
Menjadi Pengagum Narendra Modi?
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku sebagai pengagum Perdana Menteri India Narendra Modi patut dipertanyakan. Prabowo menyampaikan perasaannya itu saat berpidato di hadapan diaspora India dalam acara Indian Community Reception yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa, 7 Juli 2026. Acara tersebut menjadi malam penutup rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi di Jakarta. Modi mengunjungi Indonesia selama tiga hari.
Narendra Modi adalah pemimpin partai nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP). Selama berkuasa, Narendra Modi dan BJP menjalankan politik Hindutva, yaitu nasionalisme Hindu. Politik ini kerap mendiskriminasi dan merugikan kaum Muslim, antara lain melalui pencabutan status khusus Kashmir, dukungan terhadap pengesahan Citizenship Amendment Act (CAA) yang diskriminatif terhadap Muslim, pembiaran atau kegagalan mencegah berbagai aksi kekerasan terhadap Muslim, serta mempercepat marginalisasi identitas Islam di India.
Human Rights Watch dalam laporannya menyebut beberapa pidato kampanye Modi pada Pemilu India 2024 sebagai hate speech atau ujaran kebencian terhadap kaum Muslim. Dalam salah satu kampanyenya, Modi mengatakan, “Mereka (pihak oposisi) akan memberikan seluruh kekayaan kalian kepada para penyusup (Muslim). Mereka akan menyerahkan rumah-rumah kalian kepada para penyusup. Saudara perempuan dan anak-anak perempuan kalian tidak akan aman.”
Istilah infiltrators (penyusup) merupakan istilah yang kerap digunakan Narendra Modi dan sejumlah politisi Bharatiya Janata Party untuk menunjuk kaum Muslim, khususnya imigran asal Bangladesh.
Modi juga mengatakan, “Mereka yang memiliki lebih banyak anak akan mendapatkan lebih banyak harta. Pada akhirnya, kekayaan negeri ini akan diberikan kepada mereka.”
Pernyataan tersebut secara luas dipandang sebagai upaya membangun narasi ketakutan bahwa pertumbuhan populasi Muslim akan mengubah komposisi demografi India dan menjadikan umat Hindu sebagai kelompok minoritas.
Selain Narendra Modi, sejumlah tokoh penting dari BJP dan kelompok nasionalis Hindu juga kerap melontarkan pernyataan yang memicu sentimen anti-Muslim. Ketua Menteri Uttar Pradesh, Yogi Adityanath, misalnya, pernah menyatakan, “Jika mereka (Muslim) mengambil satu perempuan Hindu, kami akan mengambil 100 perempuan Muslim.” Ini dalam konteks narasi Love Jihad yang digunakan untuk mendukung kebijakan anti-konversi.
Setelah putusan Mahkamah Agung India pada 2019 terkait Ayodhya, Yogi juga menyebut “Masjid Babri adalah simbol perbudakan, sedangkan Kuil Ram kini menjadi simbol kemerdekaan.”
Sementara itu, Menteri dari BJP, Giriraj Singh, menyatakan, “Mereka yang menentang pembangunan Kuil Ram sebaiknya pergi ke Pakistan.”
Pernyataan-pernyataan tersebut memperkuat polarisasi berbasis agama, menstigmatisasi komunitas Muslim, dan mempertegas narasi nasionalisme Hindu yang berkembang dalam politik India kontemporer.
Seperti yang dilaporkan BBC (29/4/2024), sejak Partai Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Narendra Modi berkuasa pada 2014, kehidupan sekitar 200 juta umat Islam di India mengalami berbagai tekanan. Orang-orang yang dituduh sebagai pedagang sapi meregang nyawa di tangan kelompok Hindu yang main hakim sendiri. Massa juga menyasar bisnis-bisnis kecil milik pedagang Muslim. Berbagai petisi yang menentang pembangunan masjid pun bermunculan. Bahkan muncul perundungan di media daring berupa “pelelangan” perempuan Muslim secara online.
Kelompok-kelompok sayap kanan bersama sebagian media arus utama turut menyulut islamofobia melalui narasi “jihad cinta” (Love Jihad), yaitu tuduhan bahwa laki-laki Muslim menikahi perempuan Hindu untuk mengislamkan mereka. Ujaran kebencian bernuansa anti-Islam dilaporkan meningkat. Sekitar tiga perempat insiden terjadi di negara-negara bagian yang dikuasai BJP. “Umat Muslim menjadi warga negara kelas dua, kelompok minoritas yang tidak kasatmata di negeri mereka sendiri,” ujar Ziya Us Salam, penulis buku Being Muslim in Hindu India.
Sebagai negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, tentu kita sangat menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo tersebut. Padahal kunjungan kenegaraan ini merupakan momentum yang tepat bagi Presiden untuk menyuarakan pembelaan terhadap nasib umat Islam di India. Inilah sikap yang seharusnya diambil oleh seorang penguasa dalam Islam. Ini sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. ketika membela kehormatan seorang Muslimah yang dilecehkan di pasar Bani Qainuqa’.
Seorang pemuda Muslim gugur sebagai syahid karena membela kehormatan seorang Muslimah yang dilecehkan oleh orang-orang Yahudi. Setelah Bani Qainuqa’ menolak peringatan Rasulullah saw. dan justru menantang kaum Muslim, beliau memimpin pengepungan benteng mereka selama sekitar lima belas hari hingga akhirnya mereka menyerah. Sebagai kepala negara, Rasulullah saw. bersikap tegas dengan mengusir Bani Qainuqa’ dari Madinah karena telah mengkhianati perjanjian, membunuh seorang Muslim, dan melecehkan kehormatan seorang Muslimah.
Sejarah juga mencatat bagaimana pada abad ke-9 M, Kota Ammuriyah (Amorium), ditaklukkan oleh Khalifah al-Mu’tashim Billah. Menurut riwayat yang masyhur, Khalifah al-Mu’tashim mendengar seruan minta tolong seorang Muslimah yang ditawan atau dihina oleh tentara Bizantium di sebuah pasar. Ketika diperlakukan dengan kasar, ia berteriak, “Wa Mu’tashimah!”
Mendengar kabar tersebut, Khalifah Al-Mu’tashim berkata, “Labbaik!” (Aku memenuhi panggilanmu). Ia lalu segera memobilisasi pasukan besar menuju Ammuriyah. Pasukan Islam kemudian memerangi Bizantium dan berhasil menaklukkan kota tersebut.
Inilah sikap yang seharusnya diambil oleh seorang penguasa Muslim. Bukan malah bersahabat dan menjadikan penguasa yang memiliki rekam jejak kebijakan yang merugikan umat Islam sebagai idola.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka rasa kasih saying. Padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepada kalian. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian mengimani Allah, Tuhan kalian (TQS al-Mumtahanah [60]: 1).
AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





