Baiti Jannati

Menyiapkan Keluarga Menghadapi Tantangan Dakwah

Dakwah merupakan misi  yang agung dan  mulia. Misi para nabi dan rasul yang mulia.

Hanya saja, medan dakwah  bukanlah hamparan permadani yang hijau. Berhiaskan bunga-bunga di sekitarnya. Jalan dakwah sering diliputi oleh berbagai rintangan. Rintangan dan ujian di jalan dakwah adalah niscaya. Ia pasti akan menghampiri. Jangan pernah berhenti. Para nabi dan pengikutnya pun tak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian.

Menghadapi berbagai tantangan dakwah ini tidak hanya berkaitan dengan diri para pengemban dakwah saja, tetapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Tidak lain adalah para anggota keluarga mereka. Seorang pengemban dakwah bisa jadi sekaligus sebagai ayah. Penanggung jawab keluarga. Ia berperan besar dalam menghidupi keluarganya dan membimbing istri dan anak-anaknya sehingga menjadi pengemban dakwah yang handal.  Seorang pengemban dakwah bisa juga sekaligus  sebagai istri dan ibu. Ia pun memiliki kewajiban sebagai partner suaminya, juga pengasuh dan pembimbing anak-anaknya agar menjadi para pengemban dakwah yang tangguh.

Ikatan keluarga yang kokoh ini akan memunculkan tim yang baik sebagai pejuang Islam yang tangguh. Kuat memikul tanggungjawab di tengah-tengah umat. Bergerak bersama-sama pengemban dakwah lainnya. Melawan segala macam rintangan yang menghadang. Tentu untuk membawa umat Islam menjadi sebaik-baik umat di tengah-tengah manusia.

 

Teladan Rasulullah saw. dan Para Sahabat

Mempersiapkan keluarga bahkan keluarga besar untuk sama-sama memahami pentingnya dakwah sebagai poros hidup merupakan proyek besar dan membutuhkan perjalanan panjang. Risiko dakwah pun bukan hanya sekadar dihadapi oleh pengembannya saja, melainkan juga oleh keluarganya. Anak dan istri harus turut menanggung beban sosial dari masyarakat jika suami dan ayahnya atau ibunya yang pengemban dakwah dicap negatif sebagai ‘radikal’, ataupun bahkan dipersekusi oleh rezim. Mereka harusnya menjadi orang-orang pertama yang membela dakwah. Merekalah orang-orang pertama yang terus memompakan semangat perjuangan.

Itulah yang dilakukan oleh Rasul saw. dan para Sahabat.  Bunda Khadijah ra., istri Rasulullah saw., menyumbangkan hartanya untuk mendukung dakwah suaminya. Ia beriman saat orang lain kufur kepada beliau. Ia mencintai beliau ketika orang lain membenci beliau. Ia membela beliau saat kaum Quraisy berupaya untuk membunuh beliau. Yasir, Sumayah  dan putra mereka Amar bin Yasir  berjuang di jalan Allah. Umar bin al-Khaththab, sahabat Rasulullah dan putranya, Abdullah bin Umar adalah orang-orang yang berjuang bersama beliau dan menjadi salah satu rujukan di kalangan sahabat. Dengan cara seperti itu, tantangan sebesar apapun akan dihadapi bersama oleh keluarga. Dengan itu pula risiko yang dirasakan akan lebih ringan. Sebaliknya, tanpa mempersiapkan keluarga dalam satu barisan dakwah Islam, boleh jadi tantangan justru datang dari keluarga sendiri.

Terkait masalah ini kita perlu banyak belajar meneladani perilaku Rasulullah saw., Sahabat dan orang-orang shalih.

 

  1. Menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan.

Setiap anggota keluarga harus memiliki pemahaman yang kuat bahwa dakwah  merupakan pilihan dan poros kehidupan mereka. Kita telah memilih dakwah sebagai poros kehidupan. Rasulullah saw. mencontohkan betapa dakwah menjadi poros hidup beliau. Ketika para pembesar Quraisy mendatangi pamannya untuk meminta beliau menghentikan aktivitas dakwah, beliau menyatakan dengan tegas, “Andai mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini maka hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di jalannya, aku tak akan meninggalkan dakwah ini.” (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibnu Hisyâm, I/266).

Sudah seharusnya, umat Islam menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan mereka. Kedua orangtua menanamkan hal ini kepada anak-anak sejak dini sehingga mereka menjadi para pembela dakwah.  Dengan demikian rintangan, tantangan dan hambatan apapun di jalan dakwah akan disikapi sebagai risiko atau konsekuensi perjuangan.

Dakwah juga sangat penting dalam membangun keluarga pejuang. Allah SWT memerintahkan kepada umat Nabi Muhammad saw. untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS at-Tahrim []: 6). Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Rasulullah saw. melakukan dakwah pertama kali kepada istrinya, keponakannya, pembantunya dan kawan terdekatnya. Tanpa dakwah, Islam tidak akan tegak. Dakwah merupakan pilar kebaikan individu, keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan merupakan suatu keniscayaan.

 

  1. Memahami bahwa tidak ada perjuangan tanpa risiko.

Sudah merupakan sunnatullâh, jalan dakwah itu terjal. Dulu Rasulullah saw. dan para Sahabat ditimpa kesulitan yang luar biasa; juga kesempitan, bahaya dan berbagai peristiwa yang mengguncangkan. Begitu beratnya cobaan yang menimpa kaum beriman di jalan dakwah tersebut hingga mereka bertanya kepada Nabi saw., “Matâ nashrullâh?” Allah pun cukup menjawab dengan menyatakan, “Ingatlah, pertolongan Allah itu dekat.” (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 214). Para Sahabat pun bersabar dalam kondisi demikian. Mereka memahami betul bahwa tidak ada perjuangan tanpa risiko.

Sikap ini pula yang kita pupuk dalam keluarga kita. Dengan itu tantangan apapun yang menghadang tidak akan menyurutkan langkah sedikitpun dalam perjuangan demi tegaknya syariah di muka bumi.  Tentu dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa, kecuali hal tersebut adalah yang terbaik dari Allah SWT  (QS at-Taubah [9]: 51).

 

  1. Taqarrub kepada Allah.

Tantangan dakwah akan dapat dihadapi dengan semakin dekat kepada Allah SWT. Pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT akan menjadikan kita kekasih-Nya. Semakin kita mendekat kepada Allah, Dia pun semakin dekat kepada kita. Pada saat itulah pertolongan, bantuan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah Rabbul ‘alamîn.

Dengan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah berarti kita telah mengundang bantuan, pertolongan dan pemeliharaan dari Diri-Nya. Baginda Rasulullah saw. juga bersabda, “Pada setiap malam Rabb kami tabaraka wa ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada Diri-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa saja yang meminta kepada Diri-Ku, Aku akan memngabulkan permintaannya. Siapa meminta ampunan kepada Diri-Ku, Aku pun akan mengampuni dia.’” (HR Bukhari Muslim).

Pada saat tahajud inilah setiap orang bisa mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Insya Allah, Allah akan memberi dia solusi.   Taqarrub kepada Allah juga dapat berupa shalat dhuha, membanyak zikir, berdoa, shaum sunnah, tilawah al-Quran dan banyak ber-muhasabah.

 

  1. Sabar Menghadapi Berbagai Tantangan Dakwah

Tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan sikap menerima apa yang ada (qana’ah), syukur, sabar dan tawakal. Kesulitan dan tantangan dihadapi dengan penuh kesabaran. Dalam kesabaran, Allah akan memberikan bantuan sehingga kesulitan dan tantangan itu akan dapat diselesaikan. Memang, kalau menggunakan logika, boleh jadi sulit dipahami, apa hubungan sabar dengan solusi. Padahal bukan sabar itu sendiri yang menjadi solusi, melainkan dalam keadaan sabar tersebut Allah SWT memberikan pertolongan-Nya. Pertolongan Allah SWT itulah yang menjadikan solusi itu datang (QS al-Baqarah [2]:153).

Rasul saw. telah memberi teladan bagi kita, bagaimana seharusnya pengemban dakwah senantiasa bersikap sabar tanpa batas, istiqamah dengan fikrah dan thariqah dakwah. Dengan itu setiap benturan dakwah apapun bentuknya tidak mengurangi sedikitpun keberanian menyampaikan dakwah hingga tercapainya tujuan. Setiap benturan dakwah justru menjadikan Rasul saw. bertambah gencar dakwahnya.

 

  1. Tawakal.

Kita harus siap menghadapi keadaan apa pun dalam dakwah. Tidak boleh takut dan gentar akan ancaman apapun.  Ingatlah, tidak ada seorang pun bisa menjatuhkan dharar kepada kita kecuali dengan izin Allah SWT (Lihat: QS al-Mujadilah []: 10).

Allah SWT menjelaskan bahwa pembicaran rahasia yang bertujuan untuk menjatuhkan dharar bagi orang beriman sama sekali tidak bisa menimpakan dharar bagi mereka. Seandainya pun  terjadi, itu bukan karena kekuasaan dan kehebatan mereka, tetapi karena bi idzniL-lâh. Allah SWT memerintahkan kepada kaum Mukmin untuk bertawakal kepada Allah SWT menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Inilah yang kita lakukan. Kita yakin, seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan membiarkan dan menelantarkan hamba-Nya yang berjuang untuk menegakkan agama-Nya. Besarnya tantangan dan gangguan justru akan membuat keimanan kita semakin meningkat. Pahalanya pun semakin besar, insya Allah.

WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Najmah Saiidah]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + six =

Back to top button