Tafsir

Berita Tentang Jin (2)

(Tafsir QS al-Jin [72]: 1-5)

قُلۡ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا  ١ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَ‍َٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا  ٢ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا  ٣ وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا  ٤ وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا  ٥

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Quran yang kubaca).” Lalu mereka berkata, “Sungguh kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, yang memberikan petunjuk pada kebenaran sehingga kami pun mengimaninya dan tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun. Sungguh Mahatinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. Sungguh orang yang bodoh di antara kami selalu mengucapkan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah. Sungguh kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.” (QS al-Jin [72]: 1-5).

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا  ١

Lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan.”

 

Huruf al-fâ‘ di sini adalah harf ‘athaf.1 Kata tersebut memberitakan perbuatan secara tertib atau berurutan tanpa disertai dengan jeda yang panjang. Perkataan itu mereka sampaikan tak berselang lama sesudah mendengarkan al-Quran. Perkataan tersebut ditujukan kepada sesama mereka, bangsa jin.2 Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ  ٢٩

Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan (QS al-Ahqaf [45]: 29).

 

Sebagaimana disitir al-Quran, mereka menyebut al-Quran sebagai [عَجَبًا] (menakjubkan).3 Kata tersebut merupakan mashdar  yang bermakna [الْعَجِيبُ] (menakjubkan, luar biasa). Al-Quran disifati dengan mashdar berguna li al-mubâlaghah (untuk melebihkan).4 Artinya, di luar batas yang semisalnya, baik dari segi kefasihan kalimatnya maupun kejelasan nasihatnya. Bisa juga keagungan berkahnya yang sangat langka serta tidak ditemukan pada yang semisalnya.5

Bisa juga ada penghilangan mudhâf, yakni [ذَا عَجَب] (memiliki ketakjuban),6 atau mashdar yang bermakna isim al-fâ‘il, yakni [معجبًا]  (membuat takjub).7

Kata [الْعَجِيبُ] menunjuk pada sesuatu yang sangat bagus, yang keluar dari kebiasaan semua Kitab Ilahiyah yang semisalnya. Apalagi jika dibandingkan dengan perkataan manusia.8 Hal itu tampak jelas pada kefasihan, kandungan isinya dan yang lainnya.9

Menurut Wahbah az-Zuhaili, al-Quran disebut sebagai sesuatu yang menakjubkan karena susunannya yang sangat indah dan maknanya yang sangat detail. Demikian juga kefasihan dan kepadatan makna yang terkandung di dalamnya, yang berbeda dengan ucapan manusia.10

Menurut Muhammad Ali ash-Shabuni, jin yang kembali kepada kaumnya itu berkata, “Kami mendengar sebuah kitab suci yang mengagumkan. Susunannya menarik hati. Sastranya sempurna dan mengandung banyak hikmah serta nasihat.”11

Tujuan dari informasi yang mengabarkan bahwa jin mau mendengarkan al-Quran itu adalah untuk mencela kafir Quraisy dan bangsa Arab yang menolak beriman. Ternyata jin lebih baik daripada mereka dan lebih cepat beriman. Ketika mendengar al-Quran, mereka langsung mengagungkan dan mengimaninya. Mereka lalu kembali kepada kaumnya  sebagai pemberi peringatan. Berbeda dengan bangsa Arab. Meskipun al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka, mereka justru mendustakan dan menertawakannya. Padahal mereka tahu bahwa al-Quran adalah kalam mukjizat, sementara Muhammad adalah orang buta huruf ummi, tidak bisa baca-tulis. Karena itu betapa jauhnya perbedaan sikap antara jin dengan manusia.12

Menurut Fakhruddin ar-Razi, pemberitaan tersebut memberikan beberapa faedah. Pertama: Mereka mengetahui bahwa Nabi saw. selain diutus untuk manusia, juga diutus untuk jin. Kedua: Kaum Quraisy menjadi tahu bahwa jin, dengan segala pembangkangannya, masih mau mendengarkan al-Quran dan mengetahui kemukjizatannya. Ketiga: Kaum tersebut mengetahui bahwa jin juga mukallaf seperti manusia. Keempat: Mereka juga mengetahui bahwa jin mau mendengarkan firman Allah SWT dan memahami bahasa-Nya. Kelima: Memberitahukan bahwa jin yang Mukmin mengajak jin lainnya untuk beriman. Dalam semua aspek itu terdapat banyak kemaslahatan jika diketahui oleh manusia.13

Allah SWT berfirman:

يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَأ‍مَنَّا بِهِۦۖ ٢

…yang menunjukkan pada kebenaran sehingga kami pun mengimaninya.

 

Setelah menyampaikan kekaguman mereka terhadap al-Quran dari aspek kelebihan dan kemukjizatannya, mereka kemudian menyampaikan isi kandungannya dengan sangat jelas. Itu menunjukkan bahwa mereka telah berhasil menyelami makna-makna di dalamnya dengan ugkapan yang sangat bagus, yakni menyebut: [يَهْدِيْ اِلَى الرُّشْدِ] (menunjukkan pada kebenaran).

Kata [الرُّشْدِ] bermakna kebalikan dari kata [الْغَيِّ] (kesesatan). Kata tersebut digunakan untuk menyebut [اَلْهِدَايَةِ] (petunjuk). Dikatakan [رَشَدَ يَرْشُدُ] (menunjukkan, membimbing). Ini seperti dalam firman-Nya:

قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ ٢٥٦

Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat (QS al-Baqarah [2]: 256).14

 

Menurut az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan al-Andalusi, al-Quran mengajak pada [اَلصَّوَابُ] (kebenaran).15

Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, al-rusyd adalah [على الحقّ وسبيل الصواب] (berada di atas al-haqq dan jalan kebenaran).16

Pengertian lain disampaikan oleh as-Samarqandi. Menurut as-Samarqandi, maknanya adalah mengajak pada petunjuk, yakni Islam.17

Menurut Muhammad Amin, al-rusyd adalah al-haqq, kebenaran, serta kebaikan dunia dan agama. Disebutkan dalam Hadis Nabi saw.:

قُلِ اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِى رُشْدِى

Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku ar-rusyd (HR at-Tirmidzi).

 

Maknanya, memberikan petunjuk kepada kemaslahatam agama dan dunia, sehingga termasuk di dalamnya at-tawhîd dan attanzîh. Hakikat ar-rusyd adalah al-wushûl ilâL-lâh ta’âlâ (sampai kepada Allah SWT).18

Ibnu ‘Asyur menyebut ar-rusyd sebagai al-khayr (kebaikan), ash-shawâb (kebenaran) dan al-hudâ (petunjuk).19

Menurut Abu Bakar al-Jaziri, al-Quran menujukkan pada kebenaran) dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan.20

Menurut Abdurrahman as-Sa’di, ar-rusyd adalah kata yang mencakup segala sesuatu yang membimbing manusia pada kebaikan dunia dan agama mereka.21

Ada yang mengatakan, maksudnya adalah menunjukkan pada pengenalan kepada Allah (ma‘rifatullâh). Kalimat ini merupakan sifat yang lainnya untuk al-Quran.22

Demikianlah penjelasan para ulama tentang makna ar-rusyd. Kata tersebut berarti kebenaran, petunjuk, dan kebaikan. Ada juga menafsirkan kata tersebut dengan  tauhid dan Islam. Ini karena ajaran dan Islam berisi tentang kebenaran dan kebaikan.

Kemudian diberitakan sikap mereka terhadap al-Quran tersebut. Mereka mengatakan: [فَآمَنَّا بِه] (lalu kami pun mengimaninya). Dhamîr al-hâ‘ pada frasa  [فَآمَنَّا بِهِ]  menunjuk pada al-Quran. Artinya: Kami telah mendapatkan petunjuk dengan al-Quran dan kami membenarkan bahwa al-Quran berasal  dari sisi Allah SWT.23 

Kata: [فَآمَنَّا بِه] (lalu kami pun mengimani al-Quran itu) memberikan makna: “Semuanya (seluruh jin) yang mendengarkan al-Quran tidak ada satu pun yang ketinggalan dan ragu setela mendengarkan kitab tersebut.”24 

Menurut Sayyid Thanthawi, sekelompok jin itu menyifati al-Quran sebagai kitab  yang menakjubkan serta menunjukkan ke jalan yang lurus. Itu menunjukkan bahwa mereka sangat terpengaruh dan sangat terkagum-kagum dengan al-Quran dari segi susunannya yang sangat sempurna, usluub-nya yang sangat bijaksana dan maknanya yang sangat bagus. Lalu mereka segera mengumumkan keimanan mereka tanpa ada keraguan, sebagaimana dirasakan oleh ungkapan ayat ini  yang menggunakan huruf al-fâ‘ (menunjukkan adanya urutan tanpa disertai jeda) dalam firman-Nya: [فَآمَنَّا بِه] (lalu kami pun mengimani alQuran tersebut).25 

Allah SWT berfirman:

وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا  ٢

Tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.

 

Setelah mereka menyatakan keimanannya terhadap al-Quran, mereka pun menyatakan konsukensi dari keimanan tersebut, yakni mengimani semua yang disampaikan al-Quran.26 Di antara perkara sangat penting dan mendasar itu adalah tidak menyekutukan Allah SWT dengan selain Diri-Nya. Ini adalah konsekuensi dari keimanan.

Dalam ayat itu disebutkan: [لَنْ] (tidak akan). Huruf tersebut untuk menafikan sesuatu sampai ke masa yang akan datang. Itu memberikan makna bahwa mereka sebelumnya adalah musyrik. Oleh karena itu, mereka mengukuhkan penafian tindakan menyekutukan Allah SWT dengan huruf at-ta‘bîd (untuk menunjukkan selamanya) pada masa yang akan datang. Demikian sebagaimana pernyataan dan pujian mereka terhadap al-Quran dikuatkan dengan kata [إِنَّ] (sesungguhnya).27

Secara syar’i, asy-syirk adalah menjadikan sekutu bagi Allah SWT dalam hal rubûbiyyah dan ulûhiyyah.28 Dalam ayat ini diberitakan bahwa sekelompok jin tersebut menyatakan tidak akan lagi menyekutukan Allah SWT. Az-Zamakhsyari berkata, “Kami tidak akan kembali melakukan kemusyrikan seperti sebelumnya dalam menaati setan.”29

Hal senada juga dikemukakan al-Khazin yang berkata, “Maknanya: ‘Kami tidak akan kembali pada kesyirikan sebelumnya.’ Ayat ini menunjukkan bahwa jin itu sebelumnya kafir.”30

Menurut Wahbah az-Zuhaili, dalam ayat ini ada petunjuk bahwa hal paling agung dari dakwah Nabi saw. adalah mengesakan Allah, melepaskan syirik dan para pengikutnya.31

Menurut Muhammad al-Amin al-Harari, ayat itu berarti, “Kami tidak menjadikan seorang atau suatu apapun yang disembah sebagai sekutu bagi Allah SWT secara i’tiqaadi; juga tidak menyembah selain Diri-Nya. Sebabnya, kesempurnaan iman adalah barâ`ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan kekufuran, sebagaimana dikatakan Nabi Ibrahim as. yang diberitakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ  ٧٨

Ketika matahari terbenam dia berkata, “Kaumku, sungguh aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan.” (QS al-An’am [6]: 78).32

 

Keberadaan al-Quran sebagai kitab yang menakjubkan dan sangat bagus mewajibkan siapapun untuk mengimaninya. Keberadaan al-Quran yang menunjukkan pada ar-rusyd mewajibkan siapapun untuk memutus kesyirikan dari pangkalnya. Lalu masuk ke dalam agama Allah SWT secara menyeluruh. Semua ini maka terhimpun dalam firman-Nya:

فَئامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا  ٢

Lalu kami pun mengimani al-Quran itu dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.

 

Sikap mereka itu semua disebabkan oleh apa yang disebutkan sebelumnya, yakni firman-Nya:

إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا  ١ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ٢

Sungguh kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, yang memberikan petunjuk pada kebenaran.33

 

Menurut asy-Syaukani, ini merupakan teguran dan celaan bagi yang kafir dari kalangan manusia. Sebabnya, jin saja bisa beriman hanya mendengarkan al-Quran satu kali dan dapat mengambil manfaat dari mendengar sedikit ayat-ayatnya. Jin-jin itu itu dapat memahami dengan akal pikiran mereka bahwa itu adalah firman Allah SWT, tetapi mereka beriman kepada Diri-Nya. Seabaliknya, manusia-manusia yang kafir tidak dapat mengambil manfaat, apalagi para pembesar dan pemimpin mereka. Padahal al-Quran telah diperdengarkan berkali-kali dan dibacakan kepada mereka pada waktu-waktu yang berbeda. Apalagi Rasul saw. pun berasal dari kalangan mereka. Ia membacakan al-Quran kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri. Karena itu tidak aneh jika Allah SWT menempatkan mereka di tempat terburuk. Allah SWT mematikan mereka dengan seburuk-buruknya kematian dan siksa akhirat jauh lebih dahsyat kalau saja mereka mengetahui.34

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        al-Da’as, I’râb al-Qur‘ân, vol. 3 (Damaskus: Dar al-Munir, 2004), 388

2        Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni,770

3        Lihat Sayyid Thanthawi, al-Tafsîr al-Wasît li al-Qur‘ân al-Karîm, vol. 15, 131

4        al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 31 (Beirut: Dar Thauq al-Najah, 2001), 291; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, 10, 239; al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363; Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 221

5        Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, vol. 19, 410

6        Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrir al-Wajîz, vol. 5, 379;  al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363

7        al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363

8        Lihat al-Biqa’i, Nazhm al-Durar fî  Tanâsub al-Suwar, vol. 20 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, tt), 464. Lihat juga al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2003), 458; al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 31, 291

9        Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni, 770. Lihat juga al-Jazairin, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 446; al-Tsa’alabi, al-Jawâhîr al-Hisân fî Tafsîr al-Qur‘ân, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiy, 1998), 493

10      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 1588. Lihat juga Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni,770

11      al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3 (Kairo: Dar al-Shabuni, 1997), 434

12      al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3, 434

13      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiy, 1420 H), 665

14      al-Raghib al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Beirut: Dar al-Qalam, 1992), 354

15      al-Zamakhsyari Abu Hayyan, al-Kasysyâf, vol. 4, 623; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, 10, 293

16      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 647

17      al-Samarqandi, Bahr al-’Ulûm, vol. 3, 410

18      al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 291

19      Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 221

20      al-Jazairin, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 446

21      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannnân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 890

22      al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363

23      Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, vol. 19, 405. Lihat juga al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363; al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 292

24      al-Biqa’i, Nazhm al-Durar fî  Tanâsub al-Suwar, vol. 21, 466

25      Sayyid Thanthawi, al-Tafsîr al-Wasît li al-Qur‘ân al-Karîm, vol. 15, 131

26      al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 291

27      Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 221

28      Shalih Fauzan, ‘Aqîdat al-Tawhîd wa Bayân Mâ Yudhâdhuhâ min al-Syirk, 74.  

29      al-Zamakhsyari Abu Hayyan, al-Kasysyâf, vol. 4, 623

30      al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 349

31      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 161

32      al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 292

33      al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 292

34      al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 363. Lihat juga al-Jazairin, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 447

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =

Back to top button