Siyasah Dakwah

Time Line Palestine (Sejarah Palestina dari Masa ke Masa) (Bagian 1)

Fakta empirik membuktikan bahwa sebelum Tuufaan al-Aqshaa bermula, kaum Zionis sudah memprovokasi kaum Muslim dan Dunia Islam dengan cara menghinakan kesucian Masjidil Aqsha di Yerusalem!

Sejak pertengahan September 2023, kaum Yahudi Zionis menutup akses ke Yerusalem. Lalu mereka  membuka sepenuhnya gerbang kompleks Masjid al-Aqsha bagi kedatangan ribuan Yahudi untuk merayakan Hari Naf Hulbuk atau Perayaan Meniup Terompet dari tanduk hewan sebagai tanda kemenangan Yahudi sekaligus penguasaan mereka atas tanah yang mereka jejaki. Saat Yahudi Zionis menguasai dataran tinggi Golan dari Libanon-Suriah dan Sinai dari Mesir pasca Perang 1973, mereka pun secara antusias meniup terompet tersebut.

Jadi saat Hari Naf Hulbuk tersebut, mereka meniupkan terompetnya di atas kompleks Masjid al-Aqsha sebagai tanda bahwa Yahudi Zionis sudah menguasai Al-Aqsha sekaligus berencana untuk segera meruntuhkan masjid tersebut dan membangun The Temple of Solomon dalam rentang empat bulan kedepan. Bahkan mereka pun sudah menyusun agenda pemotongan sapi betina merah pada 8 Oktober 2023 bagi penyambutan messiah yang ditunggu, yakni al-Masih ad-Dajjal sebagai raja Yahudi di akhir zaman. SubhaanalLaah! Sebelum rencana keji mereka untuk menghinakan kemuliaan al-Aqsha dan mengotori kesucian Baytul Maqdis terwujud, Allah SWT mengirimkan al-Qassam dengan Tuufaan al-Aqshaa-nya untuk membersihkan najis-najis Zionis di Masjid al-Aqsha.

Fakta empirik ini tidak banyak di-publish oleh media-media mainstream. Mereka malah menyalahkan al-Qassam dengan menuding aksi Tuufaan al-Aqshaa-nya sebagai aksi bunuh diri dan membangunkan killer monster untuk menghabisi warga Gaza sendiri. Bahkan aksi al-Qassam ini disamakan sebagai terorisme dan menuding Hamas sebagai organisasi teroris. Penggiringan opini tak berdasar ini mengakibatkan pemahaman masyarakat dunia, termasuk juga di Dunia Islam tak lagi utuh dalam memetakan persoalan di Palestina.

 

Asal-Usul Nama Palestina

Nama Palestina sudah mulai dikenal ribuan tahun lalu, yakni saat tiba kaum pendatang Ba’alist atau al-Balisthiniyyun dari seberang lautan Agea di Mediteranean mendiami kawasan utara di Kan’aan Land. Kaum yang akhirnya bermukim inilah yang kemudian memunculkan istilah Philistea, Philistinian hingga Palestine di kemudian hari. Jadi, siapapun bangsa yang bermukim di wilayah utara Syam yang berbatasan dengan Lautan Mediterania disebut sebagai Palestina! Maka dari itu, saat bangsa Arab banyak mendiami wilayah tersebut, mereka pun disebut sebagai Arab Palestina atau bangsa Palestina saja.

Sebagai Muslim, cara pandang kita tentu tidak melulu seperti itu. Sebabnya, kaum Muslim yang dipandu Baginda Nabi saw. memiliki paradigma khas dan istimewa tentang teritorial Palestina tersebut, yakni dengan tuntunan wahyu dan visi nubuwwah. Berdasarkan hal tersebut, Palestina tak sekadar soal bangsa ataupun wilayah, tetapi identik dengan eksistensi Masjid al-Aqsha di dalamnya, yang disebut oleh Rasul sebagai Baitul Maqdis.

 

Peradaban Palestina adalah Baitul Maqdis

Berdasarkan hadis-hadis shahih tentang peradaban manusia di muka bumi, kita dapat mengetahui bahwa bangunan pertama sekaligus rumah ibadah pertama yang dibangun oleh Adam as. adalah baitullah, Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah. Kemudian Rasulullah saw mengabari kepada kita, bahwa baitullah kedua yang dibangun oleh manusia pertama tersebut adalah yang ada di Yerusalem, yakni Masjid al-Aqsha. Dari situlah kita mengenal nama Baytul-Maqdis (Rumah Allah yang Suci). Rasul saw. pun memberitahu bahwa jarak di antar kedua baitullah tersebut hanya 40 tahun saja.

Keberadaan dua baitullah ini dikisahkan mengalami pemugaran oleh para nabi untuk memperkuat dan memperkokoh struktur bangunannya agar terhindar dari kerusakan dan kehancuran. Di antaranya khusus untuk Masjidil Aqsha pernah dipugar oleh Ibrahim as. dan putranya, Ishaq as.; kemudian oleh Nabi Dawud as. pasca mengalahkan Raja Jaluth (Goliath); kemudian dipermegah dan diperindah pada masa Nabi Sulaiman as. tahun 963 SM hingga hancur oleh serangan Bukhtanasar (Nebukadnezar) dari Babylonia yang menyerang Yerusalem pada 597 SM. Berikutnya, baitullah dibangun kembali oleh Nabi Nehemia as. sambil mendirikan lagi benteng-benteng Yerusalem antara 515-444 SM. Namun kemudian, pada 170 SM ia diruntuhkan kembali oleh serangan Raja Anthiokos Epiphanes dari kuasa Seuleucid. Bahkan sebelum dipulihkan kembali, Baytul Maqdis pun dibakar oleh serangan Jenderal Pompei dari Romawi pada 63 SM.

Pemugaran Masjid al-Aqsha sebagai Baitul Maqdis oleh Nabi Sulaiman itulah yang diklaim Yahudi zionis sebagai pembangunan Haikal Solomon atau The First Temple. Pembangunan kembali Masjid al-Aqsha oleh Nabi Nehemia as. itu pun diklaim sebagai The Two Temple. Begitupun dengan pemugaran struktur bangunan Baitul Maqdis pada 37 SM oleh King Herod yang sebelumnya Yerusalem dijarah oleh Anthiokos Epiphanes dan dibakar habis oleh Pompei tadi, mereka sebut sebagai renovasi atas The Two Temple. Jadi, saat Masjidil Aqsha dipusakai kemuliaannya oleh kaum Muslim sejak era Umar bin al-Khaththab ra. hingga Osmani Halife, mereka bernafsu untuk merebutnya kembali dan menjadikannya sebagai The Third of Solomon’s Temple. Fenomena Perayaan Naf Hulbuk kaum Zionis di Masjidil Aqsha pada medio Oktober 2023 kemarin adalah bukti nyata niat jahat mereka!

 

The Promise Land?

Satu di antara klaim Yahudi Zionis tentang bumi Palestina dengan keberadaan Baitul Maqdis adalah mereka meyakini bahwa kaum Yahudi memiliki hak atas keberadaan kota suci tersebut. Mereka mengklaim bahwa Baitul Maqdis adalah ardh[un] maw’uud (negeri terjanji) untuk Bani Israil dengan diutusnya Nabi Musa as. sebagai messiah (juru selamat) bagi mereka yang diperbudak Fir’aun di Mesir. Namun, setelah Bani Israil diselamatkan dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah, mereka kembali durhaka dengan menyembah patung sapi betina yang dikreasikan Musa bin Zafar al-Samirah alias Samiri pada saat Nabi Musa as. naik ke ThurSina untuk menerima wahyu (Taurat). Bahkan kedurhakaan mereka berlanjut dengan pembangkangan Bani Israil atas ajakan Nabi Musa as untuk memerangi kaum Jabarrun yang mendiami Palestina saat itu. Oleh karena itu, ardh[un] maw’uud yang telah dijanjikan Allah SWT kepada mereka pun akhirnya batal dengan sendirinya akibat pengingkaran Bani Israil sendiri.

Namun, Nabi Musa as. dan para penerusnya, seperti Nabi Harun as. dan Nabi Yusya bin Nun as., tak pernah jera mengajak Bani Israil kembali ke jalan tauhid. Lalu tibalah saat Nabi Dawud as. Yang mampu menumbangkan kuasa Raja Jaluth (Goliath) di Palestina dan memulihkan Masjid al-Aqsha. Bani Israil kemudian antusias menyatakan keimanannya kepada risalah Mazmur (Zabur) yang dibawa Nabi Dawud as. Mereka sekaligus mengangkat Nabi Dawud as. sebagai raja Bani Israil di Baitul Maqdis. Berikutnya, pewaris Nabi Dawud as., yakni Nabi Sulaiman as. pun menjadi raja Bani Israil termegah dengan menundukkan para penguasa di tiga dunia; dunia manusia, hewan dan jin. Bahkan pada masa Nabi Sulaiman a.s. inilah, beliau membangunkan rumah ibadah terindah dan istana termegah, yakni Masjid al-Aqsha di Baitul Maqdis, Yerusalem. Saat itu, Bani Israil ada di puncak kemegahan dan kejayaannya dengan kepemimpinan Nabi Sulaiman as. Saat itu pula, mereka tercatat sebagai kaum mukmin yang mengimani Allah, Rasul dan Nabi-Nya yang diutus kepada Bani Israil. Para fuqaha menuliskan bahwa ardh[un] maw’uud (negeri terjanji) sudah digenapi saat kepemimpinan Nabi Sulaiman as. tersebut.

Akan tetapi, sepeninggal Nabi Sulaiman as. pada 932 SM, Bani Israil kembali durhaka dan mengingkari keimanannya. Saat itulah ajaran para nabi pun diselewengkan dengan ajaran Judaism. Taurat dan Zabur pun dikotori dengan adanya Talmud. Sejak itulah, kita mengenal agama Yahudi. Agama yang dianut oleh Bani Israil pendurhaka tersebut dengan merujuk pada mayoritas populasinya yang berasal dari trah Yahudza bin Ya’qub (Israil) as. bin Ishaq as. bin Ibrahim as. atau Yahudah ben Ja’acov ben Yissac ben Avram.

Akibat kedurhakaannya itulah, kerajaan warisan Sulaiman as pun pecah menjadi dua, yakni Kerajaan Utara (Israel) dengan ibukota Sikhem (Samaria). Mereka berhimpun dalam 10 suku Bani Israil yang dipimpin oleh panglima perang Yereboam. Adapun Kerajaan Selatan (Yudea) dipimpin oleh putra mahkota Reheboam yang hanya menghimpun 2 suku Bani Israil yang tersisa di ibukota Yerusalem. Kedurhakaan Bani Israil inilah yang menjadi sebab turunnya kemurkaan Allah SWT kepada mereka yang telah mengganti keimanannya dengan ajaran Judaisme (keyahudian).

Namun berikutnya, Kerajaan Utara dimusnahkan oleh serangan Raja Sargon II dari Asyuria pada 722 SM dan kehancuran Kerajaan Selatan oleh serangan Raja Nebukadnezar dari Babylonia pada 597 SM. Bani Israil pendurhaka alias Kaum Yahudi itu pada akhirnya diperbudak oleh Asyuria dan Babylonia hingga diinternir ke balik pegunungan Caucasia dan terdiaspora ke banyak pelosok dunia. Ke-12 suku Bani Israil Yahudi itu pada akhirnya menjadi 12 suku Eropa Modern dengan istilah Yahudi Ashkenazim (Yahudi kulit pucat Eropa). Mereka yang terdiaspora itu pula yang mengidentikan diri sebagai Semitic Caucasoid. Di antara anak keturunan mereka itu pula ada yang memiliki ambisi untuk kembali ke Baitul Maqdis dan membangun kembali kejayaan moyangnya dengan keberadaan The Temple of Solomon. Mereka memulai pergerakan kembali ke Bukit Batu (Bukit Zion) di Yerusalem dengan klaim the promise land, dengan nama Zionisme!

 

Visi Nubuwwah Muhammad saw.

Persentuhan pertama Muhammad saw. dengan keberadaan Baitul Maqdis adalah saat beliau berusia 12 tahun ketika diajak menemani pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, berniaga ke negeri Syam. Sebelum kafilah niaga mereka tiba di Damaskus, mereka singgah terlebih dulu di Bushra dan bertemu dengan pendeta Buhaira. Saat itulah, pendeta Nasrani itu menyaksikan tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad saw. Ia segera memperingatkan Abi Thalib untuk membawa pulang Muhammad belia kembali ke Kota Makkah karena khawatir akan disakiti, bahkan dieksekusi oleh orang-orang Yahudi.

Persentuhan kedua Muhammad saw. dengan Baitul Maqdis dan Palestina adalah saat beliau berusia 25 tahunan. Ketika itu beliau mendapatkan kepercayaan Khadijah binti Khuwailid ra. untuk menjadi penanggung jawab kafilah niaganya ke wilayah Syam. Saat mengepalai kafilah niaga Khadijah itulah, Muhammad saw. mengetahui banyak tentang Syam, khususnya Baitul Maqdis, yang tertawan oleh imperium Romawi sejak 63 SM. Bahkan Baitul Maqdis telah menjadi Christian City dengan nama Aelia Capitolina berdasarkan Consili Nicea 325 M saat kuasa Kaisar Constantine The Great di Konstantinopel.

Setelah Muhammad saw. diangkat menjadi nabi dan rasul Allah, beliau menjadikan amaliah dakwah sebagai poros utama hidupnya. Nabi Muhammad saw. memperjuangkan Islam sebagai nizhaamul-hayaah sekaligus rahmat bagi semesta. Beliau mengajak setiap manusia, siapapun orangnya dan darimanapun asalnya, untuk berkenan menerima Islam. Wahyu ilahiah turun kepada beliau saat memperjuangkan Islam di Kota Makkah. Lalu suatu kali beliau menerima QS at-Tin ayat 1-3 yang mengingatkan beliau pada keberadaan Baitul Maqdis dan Syam pada umumnya.

Ingatan beliau semakin mengemuka sejak 614-629 M saat terjadi perang dahsyat antara adidaya Romawi Byzantium melawan imperium Sasaniyah Persia di perbatasan Jazirah Arabia dengan Syam, yaitu The Dead Sea. Lokasinya hanya berjarak sekira 30-an kilometer saja dari Aelia Capitolina (Yerusalem) atau Baitul Maqdis. Bahkan perang dahsyat dekat Baitul Maqdis tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam QS ar-Rum ayat 1-5. Perang antar negara adidaya tersebut menjadi polemik panas kaum musyrik Quraisy dengan kaum Muslim di Kota Makkah saat itu.

Pada 620 M atau memasuki tahun kesebelas kenabian Muhammad saw., sekira bulan Rajab dua tahun sebelum peristiwa hijrah, Nabi Muhammad saw. mendapatkan mukjizat besar kedua setelah turunnya al-Quran, yakni peristiwa Isra’ wal Mi’raj. Ini adalah peristiwa megadahsyat yang hanya diberikan kepada Muhammad saw., tidak kepada para nabi sebelum beliau. Allah SWT telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad saw.) dari Masjidil Haram di Kota Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Yerusalem, Palestina, sekaligus mengangkat beliau dari as-Sakhrah, Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Rabb-nya, menerima langsung perintah shalat fardhu yang lima waktu. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah al-Isra’ ayat yang pertama. Masya Allah.

Sebelum mengangkasa ke Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad saw. dipertemukan terlebih dulu dengan para nabi dan rasul sejak Adam a.s. hingga Isa bin Maryam as. Ribuan para nabi dan ratusan rasul Allah hadir di Masjid al-Aqsha. Mereka semuanya bermakmum kepada Rasulullah Muhammad saw. dalam shalat berjamaah di Masjid al-Aqsha, terkhusus para nabi dari kalangan Bani Israil yang jumlahnya mayoritas dari total keseluruhan para nabi. Ini sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Abbas r.a., bahwa mereka telah bersepakat untuk memberikan estafet kepemimpinan umat, sekaligus pemusakaan atas kesucian Baitul Maqdis, kepada Rasulullah saw. dan para pemimpin pengganti penerus kepemimpinannya atas umat Muhammad saw. Beliau bersabda, “Dulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun, sungguh tidak ada lagi nabi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah, lalu  jumlah mereka akan banyak.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pada saat Mi’raj ke Sidratul Muntaha pun Rasul saw. mendapatkan berita luar biasa tentang bisyaarah al-Islaam wal Muslimiin (janji kemenangan Islam dan kaum Muslim) pada masa yang akan datang. Di antaranya bahwa beliau akan dikaruniai al-Kanzayni (dua kekuasaan bumi) dari masyrik (timur) hingga maghrib (barat), berupa al-Ahmar (merah) dan al-Abyadh (putih). Para mufasirin menyatakan bahwa al-Kanzayni dimaksud adalah dua kekuasaan peradaban dunia saat itu, yakni kuasa merah (Romawi Byzantium) dan kuasa putih (Sasaniyah Persia). Di antara dua kuasa tersebut ada Baitul Maqdis dengan kemuliaan Masjid al-Aqsha di dalamnya. Maknanya adalah keberadaan al-Quds mutlak akan dipusakai dan menjadi hak milik Rasul dan para pengikutnya hingga akhir zaman karena Muhammad saw. adalah khataman nabiyyin, penutup para nabi. [Bersambung]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − seventeen =

Back to top button