Catatan Dakwah

Menjadi Komunis?

“Pergerakan kaum buruh bukan untuk mengganti satu tuan dengan tuan lain, tetapi untuk menghapus penindasan manusia atas manusia.”

++++

Di atas adalah salah satu quote atau kutipan pidato Semaun, Ketua Umum PKI pertama. Semaun atau Semaoen dalam ejaan lama, adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua). Dia memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda di sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, dia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk).

Mengapa dia, yang semula adalah aktifis SI (Sarikat Islam), kok malah jadi komunis, bahkan kemudian menjadi Ketua Umum PKI yang pertama di usia yang amat belia? Ini tak bisa dilepaskan dari pertemuannya dengan tokoh komunis internasional, Sneevliet, pada tahun 1915. Saat itu dia berusia 15 tahun. Ketika itu dia adalah anggota SI afdeeling Surabaya. Oleh Sneevliet, dia kemudian diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat buruh kereta api dan trem afdeeling Sura­baya. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, ditambah dekatnya hubungan dengan Sneevliet, membuat Semaoen dengan mudah bisa menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.

Setelah pindah ke Semarang, dia menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Meski muda, dia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Dia juga memi­liki kejelian dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.

Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen ingin mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar gerakan komunis di Hindia Belanda. Inilah yang kemudian membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Bukan mengendor, kekomunisan Semaun malah makin kencang. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Dia sendiri sebagai ketuanya.

PKI pada awalnya adalah bagian dari SI, tetapi itu tak lama. Akibat perbedaan paham yang sangat tajam, kedua kekuatan besar di SI itu akhirnya berpisah pada Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga, Semaun meninggalkan Indonesia. Dia pergi ke Moskow. Tan Malaka menggantikan dia sebagai ketua umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia kembali menjadi ketua umum PKI. Dia mencoba untuk meraih kembali pengaruhnya di SI, tetapi tidak berhasil. Itulah awal munculnya SI Merah, ya PKI itu, dengan SI Putih, SI yang asli.

Sepenggal cerita singkat di atas menunjukkan bahwa ketertarikan pemuda, khususnya pemuda Islam, pada Sosialisme, bahkan juga Komunisme, ternyata terjadi sudah cukup lama. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Di antara faktor yang paling menonjol adalah idealisme mereka dalam melawan ketidakadilan dan penindasan. Sosialisme dan Komunisme, sesuai janjinya, dianggap bisa mewujudkan masyarakat tanpa penindasan dan kesetaraan ekonomi. Bagi banyak anak muda, terutama yang melihat kemiskinan dan ketimpangan secara langsung, janji itu dirasakan sangat menarik.

Hal ini diperkuat oleh fakta, pada masa kolonial Hindia Belanda, banyak rakyat pribumi hidup miskin, buruh perkebunan dieksploitasi, tanah dikuasai kolonial Belanda, dan pendidikan terbatas. Dalam situasi seperti itu, ide-ide Karl Marx tentang perjuangan kelas terdengar relevan. Semaoen yang awalnya bergerak di serikat buruh kereta api juga melihat secara langsung bagaimana buruh diupah rendah, terjadi diskriminasi rasial dan kesewenangan kekuasaan kolonial Belanda.

Secara internasional, keberhasilan Revolusi Komunis di Rusia juga memberi pengaruh besar. Untuk pertama kali, kaum buruh dan tani berhasil menggulingkan kekaisaran. Banyak pemuda Asia lalu melihat Komunisme benar-benar sebagai gerakan radikal revolusioner, anti-imperialisme dan Kapitalisme Barat. Bagi anak-anak muda yang sedang mencari identitas, hal ini memberikan pengaruh kuat. Apalagi PKI juga memiliki organisasi pemuda, buruh, tani serta kelompok seni dan budaya sehingga mereka merasa menjadi bagian dari perjuangan besar. Marxisme, sebagai sebuah pemikiran, juga menarik karena tampak ilmiah dan mampu menjelaskan sejarah dan ekonomi. Banyak pemuda yang gemar membaca merasa menemukan “kunci memahami dunia” melalui teori kelas, kapitalisme dan imperialisme.

Sejarah itu sudah lama lewat. Akan tetapi, mengapa setiap kali terjadi ketimpangan ekstrem, pengangguran, mahalnya pendidikan, dominasi oligarki dan hegemoni Kapitalisme, ide Sosialisme kembali menarik sebagian anak-anak muda, seperti ini hari terjadi? Madilog-nya Tan Malaka kembali ramai dikaji, bahkan digandrungi. Film Pesta Babi, Kolonialisme Zaman Kita, mendapatkan sambutan luas. Ini ditunjukkan oleh tingginya viewer yang mencapai lebih dari 13 juta. Sesuai judulnya, ini tak lepas dari semangat melawan Kapitalisme–kolonialisme.

Padahal Islam juga mengajarkan keadilan sosial, anti-penindasan, juga mendorong kesejahteraan bersama. Dalam Islam juga ada zakat sebagai salah satu instrumen distribusi, larangan terhadap riba yang terbukti menjadi jalan eksploitasi ekonomi, kewajiban menolong fakir miskin dan kritik terhadap penumpukan kekayaan. Bahkan al-Quran berkali-kali mengecam penindasan dan keserakahan. Dalam sejarah Islam, tokoh seperti Abu Dzar al-Ghifari pun sering dijadikan simbol keadilan sosial dalam Islam. Pertanyaan besarnya: Mengapa sebagian pemuda Muslim ini hari tetap saja tertarik pada Sosialisme bahkan Komunisme? Bukan pada Islam?

Salah satu faktor pentingnya adalah Islam yang mereka lihat ini hari tidak tampil sebagai kekuatan pembebasan. Dalam beberapa episode sejarah, sebagian elit agama justru dianggap dekat dengan penguasa. Sebagian pesantren hanya fokus ibadah ritual. Struktur feodal juga kadang dibungkus dengan legitimasi agama. Sebaliknya, kaum kiri tampil turun ke buruh, mengorganisasi tani dan melawan kolonialisme secara terbuka. Bagi sebagian anak muda radikal, itu terlihat lebih “bergerak”. Padahal dalam waktu yang sama juga ada gerakan Islam anti-kolonial yang kuat, seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama. Juga tak sedikit ada tokoh Muslim seperti H.O.S. Tjokroaminoto, pendiri SI, yang tak kalah radikal dalam melawan kolonial Belanda. Kepada beliau Tan Malaka juga pernah belajar.

Pada masa sekarang, Hizbut Tahrir (HT) boleh disebut sebagai gerakan Islam yang sangat keras menentang Kapitalisme, tanpa harus larut pada Sosialisme. Bagi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, muassis HT, keduanya sama bu­ruknya. Masing-masing lahir dari rahim sekularisme dan materialisme. Jika menentang Kapitalisme harus dengan berpihak pada Sosialisme, ini sama saja seperti keluar dari mulut singa lalu masuk ke mulut buaya.

Bagi Syaikh Taqi, jelas ada perbedaan amat mendasar antara Islam dan Sosialisme, apalagi Komunisme. Islam berbasis tauhid dan syariah sebagai tolok ukur perbuatan. Islam mengakui hak milik pribadi, milik umum dan milik negara. Ajarannya bersumber dari wahyu. Dalam Islam, ibadah kepada Allah SWT merupakan misi utama kehidupan manusia demi meraih tujuan hasanah di dunia dan akhirat. Sebaliknya, Sosialisme-Komunisme berasaskan materialisme–ateisme. Ideologi ini sangat mengagungkan kolektivisme atau komunalisme. Moral dipandang sebagai hasil sejarah/material. Fokus utamanya pada struktur ekonomi dan politik untuk tujuan kesejahteraan material di dunia semata.

++++

Ketertarikan anak muda pada Sosialisme tidak bisa langsung dimaknai sebagai anti Islam. Banyak yang sebenarnya semata-mata didorong oleh rasa marah pada ketidakadilan, ingin membela rakyat kecil, kecewa pada sistem yang ada, ditambah—ini yang utama—ketidaktahuan mereka terhadap ajaran Islam terkait hal ini. Lalu mereka mencari jalan perubahan sosial yang menurut mereka paling efektif. Itulah Sosialisme-Komunisme.

Pada saat yang sama, sebagian anak muda kecewa ketika melihat Islam dipakai semata secara simbolik. Kesenjangan tetap tinggi di masyarakat relijius. Korupsi juga kerap dilakukan orang yang mengaku beragama, bahkan pengurus agama. Mereka juga melihat agama justru dipakai sebagai alat legitimasi kekuasaan menindas.

Di situlah pentingnya mendakwahkan Islam sebagai sistem hidup atau mabda’. Mabda’ (ideologi) adalah aqidah ‘aqliyyah yang memancarkan sistem pengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya dan dengan sesama manusia dalam seluruh aspek kehidupan (politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan lainnya). Dengan memahami mabda’ Islam secara utuh, para pemuda akan melihat Islam bukanlah agama dalam pengertian Barat, yang hanya mengatur individu dengan tuhannya. Mereka akan melihat bahwa Islam adalah juga sebuah sistem yang memberikan solusi yang benar atas berbagai persoalan kehidupan masyarakat, termasuk persoalan-persoalan yang menjadi keprihatinan mereka seperti kemiskinan dan penindasan.

Meski ide awalnya tentang keadilan, faktanya banyak rezim komunis justru kemudian menjadi penindas rakyatnya, melakukan represi politik, pembatasan kebebasan, kekerasan negara, termasuk gagal membangun kesejahteraan seperti yang dijanjikan. Itulah yang terjadi pada rezim komunis di Uni Soviet yang berujung pada bubarnya Uni Sovyet, juga Cambodian genocide yang memakan korban jutaan rakyatnya. Sementara itu, Cina yang mengaku komunis, sistem ekonominya malah kapitalis.

Dengan kesadaran itu, para pemuda akan tergerak berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kehidupan Islam yang di dalamnya diterapkan syariah secara kâffah. Dengan cara itu, kerahmatan Islam yang dijanjikan, berupa keadilan, kedamaian, kesejahteraan, ketenteraman dan kemajuan akan terwujud secara nyata. Untuk mewujudkan itu semua, tak perlu menjadi sosialis apalagi komunis. [H.M. Ismail Yusanto]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × four =

Check Also
Close
Back to top button