Nafsiyah

Kebinasaan Para Penentang Dakwah

Perjalanan dakwah Rasulullah saw. adalah perjalanan dakwah penuh tantangan, namun diikuti  kemenangan demi kemenangan gemilang; diawali berbagai irhâshât (berbagai kejadian luar biasa pada hari kelahiran beliau, lalu ditutup dengan tegaknya Negara Islam di Yastrib (Al-Madînah al-Munawwarah). Negara inilah yang menegakkan syariah, menghidupkan dakwah dan futuuhaat ke berbagai negeri, mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan menuju satu cahaya (QS Ibrahim [14]: 1).

Sejarah telah berkisah, ada dua golongan manusia yang kontras dalam menyikapi seruan dakwah: (1) Golongan pendukung dan pejuang; (2) Golongan penjegal dan penentang. Keadaan golongan ini patut dijadikan pelajaran.

 

Rekam Jejak Para Penentang Dakwah

Sejarah telah mencatat rapor merah para penentang dakwah Rasulullah saw. Tinta-tinta hitam sejarah pun menjadi saksi kejahatan mereka. Bahkan al-Quran dan Hadis Nabi saw. telah memastikan adanya jejak-jejak keburukan tersebut dalam keumuman firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا وَنَصِيرٗا  ٣١

Demikianlah Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong (QS al-Furqan [25]: 31).

 

Ayat yang agung ini menyifati para penentang dakwah sebagai para penjahat (al-mujrimîn), dengan predikat ism al-fâ’il. Ini mengisyaratkan bahwa perbuatan jahat (jarîmah) telah melekat pada diri mereka; menjadi kebiasaannya menyesatkan manusia dari jalan Allah. Allah pun menyifati mereka sebagai golongan syayâthîn:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ١١٢

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (QS al-An’am [6]: 112).

 

Nama-nama seperti Abu Lahab dan istrinya (Ummu Jamil), Abu Jahal, al-Walid bin al-Mughirah, al-’Ash bin Wa’il as-Sahmi, ’Uqbah bin Abi Mu’ith dan kawan dekatnya (Ubay bin Khalaf), ’Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, Al-Aswad bin  ’Abdul al-Muthallib, An-Nadhr bin al-Harits, Al-Harits bin al-Thulathilah adalah sederetan nama yang memenuhi lembaran demi lembaran kelam sejarah. Syaikh al-Khudhari Beik (w. 1345 H) dalam Nûr al-Yaqîn, misalnya, menggambarkan profil al-‘Ash bin Wa’il dengan kejahatannya kepada Rasulullah saw. dan dakwah agungnya, diikuti bantahan Allah atasnya: “Di antara golongan penista adalah al-’Ash bin Wa’il al-Sahmi al-Quraysyi, ayah dari ’Amr bin al-’Ash r.a. Sosok ini sangat keras permusuhannya kepada Rasulullah saw. Dia mengklaim: Muhammad saw. mengelabui para Sahabatnya bahwa mereka akan hidup setelah kematian. Demi Allah, tiada yang membinasakan kita melainkan masa.”

Allah SWT lalu membantah klaimnya:

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ  ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup. Tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja (QS al-Jatsiyah [45]: 24).

 

Ayat agung ini dan yang semisalnya membantah setiap kejahatan kaum kafir Quraysyi kepada Rasulullah saw. dan dakwah. Ini menggambarkan urgensi wa’yu siyâsî (kesadaran politik) untuk mengidentifikasi setiap ancaman musuh, menyingkap kejahatan dan setiap rencana jahat mereka (kasyf al-khuthath), pertentangan pemikiran (ash-shirâ’ al-fikr). Syaikh ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam At-Taysîr fi Ushûl al-Tafsîr, ketika menjelaskan QS al-Baqarah [2]: 104 menuturkan bahwa ayat-ayat ini turun di Makkah kepada Rasulullah saw. menjelaskan perkara akidah Islam untuk membebaskan masyarakat kufur jahiliah dari kegelapan menuju cahaya Islam. Turunnya ayat-ayat ini pun mengungkapkan kerusakan akidah-akidah kufur, kesalahan keyakinan-keyakinan mereka dan berhala-berhalanya. Ayat-ayat ini menegakkan hujjah atas mereka secara pemikiran. Karena itu pertarungan dakwah Islam dengan kekufuran dan pengembannya merupakan pertarungan masalah akidah dan pemikiran.

 

Kebinasaan Bagi Para Penentang Dakwah

Tatkala kejahatan mereka semakin menjadi-jadi, Allah menurunkan firman-Nya:

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  ٩٤ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ  ٩٥ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ  ٩٦

Karena itu sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepada kamu) dan berpalinglah kamu dari orang-orang yang musyrik. Sungguh Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang mengolok-olokmu, (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan lain selain Allah. Mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya) (QS al-Hijr [15]: 94-96).

 

Syaikh al-Khudhari Beik menjelaskan bahwa Allah dalam ayat ini benar-benar telah menegaskan bahwa peringatan-Nya akan terealisasi. Ayat ini turun pada periode Makkah dan kebinasaan mereka terjadi pasca Rasulullah saw. hijrah. Abu Jahal, An-Nadhr bin al-Harits dan ’Uqbah bin Abi Mu’ith mati terbunuh secara menggenaskan. Abu Lahab, al-’Ash bin Wail, al-Walid bin al-Mughirah, Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, Al-Aswad bin  ’Abdul al-Muthallib adalah deretan penista yang mati pasca diserang penyakit mematikan. Merekalah orang-orang yang tercatat tidak berbuat melainkan kejahatan terhadap Islam hingga ajal menjemput.

Para ulama dan pakar sejarah menggambarkan nasib akhir para penista ini. Ibn Ishaq berkata: Yazid bin Ruman bercerita kepadaku dari Urwah bin Zubair atau orang selain Urwah bin Zubair dari kalangan pakar terpercaya, bahwa Malaikat Jibril as. pernah mendatangi Rasulullah saw. ketika orang-orang Quraisy thawaf di Baitullah dan Rasulullah Saw berdiri di sisinya. Jibril as. berjalan melewati Al-Aswad bin Al-Muthalib, kemudian melemparkan daun hijau ke wajahnya hingga ia pun buta. Jibril as. kemudian berjalan melewati Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, kemudian Jibril as. mendoakan keburukan pada perutnya hingga membengkak dan dia mati karena perut kembung. Jibril as. lalu berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, kemudian mendoakan keburukan agar bekas luka di bawah telapak kakinya kambuh kembali hingga membawa pada kematiannya. Jibril as. berjalan lagi melewati Al-’Ash bin Wail, kemudian mendoakan keburukan agar kaki bagian dalam Al-Aswad bin Wail terluka hingga mati. Jibril as. berjalan melewati Al-Harits bin al-Thulatilah sambil mendoakan keburukan ke kepalanya, kemudian kepalanya mengeluarkan nanah dan ia mati pun.

Merekalah golongan yang Allah umpamakan sebagai buih yang mengambang:

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ  ١٧

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberikan manfaat kepada manusia, ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (QS ar-Ra’d [13]: 17). []

 

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. [Irfan Abu Naveed]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 6 =

Back to top button