Nafsiyah

Allah Menolong Para Penolong Agama-Nya (I’dâd al-Quwwah)

Pertolongan Allah (nashrulLâh) adalah perkara yang senantiasa dinanti-nantikan oleh hamba-hamba-Nya yang beriman. Karena itu relevan jika Allah senantiasa menautkan pertolongan-Nya dengan keimanan kepada-Nya. Dalam banyak ayat-Nya yang menyeru orang-orang beriman untuk menolong agama-Nya. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّ‍ۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَ‍َٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ  ١٤

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa ibnu Maryam pernah berkata kepada para pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi para penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Para pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah para penolong agama Allah.” Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir. Kemudian Kami memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (QS ash-Shaff [61]: 14).

 

Allah SWT pun berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ  ٧

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

 

Allah SWT menyeru orang-orang yang beriman agar menjadi para penolong agama-Nya. Seruan dalam ayat-ayat ini ditujukan kepada jamaah orang yang beriman. Ini mengisyaratkan urgensi menolong agama-Nya secara berjamaah. Istimewanya, Allah menisbatkan pertolongan makhluk kepada Diri-Nya secara kiasan. Ini menunjukkan keutamaan menolong agama-Nya, dengan menghilangkan lafal Dîn di depan lafal Allah (al-majâz bi al-îjâz), seakan-akan menolong Allah itu sendiri. Padahal hakikatnya manusia yang membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan Allah adalah sebaik-baik Penolong.

Imam Abu Ja’far an-Nahhas (w. 338 H) dalam I’râb al-Qur’ân (IV/119) menjelaskan bahwa ungkapan ”menolong Allah” merupakan kiasan (majâz). Yang disebut nama Allah. Akan tetapi, maksudnya adalah menolong Rasul-Nya, Dîn-Nya, syariah-Nya dan kelompok pembela Dîn-Nya (hizbulLâh). Ini ditegaskan oleh Imam ar-Razi dalam Mafâtîh al-Ghaib (VIII/42). Syaikh Ibn al-’Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyâdh al-Shâlihîn (III/616) menjelaskan:

Makna menolong Allah adalah menolong Dîn-Nya. Pasalnya, sesungguhnya Allah dengan Diri-Nya tidak membutuhkan pertolongan apapun. Allah Maha Berkecukupan dari selain Diri-Nya. Jadi, yang dimaksud pertolongan di sini adalah menolong Dîn Allah, dengan menjaga agama dan mempertahankan serta tegas menentang pelanggaran, dan lain sebagainya yang menjadi sebab pertolongan atas syariah-Nya.

Al-‘Allamah Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Shafwat al-Tafâsîr (hlm. 375) menafsirkan:

«أَيْ اُنْصُرُوْا دِيْنَ اللهِ وَأَعْلُوْا مَنَارَهُ»

Maknanya: “Tolonglah agama Allah dan tinggikan syiar-Nya!”

 

Dengan demikian menolong agama Allah terealisasi dengan cara mengimani, mempelajari dan mengamalkan agama-Nya secara total dalam kehidupan; juga mendakwahkan, menjunjung tinggi syiar-syiarnya dan menjaga agama-Nya dari berbagai upaya penyimpangan . Inilah amal menolong agama Allah yang dicontohkan oleh generasi salafunaa ash-shâlih, Rasulullah saw. dan para Sahabatnya.

Seseorang mampu menolong agama-Nya jika ia memahami agama-Nya. Karena itu penolong agama-Nya wajib membekali diri dengan pemikiran Islam yang murni, yang terbebas dari kotoran (fikrah mustanîrah), diimbangi dengan kesadaran politik (al-wa’y al-siyasi). Dengan itu ia bisa mengidentifikasi berbagai celah yang bisa merusak umat Islam dan akar masalahnya, serta mampu menghadirkan solusi Islam atasnya. Demikian sebagaimana karakter generasi teladan umat ini, Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Meneladani mereka adalah keberuntungan. Imam al-Alusi (w. 1270 H) dalam Rûh al-Ma’âni (I/92) bertutur:

﴿إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِنْهُمْ فَتَشَبَّهُوْا * إِنَّ التَّشَبَّهَ بِالكِرَامِ فَلاَحٌ﴾

Meski kalian belum seperti mereka, serupailah/Sungguh menyerupai orang-orang yang mulia merupakan keberuntungan.

 

Pertolongan Allah bagi Para Penolong agama-Nya

Pertolongan Allah bagi para penolong agama-Nya dijanjikan dalam firman-Nya:

فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ  ١٤

Lalu Kami memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman dalam menghadapi musuh-musuh mereka, kemudian mereka menjadi para pemenang (QS ash-Shaff [61]: 14).

 

Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Shafwat al-Tafâsîr (hlm. 375) menafsirkan: Maknanya, “Kami menguatkan orang-orang beriman atas musuh-musuh mereka yang kafir hingga orang-orang beriman menang atas mereka dengan hujjah dan bukti kebenaran. Allah pun berfirman:

يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ  ٧

…pasti Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

 

Syaikh Ibn al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa Allah melipatgandakan ganjaran perbuatan menolong Dinullâh. Pertama: Ganjaran yanshurkum (Allah menolong kalian), yakni Allah akan menolong kalian atas mereka yang memusuhi. Kedua: Ganjaran yutsabbit aqdâmakaum (Allah meneguhkan kedudukan kalian), yakni Allah meneguhkan kalian di atas agama-Nya.

Janji Allah ini menguatkan rasa, menggambarkan ganjaran dianugerahi keteguhan, yakni teguh dalam membela Islam, serta teguh dalam menghadapi berbagai tantangan, sebagaimana dialami para nabi dan rasul as. Menariknya, dalam QS ash-Shaff [61]: 14, Allah kemudian menyerupakan (tasybîh) perintah ini sebagaimana perkataan Rasul-Nya, Isa bin Maryam as., “Siapa­kah yang akan menjadi para penolongku (berdakwah) kepada Allah?” Lantas disambut jawaban positif kaum Hawariyyun, “Kami adalah para penolong (agama) Allah.”

Di antara bentuk pertolongan Allah adalah tegaknya kekuasaan Islam (Ad-Dawlah al-Islâmiyyah) yang menjadi penyokong bagi tegaknya agama-Nya:

وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِي مُدۡخَلَ صِدۡقٖ وَأَخۡرِجۡنِي مُخۡرَجَ صِدۡقٖ وَٱجۡعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلۡطَٰنٗا نَّصِيرٗا  ٨٠

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku dengan cara keluar yang benar serta berilah aku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS al-Isrâ’ [17]: 80).

 

Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Shafwat at-Tafâsîr (hlm. 172) menukilkan: Al-Hasan dan adh-Dhahhak berkata: Yang dimaksud adalah masuknya beliau ke Madinah al-Munawwarah dan keluarnya beliau dari Makkah al-Mukarramah ketika kaum musyrik bersekongkol untuk membunuh beliau setelah mereka tidak mampu lagi menahan dakwah beliau. ”Berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” Maknanya, ”Berilah aku kekuatan dan hujjah yang dengan itu Engkau menolong aku atas musuh-musuhku dan memenangkan agama-Mu melalui tanganku.” Allah pun mengabulkan doa beliau: memenangkan beliau atas musuh-musuhnya, meninggikan agama-Nya di atas seluruh agama lain, serta menampakkan cahaya kebenaran dan sinarnya.

Ketika pertolongan itu tiba, maka tiada makhluk-Nya yang mampu menghadangnya:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  ١٦٠

Jika Allah menolong kalian maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kalian. Jika Allah membiarkan kalian (tidak memberi kalian pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja kaum Mukmin bertawakal (QS Ali Imran [3]: 160).

 

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I; (Peneliti Balaghah al- Quran & Hadits Nabawiyyah)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 7 =

Back to top button