Dari Redaksi

G-20, Minus Empati Terhadap Dunia Islam

Perhelatan dunia Forum G-20 yang diselenggarakan di Bali berakhir sudah. Salah satu yang disebut hasil penting dari G-20 Bali Leaders Declaration adalah mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. Seperti yang disampaikan Presiden Jokowi sebagai tuan rumah, sebagian besar anggota sangat mengutuk perang di Ukraina. Kata mereka, hal itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk keadaan yang ada kerentanan dalam ekonomi global.

Dalam hal ini termasuk penolakan terhadap penggunaan senjata nuklir. Jokowi mengatakan penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir tidak dapat diterima. Penyelesaian konflik secara damai, upaya penanganan krisis, serta diplomasi dan dialog, sangat penting. Zaman sekarang tidak boleh ada perang.

Namun, kita patut menyayangkan Forum G-20 hanya mempersoalan invasi Rusia ke Ukraina. Mereka bungkam terhadap serangan keji yang menimpa negeri-negeri Islam. Satu hal yang nyata di depan mata adalah invasi dan pendudukan brutal entitas penjajah Yahudi di Palestina, yang tentu  telah menimbulkan korban dan penderitaan manusia yang luar biasa. Demikian juga invasi Amerika dan Rusia ke Suriah yang juga telah menimbulkan banyak korban. Jangan juga lupakan kekejaman Cina Komunis terhadap umat Muslim Uighur di Turkistan Timur, negeri Islam yang dianeksasi Cina, yang kemudian diberi nama Xinjiang atau daerah baru. Banyak penderitaan di Dunia Islam lainnya yang tidak dibahas seperti perlakuan rezim militan Hindu India, nasib umat Islam Rohingya di Myanmar.

Bisa disebut, forum ini minus empati terhadap Dunia Islam. Disayangkan, Indonesia yang menjadi tuan rumah, yang merupakan negeri Islam yang terbesar di dunia, termasuk juga Saudi yang juga menjadi anggota G-20, tidak tampak mengusulkan hal ini dalam forum internasional tersebut. Bagaimana membangun dunia yang damai kalau tanpa keadilan? Bagaimana mungkin berharap menciptakan perdamaian dunia, namun kejahatan negara-negara besar seperti Amerika, Inggris, dan Cina tidak dipersoalkan? Padahal penyebab utama berbagai konflik, perang di dunia saat ini tidak bisa dilepaskan dari kejahatan Amerika sebagai negara kapitalis yang rakus.

Forum G-20 juga sulit diharapkan untuk membangun dunia yang sejahtera. Yang nyaris tidak tersentuh dalam setiap kesepakatan dari G-20, bahwa penyebab kemiskinan dunia, ancaman kelaparan, krisis pangan adalah tatanan ekonomi global dunia yang diatur dengan prinsip-prinsip kapitalisme. Negara-negara besar kapitalis, terutama Amerika, telah menjadikan liberalisme ekonomi menjadi jalan penjajahan di dunia. Dengan menggunakan dua organ penjajahan ekonomi IMF dan Bank Dunia, negara-negara kapitalis dunia merampok dan memiskinan negara-negara berkembang yang sesungguhnya kaya.

Rezim mata uang dolar, pasar bebas, liberalisasi pasar, privatisasi milik rakyat, pengurangan subsidi, termasuk hutang luar negeri telah menjadi instrumen penjajah yang membawa penderitaan di dunia saat ini. Karena itu harapan untuk menyelesaikan persoalan kesejahteraan dunia, tinggal harapan kosong, selama dunia masih tunduk pada kapitalisme global yang dipimpin Amerika Serikat.

Adapun bantuan-bantuan terhadap negara berkembang atau negara miskin yang sering sekadar janji (komitmen), hanya pemanis kapitalisme global untuk meredam kemarahan dunia. Bukan menyelesaikan masalah. Pasalnya, itu memang tidak terkait dengan akar masalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan dunia.

Sekali lagi kita menegaskan forum-forum kapitalis dunia seperti G-7 atau G-20 tidak pernah akan menyelesaikan persoalan dunia. Justru forum seperti dirancang untuk memperkuat penjajahan negara-negara kapitalisme di dunia. Dunia saat ini membutuhkan ideologi yang bisa membawa kebaikan, kesejahteraan, keadilan dan keamanan dunia. Setelah keruntuhan Komunisme yang dipimpin Soviet, krisis Kapitalisme yang terus berulang saat sekarang ini, pilihan ideologi itu ada pada Islam. Islam sebagai agama wahyu diturunkan Allah SWT untuk memberikan kebaikan pada seluruh umat manusia (rahmatan lil ‘alamin). Islam bahkan telah terbukti lebih kurang 1300 tahun menjalankan misi ‘rahmah’ ini. Umat Rasulullah saw. sebagai khaliifah’ fii al-‘ardh, mampu dan terbukti telah memimpin umat manusia dan mengatur urusan-urusan umat manusia. Dimana pun umat Islam yang beriman kepada Allah SWT dan tunduk pada aturan-aturan Allah  SWT hadir, mereka telah memberikan kebaikan pada negeri itu.

Sistem ekonomi Islam yang global memastikan prinsip kesejahteraan dan keadilan pada seluruh umat manusia terwujud. Negara Khilafah menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat (sandang dan pangan) terpenuhi. Jaminan pendidikan unggul dan pelayanan kesehatan paripurna oleh negara akan membawa kesejahte-raan, bukan hanya untuk Muslim, tetapi juga warga negara yang non-Muslim. Kekayaan alam yang merupakan milik umum (milkiyah ‘âmmah) dipastikan dikelola dengan baik untuk rakyat. Tidak boleh dikuasai individu atau swasta, apalagi oleh kekuatan penjajah kapitalisme yang rakus.

Sistem politik Islam, yang bertumpu pada kedaulatan di tangan hukum syariah, memastikan hukum yang berlaku hanyalah hukum Islam. Intervensi kekuatan modal terhadap pembuatan hukum, seperti dalam sistem demokrasi yang menempatkan kedaulatan hukum kepada manusia, tidak akan terjadi. Hukum tidak bisa dikendalikan oleh segelintir pemilik modal untuk kepentingan mereka, seperti yang terjadi sekarang dalam sistem kapitalis. Bersamaan dengan itu, kekuasaan di tangan rakyat (as-sultan li al-ummah), akan memastikan rakyat memiliki hak untuk mengontrol kekuasaan. Dalam Islam, mengkoreksi penguasa (muhâsabah lil hukkâm), bukan hanya hak rakyat, tetapi  kewajiban syariah, yang pahalanya sangat besar. Sistem politik Islam mengabdi untuk kepentingan umat dengan tunduk pada syariah Islam, bukan pemilik modal.

Hanya saja, semua itu membutuhkan institusi politik negara  Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian (Khilâfah ‘alâ minhâj an-nubuwwah). Dengan dasar ideologi Islam dan membawa misi Islam, sistem Khilafah akan menjadi kekuatan politik dunia yang berpengaruh, menjadi negara yang kebijakan globalnya akan mempengaruhi dunia. Termasuk jaminan untuk tidak membiarkan ada kekuatan besar zalim yang mengendalikan dunia. Negara Khilafah akan menjadi negara besar bahkan adidaya yang bukan sekadar klaim. Khilafah nyata-nyata akan menjadi kekuatan politik yang bisa mempengaruhi konstelasi politik dunia. Semua ini tinggal menunggu political will (kemauan politik) umat. Pilihan kita saat ini,  terus menderita dalam sistem Kapitalisme yang penuh dengan jerat kemaksiatan yang membawa dosa, atau sejahtera dan berkah berlimpah pahala dengan sistem Khilafah.

AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 14 =

Back to top button