Siyasah Dakwah

Hizbut Tahrir Enabler Kebangkitan Islam Global

Mantan presiden AS Richard Nixon dalam bukunya tahun 1992, America and the Historical Opportunity, mengarahkan perhatian Barat dengan ucapannya:

 

Hanya ada dua elemen umum di dunia Islam: agama Islam dan masalah kekacauan politik. Islam bukan hanya agama, tetapi juga dasar peradaban besar. Kita berbicara tentang Dunia Islam sebagai entitas tunggal, bukan karena ada pusat politik yang mengarahkan politiknya, tetapi karena bangsa-bangsa pembentuknya berbagi arus politik dan budaya yang bersumber pada peradaban Islam. Pergerakan-pergerakan politik di berbagai negara di Dunia Islam dilakukan menurut satu ritme terlepas dari perbedaan antara negara-negara ini. Kesatuan dalam keyakinan dan politik ini memberikan solidaritas yang tidak solid tetapi nyata: ketika sebuah peristiwa berbahaya terjadi di bagian Dunia Islam maka akan terdengar gema dukungan di seluruh bagian Dunia Islam.

 

Perkataan Nixon ini adalah bentuk kejujuran pengakuannya terhadap kebesaran ajaran Islam. Bukti bahwa Islam selalu memiliki jawaban atas banyak pertanyaan besar manusia, termasuk soal pengembangan teknologi, masalah bernegara ataupun bagaimana menata dunia. Kesatuan ritme yang disebut Nixon menunjukkan bahwa umat Islam terus beresonansi meski keadaan mereka terpecah dan terbelah. Resonansi, dalam fisika, adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada benda lain yang bergetar dan memiliki frekuensi yang sama dengan sumber getar pertama.

Kekuatan resonansi umat ini tidak bisa dilepaskan dari kemunculan Hizbut Tahrir sejak pertengahan abad ke-20. Entitas non-negara ini, yang membawa risalah gagasan ideologis, telah menjadi enabler bagi kesadaran umat dan kebangkitan Islam serta berhasil berkembang di lebih dari 50 negara. Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berideologikan Islam dengan tujuan mengembalikan kehidupan Islam melalui institusi Khilafah. Karakternya sebagai instititusi pemikiran (kiyaan fikri) telah membuat dirinya menonjol dengan aktivisme politiknya bersama umat. Keunikannya karena ia memberikan definisi berbeda dari perpolitikan yang berkembang di alam sekuler demokrasi hari ini.

Karakter fikriyah–laa ‘unfiyah (berbasis gagasan dan tanpa kekerasan) dalam memperjuangkan gagasan Khilafah sangatlah melekat dengan Hizbut Tahrir. Ini juga yang menjadikan Hizbut Tahrir mudah menembus batas-batas penghalang fisik di antara kaum Muslim. Terutama saat memasuki abad ke-21 yang dikenal dengan borderless era. Kondisi ini mempercepat penetrasi pemikiran ideologis yang dibawa HT ke Dunia Islam yang berlanjut semakin panas saat memasuki dekade kedua abad ke-21.  Apalagi sejak tahun 2010-an, mulai terjadi tren kemunduran peradaban Barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Kemudian ada tren menguatnya kekuatan geoekonomi Tiongkok yang semakin mengancam secara material peradaban Barat.

Kita melihat tren sebagian besar negara Eropa dan bahkan Amerika Serikat selama beberapa tahun ini. Sebut saja kemenangan Trump 2016 di AS, Brexit di Inggris Raya, kebangkitan partai sayap kanan di Jerman, Bulgaria, Skandinavia, dan negara-negara Eropa lainnya. Semua ini jelas menunjukkan bahwa Barat sedang sakit dengan populisme. Sebagian besar rezim dunia Barat akhirnya kembali mundur menuju fasisme dan rasisme terang-terangan. Tren semacam itu menunjukkan adanya penurunan ideologis di masyarakat negara-negara Barat. Populisme mewabah ketika orang tidak lagi mendukung ide, program atau reformasi konkret. Sebagai akibatnya, muncul partai tradisional, tetapi mendukung wajah-wajah baru, yang memberikan ide-ide sederhana seperti ‘islamophobia’ dan slogan-slogan dangkal atau narasi tentang “ancaman eksternal”. Inilah, antara lian, yang memungkinkan insiden pembakaran Quran di Swedia terjadi beberapa waktu lalu.

Slogan-slogan dangkal dan murah ini efektif menyatukan suara rakyat Eropa. Inilah alasan mengapa beberapa partai tradisional dan politisi memutuskan untuk menggunakan populisme, dan khususnya, Presiden Macron mulai mengonsolidasikan masyarakat Perancis dalam menghadapi “ancaman Islam”.

Menurut Fadl Amzayev, tokoh Muslim dari Ukraina, semua ini adalah pertanda melemahnya kadar ideologis masyarakat Eropa dan bahkan AS. Sebenarnya ini menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi umat Islam yang ingin kembali ke arena dunia sebagai negara yang berpengaruh dan bahkan negara pemimpin. Tidak diragukan lagi, Kapitalisme berada dalam krisis saat ini, bersama dengan masyarakat Eropa dan Amerika Serikat, Sebaliknya, Islam sedang bangkit dan mengalami era kebangkitan yang belum pernah terjadi sebelumnya.1

 

Intangible Power

Islam mengajarkan bahwa selain kekuatan fisik yang tangible (tampak), juga terdapat kekuatan mental dan ruhiah yang lebih bersifat intangible (tidak tampak). Dua kekuatan terakhir ini tidak terlalu dikenal dalam peradaban Barat yang sangat empiris dan materialis. Padahal dua kekuatan ini, meski bersifat lebih abstrak, adalah bahan bakar energi paling ampuh bagi umat yang telah melalui tragedi dan krisis silih berganti.

Hizbut Tahrir memiliki keduanya: kekuatan gagasan dan kekuatan ruhiah yang semakin disadari banyak pihak akan keberpengaruhannya. Dengan pemikiran dan tsaqaafah Islamnya yang terkerangka, Hizbut Tahrir dengan mudah membaca kecacatan Kapitalisme, kerusakan demokrasi dan kebusukan sekulerisme. Ini adalah kapasitas langka yang dimiliki oleh umat Islam. Kapasitas HIzbut Tahrir inilah yang membuat dirinya bisa diterima umat dengan penerimaan mendalam karena membuat umat semakin tersadarkan dan tercerahkan dengan ideologi Islam. Terbukti dari ujung Barat ke Timur, pemuda-pemudi Hizbut Tahrir tak kenal lelah menyuarakan Islam, mengartikulasikan keresahan umat, berdiri di depan kezaliman dan menyingkap tabir penjajahan. Pemuda di Eropa berhasil menguak kebusukan nilai-nilai HAM, demokrasi dan kebebasan berekspresi. Mereka menjadi saksi akan kemunafikan nyata penguasa Eropa yang memendam kebencian mendalam terhadap Islam dan kaum Muslim. Pemuda di Amerika juga telah menjadi saksi kebangkrutan ekonomi dan kepunahan demokrasi di negara biangnya sendiri.

Di Dunia Islam, aktivisme pemudanya tidak kalah lantang. Kumandang para pemuda di Palestina dan Timur Tengah tidak kunjung berhenti mengungkap pengkhianatan penguasa Muslim terhadap tanah yang diberkati – Baitul Maqdis. Pemuda di Pakistan dan Asia Tengah juga lantang menyuarakan kezaliman Cina dan AS yang berebut tanah mereka yang kaya. Begitu pun pemuda-pemudi di Nusantara. Mereka juga terus bersuara kencang menolak proyek-proyek investasi yang digawangi Cina si Kapitalis Timur.

Kondisi Dunia Islam yang kebanyakan dipimpin oleh penguasa yang lemah dan pembebek membuat umat semakin menaruh harapan pada Hizbut Tahrir. Di berbagai negeri Muslim terjadi tren nyata keterpisahan penguasa dengan rakyatnya. Keterpisahan antara penguasa dan rakyat ini merupakan konsekuensi logis dari penerapan ideologi Kapitalisme dan sistem politik demokrasi. Doktrin Kapitalisme menyatakan peran negara dalam mengurus kepentingan umum harus seminimal mungkin. Konsekuensinya, negara (pemerintah) tidak memperhatikan kepentingan masyarakat.

Alhasil, realita yang ada menunjukkan bahwa pemerintah (penguasa) bukannya memelihara kepentingan rakyat, tetapi justru melayani majikannya si penjajah. Penguasa demikian dinilai oleh Nabi saw. sebagai seburuk-buruknya penguasa. Nabi saw. bersabda, “Sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah al-Hathamah (mereka yang menzalimi rakyatnya dan tidak menyayangi mereka).” (HR Muslim).

 

Butuh Tatanan Dunia yang Baru

Tatanan dunia yang dibangun Barat sejak awal abad ke-20 adalah produk pergulatan ideologi sekulerisme yang menghasilkan identitas peradaban sekuler dan Kapitalisme global. Selama dua abad kita bisa melihat kontraksi peradaban di era Perang Dunia, Perang Dingin hingga perang terhadap terorisme yang dilancarkan Amerika Serikat.

Awal abad ke-20 umat Islam kehilangan perisainya. Mereka pun terpecah dan tersekat akibat gelombang nasionalisme dan dekolonialisme. Ideologinya juga meredup. Akibatnya, umat hanya sanggup menjadi penonton perseteruan dua ideologi besar Kapitalisme vs Sosialisme selama Perang Dingin; termasuk menyaksikan kemenangan blok Barat pada dekade terakhir abad ke-20, yang mengantarkan pada globalisme internet unilateral, permulaan era borderless lahir.

Kebangkitan Islam yang sedang mencari kembali habitat bernegaranya yang asli telah membuka babak baru di dekade pertama abad ke-21. Pada abad ini ancaman Islam bagi Barat sudah semakin nyata. Genderang perang panjang terhadap terorisme (Islam) pun dibunyikan AS. Namun, manuver AS ini malah mengantarkan titik balik luar biasa dengan adanya Arab Spring yang tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial dengan revolusi Facebook dan Twitter-nya. Di bawah Biden sekarang, kondisi demokrasi AS semakin rapuh dan banyak pihak mengkhawatirkan keruntuhannya.

Semakin melemahnya Kapitalisme dan negara-negara besar pengusungnya mengindikasikan ada kekosongan dalam kepemimpinan di Dunia Islam. Kini kekosongan ini hanya bisa diisi oleh generasi baru politisi dan penguasa Muslim. Generasi pemimpin Muslim ini memegang visi alternatif tatanan dunia baru. Mereka tidak akan tunduk pada AS yang sedang sakit. Mereka menganggap hanya agama mereka yang unggul, yang keunggulannya tidak bisa dilampaui. Mereka menganggap politik sebagai aktivitas pengurusan umat Islam, domestik dan internasional, dengan aturan syariah Islam. Merekalah yang dapat menyelamatkan seluruh dunia dari jurang yang dalam yang digali AS untuk dirinya, dalam keserakahan dan kesombongannya. Jika saja elit penguasa hari ini mau belajar dan mengambil pelajaran, mereka akan menarik dukungan mereka dari sistem politik lama yang gagal, untuk mendirikan sistem politik baru, yaitu Khilafah di atas metode Kenabian. Saat itulah umat Islam akan kembali ke kejayaannya. Sebaliknya, kelemahan dari apa yang disebut kekuatan besar dunia, akan terungkap sepenuhnya.2

Begitulah, kontraksi peradaban akan terus bergulir, seiring umat Islam yang kian beresonansi. HIzbut Tahrir juga akan senantiasa hadir bersama umat mewakili kekuatan Islam yang mampu mengimbangi pertarungan gagasan dengan ideologi lain. Hizbut Tahrir akan terus mengambil peran sebagai enabler umat yang terus memungkinkan perjuangan umat beresonansi yang dipandu oleh sistem kode dari akidah dan syariah Islam dalam gerak irama yang satu. Sampai pertolongan Allah datang. Niscaya kuasa Allah itu dekat.

وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ  ٦٣

Allah mempersatukan hati mereka (kaum Mukmin). Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS al-Anfal [8]: 63).

 

WalLâhu a’lam. [Dr. Fika Komara; Anggota Kantor Media Pusat HizbUt Tahrir]

 

Catatan kaki:

1        Fadl Amzayev, The Attacks on Islam in France are Signs of Populism and a Deep Ideological Crisis in Europe  http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/news-comment/20513.html

2        Musab Umair, Three Lessons for the People of Power, in the Muslim World, from Biden’s 2023 State of the Union Address https://hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/articles/politics/24186.html

 

 

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =

Back to top button