
Solusi Krisis Multidimensi
Krisis multidimensi yang melanda Indonesia saat ini semakin mengkhawatirkan. Setiap hari kita disuguhi dengan peristiwa-peristiwa yang mengerikan dan di luar nalar. Dari mulai tingkah pejabat yang melakukan korupsi berjamaah, kebijakan negara yang tak pro rakyat hingga hukum yang berlaku tebang pilih.
Mirisnya, semua itu terus terjadi dan intensitasnya semakin meningkat dari hari ke hari. Yang menjadi pertanyaan besar: Mengapa hal ini terus terjadi? Padahal pergantian pemimpin telah dilakukan setiap lima tahun sekali. Faktanya, hal itu tidak bisa memperbaiki keadaan. Malah semakin parah.
Banyak kalangan masyarakat dan para pakar berpendapat bahwa penyebab semua ini adalah karena sistem demokrasi tidak diterapkan dengan benar. Akan tetapi, sampai kapan kita bisa mencapai penerapan sistem demokrasi dengan benar? Faktanya, semakin hari sistem ini tidak bisa menjawab semua persoalan yang terjadi.
Sistem demokrasi yang terapkan saat ini malah menimbulkan aneka krisis; dari mulai krisis keadilan, krisis pelayanan hingga krisis kinerja. Jangan-jangan sistem demokrasi inilah biang kerok dari krisis multidimensi yang terjadi saat ini.
Jika kita mau jujur, sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, apakah benar sistem demokrasi ini berasal dari Islam?
Bukankah Allah SWT telah mengutus Rasulullah saw. untuk menyampaikan risalah berupa al-Quran yang di dalamnya termaktub aturan kehidupan bagi manusia. Lalu mengapa umat Islam di Indonesia tidak mengambil al-Quran sebagai pedoman kehidupan? Padahal kehidupan bernegara berdasarkan Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan Khulafaur-Rasyidin serta para Sahabat beliau.
Umat Islam saat ini seakan alergi dengan syariah dan khilafah. Padahal sejarah telah membuktikan penerapan syariah Islam di bawah sistem Khilafah mampu menyejahterakan rakyatnya hingga 13 abad lamanya.
Alangkah sombongnya jika menganggap hukum buatan manusia (demokrasi) lebih baik dari pada hukum Allah. Padahal manusia tidak memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengurusi kehidupan mereka yang begitu kompleks. Akal manusia pun tak memiliki kesanggupan untuk mengurai semua permasalahan. Bahkan untuk menyelesaikan permasalahan sendiri pun manusia tak memiliki kemampuan jika tak dibimbing oleh wahyu.
Sungguh nyata firman Allah SWT (yang artinya): Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).
Dalam ayat ini Allah SWT hendak memberikan pelajaran dengan memberikan dampak kerusakan bumi yang dilakukan oleh manusia sendiri akibat tidak menerapkan hukum Allah. Tidak lain agar manusia segera kembali pada Allah dengan menerapkan hukum-hukum-Nya.
WalLahu’alam bish-shawâb. [Emmy Emmalya; Pegiat Literasi Dakwah]





