
Serangan ke Iran Picu Penipisan Kekuatan
Meski telah meningkatkan kekuatan militer secara pesat di kawasan Teluk Arab sejak pertengahan 2025, ancaman serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai justru dapat memicu penipisan kekuatan AS di kawasan tersebut.
“Serangan yang diancamkan Amerika kepada Iran dapat menyebabkan penipisan kekuatan Amerika di kawasan tersebut,” ujar Aktivis Hizbut Tahrir Mahmoud Abdel-Hadi sebagaimana dilansir hizb-ut-tahrir.info, Kamis (26/2/2026).
Mahmoud menilai, penipisan tersebut jauh lebih berbahaya daripada apa yang dialami Rusia di Ukraina. Artinya, potensi kerugian kekuatan AS jika menyerang Iran bisa jauh lebih besar daripada yang dihadapi Rusia.
Intervensi militer AS ke Iran diprediksi memicu dampak serius. Balasan keras dari Iran kemungkinan akan memaksa AS terjebak dalam perang atrisi (kelelahan) yang panjang dan mahal. “Hal ini karena Rusia berperang melawan negara tetangga, tidak seperti Amerika yang jaraknya akan menjadi beban signifikan,” ungkap Mahmoud. Selain itu, Rusia mendapat dukungan besar dari sekutu seperti Cina dan Korea Utara.
Kerusakan hubungan dan kepercayaan AS dengan sekutu-sekutu Eropa juga diyakini akan membuat Washington berjuang sendiri. “Siapa yang akan membantu Amerika, terutama karena mereka sedang merusak hubungan dan kepercayaan dengan sekutu Eropanya?” sambung Mahmoud.
Perang tarif dan dagang yang sebelumnya dipicu pemerintahan Trump demi kepentingan ekonomi-geopolitik telah merenggangkan hubungan dengan sekutu tradisional. Akibatnya, Eropa terpaksa lebih mandiri dan mencari bantuan dari dalam Uni Eropa, bukan dari Amerika. []





