Opini

Menyoal Resesi Seks Di Banyak Negara

Fenomena “resesi seks” terjadi di banyak negara di dunia, mulai dari wilayah Barat hingga Asia. Istilah ini merujuk pada menurunnya mood pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak.

Resesi seks yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini muncul sebagai dampak dari sejumlah soal. Mulai dari Cina, Amerika Serikat (AS), hingga negara tetangga RI, Singapura, menjadi deretan negara yang mengalami fenomena ini.

Cina tengah menghadapi ‘resesi seks’ yang berdampak terhadap angka kesuburan dan populasi yang kecil. Istilah ‘resesi seks’ merujuk pada penurunan rata-rata jumlah aktivitas seksual yang dialami suatu negara. Ini mempengaruhi jumlah kelahiran.

‘Resesi seks’ di Cina ramai jadi perbincangan usai sebuah laporan dengan judul The Challenges of Law Birth rate in China rilis di Wiley pada Agustus lalu. Pada 2021 angka kelahiran hanya 7,52 kelahiran per 1.000 orang atau sekitar 11 juta bayi. Jumlah ini menjadi yang terendah sejak 1949. Pada tahun itu pula, tingkat kesuburan di Cina tercatat 1,16. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di bawah standar Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk populasi yang stabil dengan tingkat 2,1. Demikian dikutip Channel News Asia.

Angka kelahiran yang rendah juga dipicu tingkat pernikahan. Menurut laporan itu, jumlah pendaftaran pernikahan di Cina turun selama tujuh tahun berturut-turut pada 2020, dengan hanya 8,1 juta pasangan yang menikah. Angka ini menurun 12 persen dari 2019.

Depopulasi di banyak negara sosialis seperti Cina dan sekuler seperti Eropa dan Amerika Serikat telah nyata berdampak multidimensi.

Fenomena “resesi seks” sejatinya merupakan persoalan yang tercipta dari cara pandang manusia yang materialistis. Cara pandang ini lahir dari kapitalisme yang berasaskan sekularisme sehingga agama tidak menjadi pedoman dalam hidupnya. Kehidupannya dipimpin oleh pemikirannya sendiri yang lemah dan terbatas. Jadilah manusia menstandarkan kebahagiaan pada materi, lalu menjadikannya tujuan hidup.

Pemberdayaan perempuan pun sesungguhnya lahir dari feminisme yang juga berlandaskan sekuler kapitalisme. Akhirnya, perempuan lebih mengutamakan kariernya dalam bekerja daripada menjadi ibu rumah tangga yang dinilai tidak memiliki kemandirian secara finansial.

Mengurus anak di rumah adalah pilihan yang tidak masuk akal dan dianggap merendahkan derajat perempuan. Jika pun ada yang ingin memiliki anak, mereka hanya memandang anak sebatas materi. Ibarat investasi untuk hari tua, saat dirinya tidak bisa lagi produktif bekerja, ada anak yang menghidupi dirinya.

Selain itu, kebebasan yang digaungkan paham sekuler ini pun menjadikan manusia bebas berbuat sesukanya. Tidak peduli apakah agama melarang atau tidak. Yang penting “bahagia”.

Alhasil, “resesi seks” yang dialami peradaban Barat sebenarnya merupakan fenomena yang lahir akibat mencampakkan aturan Allah SWT. Mari kita tinggalkan ajaran Barat dan beralih pada Islam kaaffah yang akan membawa umat manusia pada kemuliaannya. [Endah Sulistiowati ; (Direktur Muslimah Voice)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × two =

Back to top button