
Menyiapkan Generasi Mujahid
Al-Ummu madrasatul ûlâ. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu merupakan sosok yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Dalam konteks menyiapkan generasi mujahid, ibu memiliki peran sangat strategis. Ibu bukan sekadar perawat fisik anak. Ia sekaligus merupakan arsitek peradaban yang turut menyiapkan generasi “mujahid”.
Ibu adalah motivator, pendidik dan inspirator bagi anak-anaknya. Telaga kasihnya selalu sejuk menyirami buah hati agar tumbuh menjadi generasi yang kuat dan Tangguh. Bukan hanya fisik, namun juga kuat iman, akal dan ilmu.
Peran Strategis Ibu
Ibu yang memiliki kesadaran politik yang benar tentu berusaha untuk menyiapkan generasi yang memiliki daya juang tinggi (spirit of jihad). Tentu agar mereka mampu menegakkan kebenaran, memperbaiki umat dan memberi manfaat bagi kehidupan alam dan kemanusiaan di berbagai bidang. Ia memahami bahwa anak bukan hanya miliknya, namun amanah untuk melanjutkan peradaban Islam yang mulia. Inilah yang, antara lain, dilakukan oleh para ibu di Palestina. Mereka menerapkan pola asuh yang berakar pada aqidah Islam. Dengan itu terbentuk jiwa anak-anak yang tangguh dalam menghadapi realitas hidup di tengah konflik yang panjang dan sangat berat. Mereka tetap kokoh berdiri membela Islam di tengah pengkhianatan para pemimpin dunia.
Di antara peran strategis ibu adalah:
- Menanamkan akidah Islam yang kokoh.
Ibu adalah sosok pertama yang mengenalkan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada anak. Ini karena adanya kedekatan emosional antara ibu dan anak tidak bisa dipungkiri. Ibu yang mengandung, mengasuh dan merawat pada masa-masa awal hidup anak. Karena itu ibu memiliki peran krusial dalam menanamkan keyakinan anak kepada Allah dan Rasulullah. Membimbing, mengarahkan dan mendidik mereka agar kokoh dalam berakidah. Kuatnya akidah adalah fondasi keberanian seorang mujahid. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepada dirinya, “Anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13).
- Mendidik kepribadian Islam pada anak.
Ibu juga berperan mendidik anak-anaknya agar berkepribadian Islam. Artinya, ibu menanamkan kepada anak kebiasaan untuk berpikir dan bersikap berdasarkan akidah Islam; untuk menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatan; untuk bersikap jujur, sabar serta berani melakukan amar makruf nahi mungkar semata karena perintah Allah SWT. Ibu sadar betul bahwa generasi mujahid tidak muncul dengan instan, namun melalui proses panjang yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk ibu.
- Menyiapkan generasi yang kuat.
Rasulullah saw. bersabda:
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Pada keduanya ada kebaikan (HR Muslim).
Yang dimaksud dengan kuat dalam hadis ini adalah: kuat akidah, kuat dalam ilmu dan akal. Generasi Muslim harus menguasai tsaqâfah Islam dan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada sesama. Kuat jasmani. Jika sakit-sakitan maka ia mudah dikalahkan oleh musuh. Kuat ekonomi (harta dan kekayaan). Kuat segi militer (perlengkapan, persenjataan, rudal, drone, pasukan, dsb. Jika umat Islam tidak memiliki kekuatan militer maka mudah dikalahkan dan ditaklukkan musuh (Lihat: QS an-Nahl [16]: 60).
Ibu harus turut berperan dalam menyiapkan generasi yang kuat fisiknya. Ibu seperti time keeper bagi anak-anaknya bahkan bagi keluarga. Doa ibu untuk anak-anaknya selalu melekat dalam jiwa dan hatinya. Semua demi kebaikan anaknya.
- Menyaring pengaruh luar.
Di era digital, saat ini, peran ibu sebagai filter terhadap nilai-nilai yang merusak mentalitas pejuang anak sangat penting. Orangtua, khususnya ibu, harus mengarahkan anak-anaknya agar mampu dengan baik dan bijak ketika masuk di dunia maya.
Langkah Praktis
Untuk menyiapkan generasi mujahid (pejuang), Langkah praktis yang bisa dilakukan oleh para ibu di era kini, antara lain: :
- Menanamkan sejak dini pada anak untuk memiliki visi besar.
Seorang mujahid harus tahu untuk apa dia hidup di dunia ini, dari mana ia berasal dan mau kemana setelah kehidupan dunia. Tanamkan amanah kepemimpinan pada anak. Ibu bisa memulai dengan obrolan akrab dan menyenangkan. Mulailah bertanya, “Masalah apa di dunia ini yang ingin kamu selesaikan? Bagaimana masalah itu kamu selesaikan? Dsb. Ini untuk menanamkan jiwa problem solver (pejuang solusi). Jika anak-anak belum tepat menyelesaikan masalahnya, maka bantu dan arahkan dengan tepat dan benar. Jangan terfokus pertanyaan, “Jika besar ingin menjadi apa? Pertanyaan seperti ini biasanya hanya terfokus pada profesi.
- Kurikulum Sirah Nabawiyah.
Nabi Muhammad saw. adalah idola, role mode umat. Oleh karena itu orangtua, khususnya ibu, harus mengenalkan sejak dini tentang Nabi Muhammad saw., perjuangannya, sejarah hidupnya dan seterusnya. Juga mengenaikan pahlawan Islam, agar anak-anak tidak mencari mencari idola fiktif yang tidak punya nilai perjuangan.
- Kedisiplinan ibadah sebagai latihan kepatuhan.
Mendisplinkan anak bisa dimulai sedini mungkin, dengan membiasakan anak untuk tepat waktu dalam beribadah, misal shalat, mengaji, puasa, dan sebagainya. Menanamkan kepada anak bahwa Allah Maha Melihat. Perbuatan kita selalu diawasi dan dilihat oleh Allah, dimanapun dan kapanpun. Karena itu kesungguhan dalam beribadah bukan karena dilihat dan diketahui oleh orang lain. Akan tetapi, semata karena Allah, demi mengharapkan ridha-Nya.
- Mengarahkan anak menjadi Mujahid Media Sosial.
Tak dipungkiri media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar pada terjadinya perubahan besar di masyarakat. Bahkan gelombang dukungan terhadap Palestina terus menggema di dunia saat ini, dan semakin banyak yang membenci Israel, tahu biadabnya Israel, dan pecundangnya para pemimpin negeri-negeri Muslim, ini tak lepas dari peran media sosial. Kini ruang digital sebagi lahan baru untuk berjuang dan berdakwah. Ibu harus turut mendidik anak agar tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi mengarahkan mereka agar mampu membuat konten untuk menyebarkan dakwah, menebar kebenaran, menguatkan semangat juang, dan menyampaikan amar makruf nahi mungkar. Ibu bisa mengajari anak tentang adab berkomunikasi di media sosial. Latih mereka untuk berani menyuarakan kebenaran dan beramar makruf nahi mungkar dengan cara baik lagi santun namun tegas di media sosial.
Belajar dari Para Ibu Palestina
Ketangguhan para ibu Palestina tak diragukan lagi. Bagaimana tidak. Di tengah kesulitan hidup yang menghimpit, akses pemenuhan kebutuhan hidup yang sulit, hidup di pengungsian, di tenda-tenda yang tentu jauh dari rasa nyaman dan aman. Kondisi seperti itu telah berlangsung lama. Namun, ada estafet antar generasi, ibarat patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu, tampak nyata di Palestina. Para ibu di Palestina pantang menyerah, pantang berputus asa. Mereka mengokohkan tauhid pada anak-anak sejak kecil, diajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga mereka memiliki keteguhan hati meski melihat kehancuran bangunan fisik di sekitarnya, tetapi tidak pada jiwa dan imannya.
Para ibu di Palestina mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai al-Quran. tidak sekadar menghafal namun juga memahami tafsir al-Quran yang dengan itu terbentuk visi dan misi hidup dengan jelas sesuai dengan ajaran Islam. Terpatri dalam jiwa mereka sebagai penjaga tanah suci amanah dari Allah. Meski tiap detik bersahabat dengan kematian, mereka tidak takut, mereka paham kematian sebagai syahid adalah sebuah kemuliaan di sisi Allah dan syahid adalah kematian terindah.
Sungguh para Ibu di Palestina memberikan contoh langsung bahwa seorang ibu yang tangguh akan melahirkan anak-anak yang berjiwa pejuang, mujahid masa kini.
Teladan
Khansa binti Amr (Ibunda Para Syuhada): Ia mendorong keempat putranya untuk maju ke medan Perang Qadisiyah. Saat putranya satu-persatu syahid di medan perang, Khansa tidak meratap, melainkan bersyukur kepada Allah SWT yang telah memuliakannya melalui kesyahidan keempat putranya. Inilah puncak pendidikan mujahid bermental baja.
Ibunda Imam Syafi’i: Ibu yang memiliki visi besar. Beliau rela melepas Syafi’i kecil, putra satu-satunya untuk merantau menuntut ilmu demi agama. Hasilnya, lahirnya sang “Mujahid Ilmu” yang karyanya abadi hingga saat ini.
Ibunda Muhammad Al-Fatih: Setiap pagi, ia membawa Al-Fatih kecil ke tepi pantai menghadap Konstantinopel dan berkata, “Engkaulah yang akan membebaskan kota itu.” Inilah contoh penanaman visi dan cita-cita besar sejak dini.
Kesimpulan
Generasi mujahid tidak terlahir secara instan. Mereka lahir melalu proses panjang. Lewat kesabaran, ketelatenan, dan ketegasan; namun penuh kasih sayang dan rasa lelah yang diubah dengan rasa bersyukur. Dari tangan seorang ibu yang memiliki visi besar, akan lahir generasi yang mengemban kepemimpinan untuk menata dunia sesuai aturan Allah SWT dan Rasulullah, demi mewujudkan rahmat lil ‘alamin yang dirasakan oleh semua. Tugas dan peran ibu ini akan terbantu jika sistem yang melingkupinya, yakni masyarakat dan negara mendukungnya. Akan tetapi, jika dua institusi ini masa bodah, maka tugas ibu semakin berat.
WalLâhu’alam. [Nabila Asy-Syafi’i]





