Ibrah

Fitnah Wanita

Allah SWT menciptakan manusia dengan membawa naluri dan syahwat. Di antara syahwat terbesar yang ada dalam diri laki-laki adalah ketertarikan terhadap wanita (QS Ali Imran [3]: 14). Karena itu Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Islam tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Islam tidak mengingkari adanya syahwat. Akan tetapi, Islam mengatur, mengarahkan dan menjaga syahwat agar tidak berubah menjadi fitnah yang menghancurkan agama, akhlak dan kemuliaan seorang hamba.

Fitnah wanita bukan hanya menimpa orang awam. Banyak ahli ibadah, ahli ilmu bahkan orang-orang yang sebelumnya dikenal shalih akhirnya tergelincir. Mereka tidak mampu menjaga pandangan, hati dan syahwatnya. Imam Ibnul Jauzi rahimahulLâh berkata, ”Betapa banyak ahli ibadah yang dirusak oleh wanita.” (Ibnu al-Jauzi, Talbiis Ibliis, hlm. 290).

Karena itulah para ulama salafush-shalih sangat keras dalam menjaga diri dari fitnah syahwat. Mereka memahami bahwa hati manusia itu lemah. Mereka takut terhadap dirinya sendiri. Mereka tidak merasa aman dari makar setan. Karena itu para ulama salafush-shalih tidak bermain-main dengan fitnah syahwat.

Diriwayatkan Ahmad bin Hanbal sangat menjaga pandangannya. Bahkan beliau tidak suka berjalan di tempat-tempat yang di situ banyak kaum wanita. Imam al-Marrudzi berkata, ”Abu Abdillah (Imam Ahmad) sangat menjaga pandangannya.” (Ibnu al-Jauzi, Manâqib al-Imâm Ahmad, hlm. 221).

Imam Ahmad dan umumnya para ulama salafush-shalih sangat memahami bahwa pandangan adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah iblis.” (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, 4/349).

Karena itu Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga pandangan (QS an-Nur [24]: 30). Pandangan yang dibiarkan liar akan melahirkan khayalan. Khayalan melahirkan syahwat. Syahwat melahirkan keinginan. Keinginan melahirkan dosa. Dosa akhirnya menghancurkan hati dan agama.

Kisah yang sangat masyhur adalah kisah Muhammad bin Idris asy-Syafii ketika ia mengadukan buruknya hapalan kepada gurunya, Imam Waki’. Ia berkata, ”Aku pernah mengadukan kepada Waki’ buruknya hapalanku. Lalu ia membimbingku agar meninggalkan maksiat. Ia memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya. Cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.” (Al-Baihaqi, Manâqib asy-Syâfii, 2/253).

Para ulama menjelaskan bahwa di antara sebab lemahnya hapalan Imam Syafi’i saat itu adalah karena ia tanpa sengaja melihat betis seorang wanita.

Lihatlah betapa sensitif hati para ulama salaf. Pandangan yang menurut banyak orang hari ini dianggap “biasa” justru membuat mereka gelisah, takut dan segera bertobat.

Hari ini manusia justru menikmati maksiat melalui layar ponsel di genggaman tangannya. Gambar-gambar aurat dilihat siang-malam. Video-video maksiat ditonton tanpa rasa malu. Lalu hati mengeras. Air mata mengering. Shalat kehilangan kekhusyukan. Al-Quran terasa hambar. Doa terasa berat menembus langit.

Karena itu Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, ”Aku tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada melawan diriku sendiri.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 7/62).

Ia juga sangat takut terhadap fitnah wanita. Bahkan disebutkan bahwa ia pernah segera berbalik arah ketika melihat seorang wanita lewat di hadapannya. Mengapa? Karena ia mengenal penyakit hati. Beliau tahu bahwa setan tidak pernah tidur.

Inilah benteng terbesar seorang Mukmin: rasa takut kepada Allah. Inilah yang melahirkan sikap murâqabah kepada Allah SWT. Bukan kamera CCTV. Bukan pengawasan manusia. Bukan pencitraan.

Diriwayatkan bahwa Rabi bin Khutsaim rahimahulLâh pernah melewati jalan yang di sana ada para wanita. Ia menundukkan pandangan dengan sangat kuat sampai-sampai orang-orang mengira beliau buta. Ia takut pandangannya mengkhianati hatinya (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 4/259).

Hari ini justru banyak manusia sengaja mencari tempat-tempat fitnah. Sengaja membuka pintu-pintu syahwat. Sengaja menikmati ikhtilâth tanpa kebutuhan. Sengaja bercanda dengan lawan jenis tanpa batas. Bahkan sebagian orang menganggap semua itu sebagai “kemajuan”, “pergaulan modern” atau “kedewasaan”.

Padahal hati manusia tidak diciptakan dari besi. Imam Hasan al-Bashri berkata, ”Kemuliaan seseorang akan terus hilang ketika ia mulai menganggap biasa ihwal memandang wanita.” (Ahmad, Az-Zuhd, hlm. 104).

Generasi salafush-shalih bukan malaikat. Mereka manusia biasa. Akan tetapi, mereka sangat mengenal jalan-jalan setan. Mereka tidak merasa aman dengan ilmu mereka. Mereka selalu takut kalau-kalau syahwat merusak seluruh amal mereka.

Hari ini fitnah wanita jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan masa lalu. Dulu orang harus keluar rumah untuk melihat aurat. Sekarang aurat masuk ke kamar-kamar kita melalui layar ponsel. Dulu orang harus mendatangi tempat maksiat. Sekarang tempat maksiat masuk ke genggaman tangan kita. Dulu setan membisikkan maksiat secara perlahan. Sekarang setan bekerja melalui algoritma.

Karena itu benteng keimanan harus diperkuat. Menjaga pandangan bukan lagi sunnah tambahan. Ia telah menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan hati. Imam Ibnul Mubarak rahimahulLâh berkata, ”Betapa banyak satu pandangan menanamkan syahwat dalam hati pemiliknya.” (Ibnul Jauzi, Shifat ash-Shafwah, 3/307).

Alhasil, jangan remehkan dosa pandangan. Jangan anggap ringan khalwat. Jangan biasakan bercanda dengan lawan jenis. Jangan merasa aman dari fitnah syahwat. Satu pandangan haram bisa menjadi awal kehancuran panjang.

Betapa banyak rumah tangga hancur karena chat haram. Betapa banyak aktivis dakwah jatuh karena zina. Betapa banyak penuntut ilmu rusak karena syahwat tersembunyi. Betapa banyak ahli ibadah kehilangan kemuliaannya karena gagal menjaga mata dan hati.

Karena itu para ulama dulu lebih takut terhadap syahwat tersembunyi daripada musuh yang terlihat. Mereka menjaga hati mereka sebagaimana seseorang menjaga mahkotanya yang sangat berharga.

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 10 =

Check Also
Close
Back to top button