Tafsir

Penghormatan Kepada Penghuni Surga

لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيۡنَا مَزِيدٞ  ٣٥

Mereka di dalamnya memperoleh apa saja yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qaf [50]: 35).

 

Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang peristiwa yang dialami oleh orang-orang yang bertakwa pada Hari Kiamat, yakni ketika itu surga didekatkan kepada mereka. Mereka juga dipersilakan masuk ke dalam surga dalam keadaan aman. Kepada mereka dikatakan: “Masuklah kalian ke dalam surga itu dalam keadaan aman. Itulah hari kekekalan.” (QS Qaf [50]: 34.

Ayat ini kemudian melanjutkan keadaan mereka di surga, bahwa mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا … ٣٥

Mereka di dalamnya memperoleh apa saja yang mereka kehendaki… (QS Qaf [50]: 35).

 

Para penghuni surga akan mendapatkan berbagai kenikmatan yang mereka inginkan juga diberitakan dalam banyak Hadis Nabi saw. Dari Ibnu Mas’ud dituturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

«إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ فَتَشْتَهِيهِ فَيَجِيءُ مَشْوِيًّا بَيْنَ يَدَيْكَ»

Sesungguhnya engkau benar-benar melihat burung di dalam surga, lalu kamu menginginkan burung tersebut. Lalu burung itu di hadapanmu dalam keadaan telah dipanggang (HR al-Bazzar).

 

Ibnu Abu Hatim ra. juga meriwayatkan dari Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمُ اللُّقْمَةَ فَيَجْعَلُهَا فِي فِيهِ، ثُمَّ يَخْطُرُ عَلَى بَالِهِ طَعَامٌ آخَرُ فَيَتَحَوَّلُ الطَّعَامُ الَّذِي فِي فِيهِ عَلَى الَّذِي اشْتَهَى» ثُمَّ قَرَأَ: وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ وَأَنتُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [الزخرف: 71].

Demi Tuhan Yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seseorang dari kalian kala mengambil sesuap makanan, ia memasukkan makanan itu ke mulutnya, dan tiba-tiba terbetik di dalam benaknya suatu makanan lain, lalu berubahlah makanan yang ada dalam mulutnya itu menjadi makanan lain yang dia inginkan itu. Kemudian Rasulullah SAW membaca firman-Nya (yang artinya): Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya (TQS az-Zuhruf [43]: 71).

 

Tak hanya keinginan menikmati makanan, keinginan untuk memiliki anak juga dipenuhi. Dari Abu Said al-Khudri ra., Rasulullah SAW bersabda:

«إِذَا اشْتَهَى الْمُؤْمِنُ الْوَلَدَ فِى الْجَنَّةِ كَانَ فِى سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا يَشْتَهِى»

Jika seorang Mukmin menginginkan anak di surga, maka anak itu ada dalam sekejap sebagaimana yang ia inginkan (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

 

Bahkan ketika ada di antara mereka yang ingin bercocok tanam, juga dikabulkan. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bercerita:

«أن النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَوْمًا يُحَدِّثُ، وَعِنْدَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ: (أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ فِي الزَّرْعِ، فَقَالَ لَهُ: أَلَسْتَ فِيمَا شِئْتَ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَزْرَعَ، قَالَ: فَبَذَرَ، فَبَادَرَ الطَّرْفَ نَبَاتُهُ وَاسْتِوَاؤُهُ وَاسْتِحْصَادُهُ، فَكَانَ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، فَيَقُولُ اللهُ: دُونَكَ يَا ابْنَ آدَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ). فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ: وَاللهِ لَا تَجِدُهُ إِلَّا قُرَشِيًّا أَوْ أَنْصَارِيًّا، فَإِنَّهُمْ أَصْحَابُ زَرْعٍ، وَأَمَّا نَحْنُ فَلَسْنَا بِأَصْحَابِ زَرْعٍ، فضحك النبي صلى الله عليه وسلم»

Suatu hari Nabi SAW sedang berbicara, sementara di dekat beliau ada seorang laki-laki dari penduduk pedalaman (Arab Badui). Beliau bersabda, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki dari penghuni surga yang meminta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Lalu Allah berfirman kepada dia: ‘Bukankah engkau telah berada dalam apa saja yang engkau inginkan?’ Ia menjawab, ‘Benar, tetapi aku suka bercocok tanam.’ Lalu ia pun menabur benih dan dalam sekejap mata tanamannya tumbuh menjadi sempurna, dapat dipanen, hingga terkumpul seperti gunung-gunung. Lalu Allah berfirman, ‘Inilah untuk kamu, wahai anak Adam, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat kamu puas.’ Lalu orang Badui itu berkata, ‘Demi Allah! Engkau tidak akan mendapati orang itu kecuali seorang Quraisy atau seorang Anshar, karena mereka adalah orang-orang yang biasa bercocok tanam. Adapun kami bukanlah orang-orang yang biasa bercocok tanam.’ Lalu Nabi SAW pun tertawa.” (HR al-Bukhari).

 

Allah SWT berfirman:

﴿…وَلَدَيۡنَا مَزِيدٌ﴾

…Pada sisi Kami ada tambahannya.

 

Di samping mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, mereka juga mendapatkan: « لَدَيْنا مَزِيدٌ » (Pada sisi Kami ada tambahannya). Maksudnya, tambahan kenikmatan dan penghormatan di surga.1

Menurut Fakhruddin ar-Razi, lafaz « مَزِيدٌ » (tambahan) bisa berarti « الزِّيَادَةُ » (tambahan), semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

﴿لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ﴾

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (TQS Yunus [10]: 26).2

 

Bisa juga bermakna yang ditambah. Artinya, “Pada sisi Kami ada yang Kami tambahkan kepada mereka apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka senangi.”3

Menurut asy-Syaukani, yang dimaksud dengan itu adalah berbagai macam nikmat yang tidak pernah terbersit di dalam benak mereka dan tidak pernah terbayang dalam khayalan mereka.4 Penjelasan serupa juga disampaikan oleh al-Baidhawi dan Wahbah az-Zuhaili.5

Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, itu adalah nikmat selain yang telah digambarkan akan diberikan kepada mereka. Menurut beliau pula, banyak ulama berpendapat bahwa nikmat lain yang dimaksudkan itu adalah melihat wajah Allah secara langsung.6 Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Khazin.7

Kata Abdurrahman as-Sa’di, “Yang dimaksud adalah pahala yang dibentangkan oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Juga yang lebih agung serta lebih besar dari semua kenikmatan itu. Artinya, memandang wajah-Nya yang Mulia, mendengarkan firman-Nya dan menikmati berdekatan dengan Diri-Nya.”8

Dalam beberapa Hadis Nabi saw. disebutkan bahwa yang dimaksud dengan nikmat tambahan adalah memandang kepada Zat Allah SWT. Penafsiran ini banyak disampaikan oleh para ulama. Di antaranya adalah al-Jazairi.9

Dari Anas ibnu Malik ra., sehubungan dengan makna firman Allah SWT: Pada sisi Kami ada tambahannya (Qaf [50]: 35), bahwa Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahamulia menampakkan Diri-Nya kepada mereka tiap Hari Jumat.10

Ada juga hadis dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

«إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَّكِئُ فِي الْجَنَّةِ سَبْعِينَ سَنَةً قَبْلَ أَنْ يَتَحَوَّلَ، ثُمَّ تَأْتِيهِ امْرَأَتُهُ، فَتَضْرِبُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، فَيَنْظُرُ وَجْهَهُ فِي خَدِّهَا أَصْفَى مِنَ الْمِرْآةِ، وَإِنَّ أَدْنَى لُؤْلُؤَةٍ عَلَيْهَا تُضِيءُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، فَتُسَلِّمُ عَلَيْهِ “. قَالَ: فَيَرُدُّ السَّلَامَ، وَيَسْأَلُهَا مَنْ أَنْتِ؟ وَتَقُولُ: أَنَا مِنَ الْمَزِيدِ، وَإِنَّهُ لَيَكُونُ عَلَيْهَا سَبْعُونَ ثَوْبًا أَدْنَاهَا مِثْلُ النُّعْمَانِ مِنْ طُوبَى فَيَنْفُذُهَا بَصَرُهُ حَتَّى يَرَى مُخَّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ، وَإِنَّ عَلَيْهَا مِنَ التِّيجَانِ إِنَّ أَدْنَى لُؤْلُؤَةٍ عَلَيْهَا لَتُضِيءُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ»

Sesungguhnya seorang laki-laki akan bersandar di surga selama tujuh puluh tahun sebelum ia berpindah dari tempatnya. Kemudian datang kepada dia istrinya (dari bidadari surga), lalu menepuk kedua pundaknya. Lalu ia pun menoleh kepada dirinya. Ia melihat wajahnya (sendiri) terpantul pada pipinya (bidadari itu), lebih jernih daripada cermin. Mutiara yang paling rendah yang dikenakan oleh bidadari itu menerangi antara timur dan barat. Kemudian bidadari itu mengucapkan salam kepada dia, lalu sia membalas salamnya, dan bertanya, “Siapakah engkau ini?” Ia menjawab, “Aku termasuk dari (bidadari-bidadari) tambahan karunia (al-Mazîd).” Sungguh, ia mengenakan tujuh puluh lapis pakaian, yang paling bawah di antaranya seperti bunga-bunga Nu‘man dari pohon Thuba. Namun, pandangan matanya menembus tubuhnya, hingga ia dapat melihat sumsum betisnya dari balik pakaian itu. Sungguh, di atasnya terdapat mahkota-mahkota, dan mutiara yang paling rendah pada mahkotanya itu menerangi antara timur dan barat (HR Ahmad).

 

Menurut Fakhruddin ar-Razi, dalam ayat ini ada terdapat urutan dalam puncak kebaikan. Itu dimulai dengan penghormatan kepada mereka dengan firman-Nya:

﴿وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ﴾

Didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa.

 

Tidak disebutkan: « قُرِّبَ الْمُتَّقُونَ مِنَ الْجَنَّةِ » (orang-orang yang bertakwa didekatkan kepada surga), sebagai penghormatan kepada mereka karena Allah SWT mendekatkan surga kepada mereka. Di dalamnya terdapat kebaikan. Selanjutnya Allah SWT berfirman kepada mereka, “Ini untuk kalian,” dengan firman-Nya:

﴿هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ﴾

Inilah yang dijanjikan kepada kalian.

 

Lalu diterangkan bahwa itu sebagai pahala atas amal saleh mereka dalam firman-Nya:

﴿لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ﴾

Kepada setiap hamba yang selalu kembali [kepada Allah] lagi memelihara [semua peraturan-peraturan-Nya]).

 

Juga dalam firman-Nya: « مَنْ خَشِيَ الرَّحْمنَ » ([yaitu] orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah). Pasalnya, pemanfaatan orang yang memiliki sesuatu dengan kompensasi lebih sempurna daripada pemanfaatan orang yang mendapatkan sesuatu tanpa kompensasi karena kepemilikan tanpa kompensasi ada kemungkinan bisa diambil kembali. Berikutnya Allah SWT menambah penghormatan kepada mereka dengan firman-Nya: « اُدْخُلُوها » (masukilah surga itu). Sebagaimana telah dijelaskan, orang yang dibukakan pintunya, namun tidak ada orang di depan pintunya yang menyambut kedatangan orang-orang yang masuk, itu bukanlah penghormatan yang sempurna. Kemudian disebutkan: « ذلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ » (itulah hari kekekalan). Artinya, janganlah kamu takut dengan apa yang sebelumnya dialami kedua orangtuamu (Adam dan Hawa) yang dikeluarkan dari surga. Kamu masuk dan tidak akan keluar dari surga itu setelah itu. Lalu diterangkan bahwa mereka kekal di dalamnya. Dia berfirman: Janganlah kalian takut akan terputusnya rezeki dan kalian masih membutuhkannya. Sebagaimana yang terjadi di dunia, orang yang dipanjangkan usianya, akan kembali lemah dan membutuhkan. Di surga, kalian diberikan kekekalan dan apa yang kalian nikmati tidak akan habis. Kalian pun mendapatkan apa yang kalian inginkan kapan saja. Kepada Allah SWT kesudahan segala sesuatu. Ketika telah sampai kepada Dia dan tampak di hadapan-Nya, maka tidak digambarkan apa yang ada di sisi-Nya dan belum pernah dilihat oleh siapa pun. Keagungan orang yang ada di sisi-Nya menunjukkan keutamaan apa yang ada di sisi-Nya. Inilah urutan kebaikan tersebut.11

Demikian balasan kebaikan dari Allah SWT di akhirat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang mau tunduk dan patuh kepada seluruh syariah-Nya. Siapa yang tidak rindu menjadi salah seorang di antara mereka?!

WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

  1. Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 149
  2. Ha ini juga disampaikan oleh Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 407
  3. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 146
  4. Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 93
  5. Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5, 143; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 307
  6. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 366
  7. Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, 4, 190
  8. Al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân, 807
  9. Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 148
  10. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 407
  11. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 149

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 5 =

Back to top button