
Trump Bongkar Kebusukan MbS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka membongkar kebusukan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MbS) jika menunda-nunda perintah Trump.
“Trump secara terbuka membongkar kebusukan anteknya jika mereka menunda atau mengulur-ulur waktu dalam melaksanakan perintahnya, dan kemudian mereka mencoba untuk tampil terhormat bukan sebagai pengecut dan tercela,” tulis situs hizb-ut-tahrir.info, Kamis (2/4/2026).
Pembongkaran tersebut dilakukan Trump ketika berpidato dalam konferensi internasional investasi FII Priority Summit lantaran MbS menunda-nunda bergabung dengan Kesepakatan Abraham (Abraham Accords), serangkaian perjanjian normalisasi (membuka hubungan diplomatik; menjalin kerja sama ekonomi, teknologi dan keamanan; juga membuka jalur penerbangan langsung) antara Israel dan beberapa negara Arab yang dimediasi oleh pemerintahan Donald Trump pada tahun 2020.
“Muhammad akan berkata, ah, ya, kami akan bergabung. Tetapi setelah kami melakukan ini dan itu … Saya akan berkata kepada dia, ‘Kami telah melakukan itu.’ Dia akan menjawab, ‘Ya, masih ada beberapa hal yang tersisa. Sekarang saatnya untuk bergabung. Kami telah mengusir mereka [merujuk pada Iran], dan mereka sebagian besar telah diusir. Anda harus bergabung dengan Kesepakatan Abraham’,” tulis situs tersebut mengutip pidato Trump pada malam 28 Maret 2026 di Miami, AS, tersebut.
Pasalnya, jelas situs tersebut, MbS merasa malu dan mencari cara untuk mengumumkan normalisasi dengan entitas Yahudi, berharap untuk menggambarkannya sebagai keuntungan besar bagi Arab Saudi dan Palestina, terlepas dari klaim dia sebelumnya tentang keinginan solusi dua negara sebagai imbalan atas normalisasi.
Sebabnya, lanjut situs tersebut, entitas Yahudi secara resmi menolak solusi dua negara ini dan sedang mengambil tindakan di lapangan untuk mencegah implementasinya.
“Amerika tidak menekan entitas Yahudi dalam masalah ini. Bahkan duta besarnya untuk entitas Yahudi, Mike Huckabee, mengatakan bahwa orang Yahudi berhak atas seluruh Palestina dan mengendalikan seluruh wilayah Timur Tengah,” pungkasnya. []





