
Rezim Muslim Berkhianat dengan Dukung 21 Poin Trump
Situs resmi Hizbut Tahrir menilai rezim di sejumlah negeri Islam telah berkhianat karena menyambut dan mendukung 21 poin proposal demiliterisasi dan deradikalisasi di Gaza yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
“Rezim di negeri-negeri Islam mengonfirmasi pengkhianatannya dengan menyambut rencana Trump,” tulis situs hizb-ut-tahrir.info, Kamis (2/10/2025).
Menurut HT, persetujuan tersebut merupakan aib, hina dan nista bagi para penguasa Muslim dan mereka yang mengikuti serta menjadi pendukungnya. Pasalnya, itu berarti menyerahkan kendali urusan mereka kepada Amerika Serikat dan menyambut rencana jahat serta kendalinya atas negeri Islam.
Bagaimana tidak, jelasnya, mujahidin harus dilucuti, tetapi para agresor kriminal tidak boleh dilucuti dan dihukum berat dengan menghapus pengaruh mereka dari tanah suci yang merupakan kiblat pertama dari dua kiblat dan Masjid ketiga dari dua Masjid Suci.
“Bahkan mereka (para penguasa Muslim) tetap bungkam tentang kejahatannya di Gaza selama dua tahun. Negara-negara yang telah menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi melanjutkan normalisasi hubungan diplomatik dan perdagangan mereka. Ini merupakan bentuk dukungan atas apa yang dilakukan entitas Yahudi,” jelasnya.
Seperti diketahui, sejumlah para penguasa Dunia Islam menyatakan persetujuan proposal Trump. Qatar misalnya. Melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Anshari, mengumumkan dukungannya terhadap rencana Trump, yang digambarkan sebagai model komprehensif untuk mengakhiri perang.
Majed al-Anshari menyatakan, Qatar dan Mesir telah menyampaikan rencana tersebut kepada Hamas. Mereka beserta Turki akan bertemu dengan delegasi negosiasi Hamas. Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman menyambut baik langkah tersebut. Demikian pula Presiden Turki Erdogan. Dia mengatakan, “Saya mengapresiasi upaya Presiden AS Trump dan kepemimpinannya untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza dan mencapai gencatan senjata.”
Perdana Menteri entitas Yahudi, Netanyahu menyambut baik rencana tersebut karena dirancang oleh dirinya dan Trump, serta sesuai dengan tujuannya. Dalam kunjungannya ke AS dan pertemuannya dengan Trump, ia berkata, “Ini adalah kunjungan bersejarah ke Amerika. Alih-alih Hamas mengepung kami, kami justru membalikkan keadaan dan mengepung mereka. Kini seluruh dunia, termasuk dunia Arab dan Islam, menekan Hamas untuk menerima syarat-syarat yang kami tetapkan dengan Presiden Trump. Syarat-syarat ini mencakup pembebasan semua sandera kami, baik yang hidup maupun yang mati, sementara pasukan (Israel) tetap berada di sebagian besar Jalur Gaza.”
Dengan demikian, sebut hizb-ut-tahrir.info, rencana tersebut dianggap sebagai kemenangan bagi entitas Yahudi: lolos dari hukuman atas kejahatannya selama dua tahun terakhir di Jalur Gaza; memperoleh kendali keamanan atas Jalur Gaza, dan memastikan penyerahan diri dan pelucutan senjata para pejuang perlawanan terhadap pendudukannya.
Hal ini juga, ungkap hizb-ut-tahrir.info, dianggap sebagai kemenangan bagi Amerika karena mempertahankan entitas Yahudi sebagai basisnya dan lolos dari pertanggungjawaban serta hukuman. []





