Hadis Pilihan

Batas Kaya dan Fakir (Antara yang Boleh Meminta Zakat dan yang Tidak) (Bagian 2)

«لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ، وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ»

Tidak halal sedekah (zakat) untuk orang kaya dan tidak pula

untuk orang yang punya kekuatan. (HR Ahmad no. 8908, Ibnu Majah no. 1939, an-Nasai no. 2597, al-Bazar no. 9627, Ibnu Hibban no. 3290, ad-Daraquthni no. 1989 dan al-Hakim no. 1477).

 

Adapun sabda Rasul saw. « لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ » maknanya adalah « لِذِي مِرَّةٍ قَوِيٍّ » (memiliki kekuatan). Imam asy-Syafi’i menjelaskan, seperti dikutip oleh Imam al-Baihaqi di dalam Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsâr (9/325): “Al-Mirrah adalah al-quwwah (kekuatan). Asalnya dari kencangnya puntiran tali. Yang dimaksudkan dengan al-quwwah (kekuatan) di sini adalah kekuatan (kemampuan) mencari penghasilan. Penjelasan hal itu ada dalam hadis Abaidullah ibn ‘Adiy ibn al-Khiyar.”

Ubaidullah ibn Adiy ibn al-Khiyar menuturkan bahwa pada waktu Haji Wada’ saat Rasul saw. membagi sedekah zakat), ada dua orang laki-laki datang meminta sebagian dari sedekah (akat) tersebut, Rasul saw. memandang keduanya dengan cermat dari atas ke bawah dan mendapati keduanya tampak kuat. Lalu beliau bersabda:

«إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا، وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ، وَلَا لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ»

Jika kalian mau, aku beri kalian. Tidak ada bagian di dalamnya untuk orang kaya dan tidak pula untuk orang yang kuat dan berpenghasilan (Ahmad no. 23063, Abu Dawud no. 1633, an-Nasai no. 2598, ath-Thabarani di dalam Mu’jam al-Kabîr no. 2722, ad-Daraquthni no. 1944, al-Baihaqi di dalam As-Sunan al-Kubrâ no. 13163).

Dalam redaksi lainnya dinyatakan:

«إِنْ شِئْتُمَا، وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ، وَلَا لِذِي قُوَّةٍ مُكْتَسِبٍ»

Jika kalian berdua mau, (aku beri). Tidak ada bagian di dalamnya (zakat) untuk orang kaya dan tidak pula untuk orang yang punya kekuatan dan berpenghasilan (HR asy-­Syafi’i, al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-îmân no. 1156, al-Baghawi di dalam Syarhu as-Sunnah no. 1598).

Imam asy-Syafi’i menjelaskan sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baihaqi di dalam Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsâr (9/324):

Rasulullah saw. melihat keduanya sehat dan kuat, menyerupai punya penghasilan. Lalu beliau memberitahu keduanya bahwa zakat tidak layak untuk keduanya bersama dengan adanya penghasilan yang mencukupi keduanya. Akan tetapi, beliau tidak tahu apakah keduanya punya penghasilan atau tidak. Karena itu beliau bersabda, “Jika kalian mau…” Setelah itu beliau memberitahu keduanya bahwa tidak ada bagian di dalam zakat untuk orang kaya dan tidak pula untuk orang yang punya penghasilan, “maka aku lakukan.” Hal itu karena keduanya mengatakan, “Beri kami (zakat) karena kami punya bagian; karena kami bukan orang kaya dan tidak punya penghasilan yang mencukupi.”

Menurut Imam al-Baghawi di dalam Syarhu as-Sunnah (6/81-82), di dalamnya ada dalil bahwa bagi orang yang kuat dan berpenghasilan yang mencukupi zakat tidak halal. Nabi saw. tidak memperhatikan lahiriah kekuatan tanpa menggabungkan penghasilan. Sebabnya, orang itu kadang tampak kuat hanya saja dia bodoh sehingga tidak punya penghasilan. Dalam keadaan demikian zakat boleh untuk dia. Jika Imam melihat orang yang meminta itu tampak kuat, Imam ragu tentang dia. Imam lalu memperingatkan dia dan memberitahu dia perkara tersebut—sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw.—maka jika orang itu mengaku tidak punya penghasilan, atau punya tanggungan keluarga yang penghasilannya tidak dapat mencukupi mereka, maka pengakuannya diterima dan ia boleh diberi zakat.

Bahwa orang yang kuat dan berpenghasilan tidak boleh meminta zakat ditegaskan oleh hadis penuturan Anas bin Malik. Dikisahkan, ketika ada seorang laki-laki meminta zakat kepada Rasul saw., beliau tidak langsung memberi orang itu, tetapi beliau mengarahkan dia untuk mencari penghasilan.

Anas bin Malik ra. menuturkan, pernah ada seorang laki-laki dari Anshar mendatangi Nabi saw. meminta kepada beliau, Beliau bersabda, “Adakah sesuatu di rumahmu?” Ia berkata, “Benar. Kain alas pelana (hilsun). Sebagian kami pakai dan sebagian kami bentangkan. Juga ada sebuah mangkuk (qa’b[un]) untuk minum air.” Beliau berkata, “Bawalah itu kepadaku!” Lalu pria itu membawa barang itu kepada beliau, dan Rasul saw. mengambil barang tersebut dan berkata, “Siapa yang mau membeli kedua barang ini?” Seorang pria berkata, “Saya beli seharga satu dirham.” Beliau berkata, “Siapa yang mau lebih dari satu dirham?” Beliau katakan itu dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya beli seharga dua dirham.” Lalu beliau memberikan barang itu kepada orang tersebut. Beliau kemudian mengambil dua dirham itu dan memberikannya kepada laki-laki Anshar tersebut, seraya bersabda, “Belilah makanan dengan satu dirham dan berikan kepada keluargamu. Belilah kapak dengan dirham yang lain dan bawalah kepadaku.” Lalu pria itu membawa kapak itu kepada Nabi saw. Beliau lalu memasangkan kapak itu ke sebatang kayu. Kemudian beliau bersabda kepada orang tersebut, “Pergilah dan kumpulkan kayu bakar, lalu juallah. Janganlah aku melihat kamu selama lima belas hari.” Orang itu pun pergi dan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya, dan ia kembali dalam keadaan sudah memperoleh sepuluh dirham. Ia membeli pakaian dengan sebagian darinya dan makanan dengan sisanya. Rasulullah saw. lalu bersabda:

«هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ: لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ، أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ»

Ini lebih baik bagi kamu daripada meminta-minta itu datang sebagai bekas luka di wajahmu pada Hari Kiamat. Sesungguhnya meminta-minta itu tidak pantas kecuali untuk tiga orang: untuk orang yang sangat miskin (dzî faqrin mudqi’in), atau orang yang terbebani hutang yang besar (dzî ghurmin mufzhi’in), atau orang yang punya damin mûji’ (beban membayar diyat karena pembunuhan tersalah [qatlu al-khatha‘]) (HR Ahmad no. 12134, Ibnu Majah no. 2198, Abu Dawud no. 1641, al-Harits bin Abiy Usamah di dalam Musnad al-Hârits no. 307, al-Baihaqi di dalam As-Sunan al-Kubrâ no. 13213; redaksi Abu Dawud).

Batasan kecukupan dalam pemenuhan kebutuhan hidup ditegaskan dalam hadis penuturan Qabishah. Qabishah bin Mukhariq al-Hilali menuturkan: Aku pernah punya tanggungan utang untuk memperbaiki hubungan kaum, lalu aku datang kepada Rasulullah saw. dan meminta zakat pada beliau. Beliau bersabda:

«يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا»

Wahai Qabishah, meminta itu tidak halal, kecuali untuk salah satu dari tiga orang: Orang yang menanggung utang untuk memperbaiki hubungan kaum; maka halal untuk dia meminta sampai ia memperolehnya lalu dia berhenti. Lalu orang yang ditimpa bencana yang memusnahkan hartanya; maka halal untuk dia meminta sampai ia memperoleh qiwâm[an] min ‘aysy[in] (penopang hidup/apa yang menghidupi dirinya)—atau beliau bersabda sidâdan min ‘aysyin (apa yang mencukupi kebutuhan hidupnya). Kemudian orang yang ditimpa kemiskinan sampai tiga orang bijak dari kaumnya berdiri dan berkata, ‘Sungguh dia telah ditimpa kemiskinan.’ Dalam keadaan demikian halal untuk dia meminta sampai ia memperoleh penopang hidup (apa yang menghidupi dirinya)—atau beliau bersabda pilar hidup (apa yang mencukupi kebutuhannya). Selain permintaan mereka, wahai Qabishah adalah haram yang dimakan pelakunya sebagai yang haram.” (HR Muslim no. 1044, Ahmad no. 15916, ad-Darimi no. 1720, Abu Dawud no. 1640, an-Nasai no. 2580, Ibnu Khuzaimah no. 1361, Ibnu Hibban no. 3396, ad-Daraquthni no. 1996; redaksi Muslim).

Hadis Anas bin Malik maknanya sesuai dengan hadis Ubaidullah ibn al-Khiyar bahwa sedekah (zakat) tidak layak untuk orang yang punya penghasilan yang mencukupi hidupnya. Ini juga sesuai dengan hadis Qabishah bahwa meminta boleh untuk orang yang menanggung beban dalam darah (diyat) atau utang yang besar. Hanya saja, dalam hadis Anas, Rasul saw. melihat orang yang meminta kepada beliau itu tampak kuat mencari penghasilan. Karena itu beliau menyuruh dia mencari penghasilan dan tidak memberi dia rukhshah dalam meminta karena kefakirannya bersama dengan kemampuan mencari penghasilan. Beliau baru memperbolehkan meminta untuk orang yang sangat fakir. Hal itu jika ia tidak mampu mencari penghasilan dan tidak punya harta yang mencukupi dia dan keluarganya sehingga ia boleh meminta karena kebutuhan.

Dalam hadis Qabishah, beliau memperbolehkan meminta ketika fakir, yakni jika ia tidak punya harta yang mencukupi dirinya dan keluarganya. Ia tidak punya penghasilan yang mencukupi dia dan keluarganya. Jika dia punya salah satu dari keduanya maka ia tidak termasuk fakir sehingga ia tidak boleh meminta atau mengambil sedekah (zakat).

Rasul saw. memperbolehkan seseorang meminta karena bencana yang memusnahkan hartanya sehingga ia memutuhkan harta sampai ia memperoleh penopang hidup atau yang mencukupi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Dengan itu jelas bahwa maknanya adalah kecukupan dia dan keluarganya. Kriteria itulah yang menjadi patokan. Jika ia punya penghasilan yang mencukupi dia dan keluarganya maka dia telah punya penopang hidup sehingga ia tidak boleh mengambil sedekah karena kefakiran. Jika ia punya penghasilan yang sedikit dan tidak mencukupi dia dan keluarganya atau ia punya harta meski mencapai nishâb, yang tidak mencukupi dia dan keluarganya, maka ia boleh mengambil sedekah (zakat) tanpa ditetapkan kadarnya sampai ia memperoleh penopang hidup atau yang mencukupi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Hadis Ibnu Mas’ud tidak berbeda dengan makna tersebut. Sebabnya, Rasul saw. di awal memperhatikan apa yang mencukupi sahabat tersebut. Jadi di dalamnya masuk penghasilan dan harta dengan adanya kecukupan dengan masing-masing dari keduanya. Lalu ketika ditanya tentang kecukupan (al-ghinâ) beliau menjelaskan dengan kadar 50 dirham. Artinya, yang beliau maksud adalah orang yang tidak punya penghasilan yang mencukupi dirinya hingga dia punya 50 dirham. Dalam hadis Atha’, apa yang mencukupi adalah 40 dirham. Dalam hadis Sahlu Ibn al-Hanzhaliyyah, apa yang mencukupi adalah yang mencukupi makanan sehari semalam secara kontinu.

WalLâh a’lam wa ahkam. [Bersambung] [Yahya Abdurrahman].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + eleven =

Back to top button