Analisis

Masa Depan Milik Islam

Di dalam kitab Dukhûl al-Mujtama’, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahulLâh mengatakan:

وتظل المعركة دائرة بين الإسلام وبين الكفر حتى يهزم الكفر وينتصر الإسلام

Perang antara Islam dan kekufuran akan terus berlangsung hingga kekufuran itu tumbang dan Islam memperoleh kemenangan.

 

Apa yang disampaikan oleh beliau diatas menggambarkan realitas atau fakta  yang dapat dengan mudah kita indera sekarang ini.

Sejak Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal at-Tarturk pada 3 Maret 1924, umat Islam di berbagai belahan muka bumi mengalami berbagai bentuk penindasan. Hal ini tidak lain akibat lemahnya kekuatan umat Islam. Umat Islam yang dulunya hidup di bawah satu kepemimpinan, menjadi hidup terpecah menjadi 57-an negara.

Namun, ghirah perjuangan umat Islam untuk bangkit dari segala macam bentuk penindasan tersebut tidak pernah padam. Hal ini tidak lain karena mulai munculnya kesadaran dalam diri umat Islam bahwa sejatinya telah terjadi kezaliman terhadap umat Islam akibat sistem Islam tidak diterapkan. Adanya kesadaran inilah yang semakin membuat ghirah perjuangan umat Islam semakin tinggi.

Adanya kesadaran dalam diri umat ini tentu penting. Syaikh Ahmad ‘Athiyat, di dalam bukunya. Ath-Tharîq, mengatakan, “Kezaliman bukanlah faktor pendorong perubahan mendasar (revolusi). Namun, kesadaran akan adanya kezalimanlah yang mendorong revolusi tersebut.”

 

Arah Perubahan

Syaikh Ahmad ‘Athiyat, di dalam bukunya, Ath-Tharîq, mengatakan:

 

Sesungguhnya manusia tidak akan berpikir tentang perubahan, kecuali jika ia menyadari bahwa di sana ada realitas yang rusak, buruk, atau paling sedikit tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Agar di sana terjadi kesadaran (untuk berubah), maka harus ada penginderaan terhadap rusaknya realitas. Hanya saja, sekadar sadar terhadap kerusakan atau realitas yang rusak tidak cukup untuk melakukan perubahan. Selain sadar terhadap kerusakan realitas hidupnya, harus ada pula kesadaran terhadap realitas pengganti (realitas yang dicita-citakan) yang digunakan untuk mengganti realitas yang rusak tersebut.

 

Berdasarkan pernyataan di atas, perubahan tidak akan terjadi kecuali sebelumnya telah terwujud kesadaran di dalam diri umat. Umat sadar bahwa di tengah-tengah mereka telah terjadi kerusakan. Namun, kesadaran semacam ini belum cukup. Harus pula ada kesadaran terhadap realitas pengganti untuk menggantikan realitas yang telah rusak tersebut.

 

  1. Dari kesadaran emosional menuju kesadaran ideologis.

Memang setiap manusia memiliki potensi kehidupan (thaqah hayawiyyah) berupa gharîzah (naluri). Adanya rasa marah atau emosional saat agama Islam dihinakan, misalnya, adalah bagian dari gharîzah al-baqaa’, yang merupakan fitrah bagi manusia. Namun, hal ini tidaklah cukup. Harus ada kesadaran ideologis dalam diri umat bahwa segala macam bentuk penghinaan terhadap Islam dan ajarannya akan selalu berulang, khususnya yang dilakukan oleh Barat.

 

  1. Dari perubahan rezim ke arah perubahan sistem.

Setiap kali diadakan Pemilu, maka yang masih tertanam di dalam kepala masyarakat secara umum adalah adanya perubahan rezim/pemimpin. Padahal saat berbicara kepemimpinan, yang dilihat tidak hanya siapa yang menjadi pemimpin, namun juga dengan sistem kepemimpinan apa ia akan memimpin. Sistem kepemimpinan tentu sangat menentukan bagaimana seorang pemimpin akan memimpin kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selama tidak ada perubahan sistem, hanya terjadi perubahan rezim, maka sulit berharap akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Sistem yang baik tentu berasal dari Tuhan Yang Mahabaik, yakni Allah SWT. Itulah sistem Islam, yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Rasulullah saw. bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya. Itulah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya  (HR  Malik, al-Hakim dan al-Baihaqi).

 

Sistem Islam dalam kepemimpinan adalah Khilafah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاء كُلَّمَا هَلَكَ نَبيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ

Dulu Bani Israil selalu dipimpin/diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, datang nabi lain menggantikan-nya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Yang ada adalah para khalifah yang banyak  (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Khalifah adalah orang yang memimpin. Khilafah adalah sistem kepemimpiannnya, yakni sistem pemerintahan Islam.

 

  1. Dari perubahan lokal/regional ke arah perubahan global.

Ideologi yang sekarang mengatur peradaban dunia adalah ideologi Kapitalisme. Ideologi ini diemban olah Barat, dengan Amerika sebagai pengusung utamanya.

Dengan ideologi Kapitalisme tersebut, Amerika berupaya untuk menjadi seluruh negara-negara di dunia di bawah kendalinya. Baik dengan penjajahan langsung atau melalui para penguasa yang menjadi antek/kaki tangannya.

Hal ini seharusnya menjadi kesadaran di dalam diri umat. Umat harus sadar bahwa perubahan yang dikehendaki bukan bersifat lokal atau regional, namun perubahan secara global.

 

  1. Dari perubahan parsial ke perubahan total.

Perubahan pun tidak bisa dilakukan secara parsial, namun harus secara total, menyeluruh. Inilah perubahan yang efektif. Perubahan secara total akan berpengaruh terhadap semua bagian di setiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Saat meyakini bahwa Islam adalah solusi, maka solusi tersebut harus ditujukan pada semua hal. Allah SWT sendiri juga telah memerintahkan agar masuk ke dalam Islam secara total/menyeluruh atau kaffah. Tidak sebagian-sebagian, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  ٢٠٨

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

 

  1. Dari ketergantungan pada Barat menjadi independen.

Umat Islam juga harus meninggalkan sikap ketergantungan pada Barat. Masih banyak umat Islam yang menjadikan Barat sebagai rujukan peradaban. Padahal salah satu penyebab kemunduran bagi umat Islam adalah karena melemahnya pemahaman terhadap agama Islam. Ini salah satunya akibat pemahaman pola pikir Barat yang masuk ke dalam pemikiran umat Islam, seperti ide HAM, demokrasi, sekularisme dan lainnya.

Umat Islam kaya akan tsaqâfah Islam. Ini yang tidak dimiliki oleh agama dan ideologi selain Islam. Kekayaan tsaqâfah inilah yang dulu menjadikan Islam menjadi mercusuar peradaban di dunia. Bahkan Barat sendiri mengakui peradaban Islam.

Cendekiawan Barat yang Bernama Emmanuel Deutscheu yang berasal dari Jerman mengatakan, ”Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena itu sewajarnya-lah kami senantiasa mencucurkan airmata tatkala kami teringat akan saat-saat jatuhnya Granada.” (Granada adalah benteng terakhir Kekhilafahan Islam di Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa).

Hal senada diungkapkan oleh Montgomery Watt, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Jacques C. Reister juga berkomentar, ”Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Bahkan yang menarik sekaligus mengejutkan, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga diakui oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa.” (http://jakarta.usembassy.gov.).

 

Arus Perubahan Menuju Khilafah

Imam Taqiyuddin an-Nabhani berkata:

أَنَّ اْلأُمَّةَ اْلإِسْلاَمِيَّةَ مَنْكُوْبَةٌ بِبَلاَءَيْنِ: أَحَدُهُمَا أَنَّ حُكاَّمَهَا عُمَلاَءُ لِلْكُفاَّرِ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، وَثَانِيْهَا أَنَّهَا تُحْكَمُ بِغَيْرِ ماَ أَنْزَلَ اللهُ، أَيْ تُحْكَمُ بِنِظاَمِ كُفْرٍ

Sesungguhnya umat Islam telah mengalami tragedi dengan dua ujian: Pertama, para penguasa mereka adalah agen-agen kaum kafir penjajah. Kedua, diterapkan kepada mereka system hukum yang tidak diturunkan oleh Allah, yaitu diterapkan kepada mereka sistem kufur.”  (An Nabhani, Nidâ‘ Har, hlm. 48).

 

Oleh karena itu, agar umat Islam bisa mewujudkan perubahan yang terbaik, yang bisa memberikan keadilan dan kesejahteraan, serta menjadikan Islam dan umatnya mulia, tidak ada acara lain kecuali berpaling dari Barat, serta mengganti sistem kufur dari Barat dengan sistem Islam, yakni Khilafah.

Imam Taqiyuddin an-Nabhani juga telah menjelaskan apa itu Khilafah.

الخلافة هي رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di seluruh dunia untuk menegakkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

 

Khilafah akan mewujudkan ukhuwah umat Islam, menegakkan hukum-hukum syariah secara kâffah, serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Dengan itulah Islam akan kembali menjadi mercuar peradaban dunia, yang dulu telah terbukti menguasai 2/3 dunia selama kurang lebih 1.300 tahun lamanya. Allahu Akbar! [Adi Victoria; (Penulis & Aktivis Dakwah)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − fourteen =

Back to top button