup seorang Muslim. Pertama: Memunculkan sikap murâqabah, yakni merasa selalu diawasi oleh Allah. Dengan itu seorang Muslim akan selalu berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan, terdorong untuk selalu taat kepada Allah dan tak ingin berbuat maksiat. Pasalnya, ia sadar bahwa Allah selalu mengawasi dirinya. Kedua: Melahirkan ketenangan hati, terhindar dari rasa cemas. Pasalnya, ia yakin Allah pasti akan selalu menolong hamba-Nya yang Dia bersamai. Ketiga: Melahirkan keberanian dalam kebenaran, sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Musa as. dan Nabi Muhammad saw. Keduanya tetap teguh di jalan perjuangan karena yakin pada perlindungan dan pertolongan Allah. Keempat: Memunculkan kesabaran dalam menghadapi ujian, seberat apapun ujian. Pasalnya, ia yakin bahwa pertolongan Allah menyertai orang-orang yang sabar. Demikian seperti yang dikatakan oleh Allah kepada Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. (Lihat: QS Thaha [20]: 46).
++++
Dari peristiwa yang dialami oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw. dan Sahabat setianya, Sayidina Abu Bakar ra., saat keduanya harus bersembunyi di Gua Tsur dalam hijrahnya dari Makkah ke Madinah, kita mendapatkan pelajaran yang amat berharga tentang bagaimana ma’iyyatulLâh itu bekerja. Allah bisa saja membuat orang-orang Quraisy tidak akan pernah menemukan Gua Tsur. Akan tetapi, mengapa Allah membiarkan mereka bisa terus membuntuti Nabi saw. hingga sampai ke mulut gua? Allah bisa juga membuat Rasulullah saw. dan Sayidina Abu Bakar ra. langsung tiba di Madinah dengan aman, tanpa perlu bersembunyi apalagi harus tinggal beberapa waktu di gua. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. harus bersembunyi di sebuah gua yang sempit. Orang-orang Quraisy terus mencari. Semakin dekat. Terus semakin dekat. Bahkan mereka sampai berdiri tepat di depan mulut gua. Menyadari hal itu, Abu Bakar pun berkata, “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya ia akan melihat kita.” Secara logika, tidak ada lagi tempat untuk lari.
Jika Allah memang ingin menyelamatkan Rasulullah, mengapa Allah membiarkan bahaya itu datang sedekat itu? Nyatalah, Allah sesungguhnya sedang mengajarkan, bahwa dekatnya bahaya bukan berarti jauhnya pertolongan Allah. Justru, pada saat itulah pertolongan-Nya paling nyata. Lalu Rasulullah saw. berkata kepada Abu Bakar ra., sebagaimana tersebut dalam QS at-Taubah ayat 40, “Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.” Nabi tidak mengatakan, “Masalahnya sudah selesai.” Tidak juga, “Mereka sudah pergi.” Akan tetapi, beliau mengatakan, “Allah bersama kita.”
Kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatulLâh) itulah yang paling penting. Hal itu sudah cukup. Mengapa? Karena jika Allah sudah bersama kita, dengan kebersamaan khusus atau ma’iyyah khâshshah, maka Allah pasti akan memberikan pertolongan, dukungan dan perlindungan. Begitulah yang dialami oleh Rasulullah saw. dan Sayidina Abu Bakar ra. Allah melindungi dan menolong mereka melalui tentara yang tak terlihat, yakni para malaikat, yang wujud fisiknya berupa sarang laba-laba dan burung merpati.
Begitulah hidup. Begitu juga perjuangan di jalan dakwah. Kadang ATHGR (ancaman, tantangan, hambatan, gangguan dan rintangan) tiba-tiba sudah datang begitu rupa di hadapan kita. Rasanya tak kuasa kita menahan semua itu saking besar dan beratnya. Andai itu terjadi, janganlah buru-buru kita menyimpulkan Allah telah meninggalkan kita. Bisa jadi, kita justru sedang berada di titik yang sama seperti saat Nabi saw. dan Abu Bakar ra. berada di Gua Tsur. Saat semua bahaya terlihat sangat dekat, pertolongan Allah, ternyata lebih dekat lagi.
Jadi, janganlah mengukur pertolongan Allah dari seberapa jauh masalah itu. Akan tetapi, nilailah, seberapa dekat kita kepada Allah, dan siapa yang bersama kita. Sebabnya, jika Allah bersama kita, tidak ada keadaan yang lebih baik dan lebih membuat kita kuat daripada pertolongan-Nya. Sering saat kita merasa semua hampir berakhir, di situlah Allah menunjukkan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Oleh karena itu, fokuskan diri kita bukan pada pertanyaan kapan pertolongan Allah akan tiba. Akan tetapi, fokuslah selalu pada usaha untuk membawa diri kita menjadi pribadi yang pantas untuk dibersamai oleh Allah secara khusus (ma’iyyah khâshshah). Itulah pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, lebih banyak berbuat kebaikan, lebih serius dalam berjuang dan seterusnya. Dengan begitu, pertolongan Allah (nashrulLâh), perlindungan Allah (hifdzulLâh), taufik dan keberkahan-Nya akan selalu kita dapatkan. Demikian sebagaimana dialami oleh para nabi dan rasul, para wali, para mujahid dan pejuang di sepanjang masa. Begitu juga mudah-mudahan pada kita saat ini. Insya Allah. [H.M. Ismail Yusanto]

