Tafsir

Berita Tentang Jin (4)

(Tafsir QS al-Jin [72]: 4-5)

وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا  ٤ وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا  ٥

Sungguh orang bodoh di antara kami selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah(4) Sungguh kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah(5)  (QS al-Jin [72]: 4-5).

 

Dalam ayat-ayat sebelumnya diberitakan tentang sikap para jin yang telah mendengarkan al-Quran. Mereka menyebut al-Quran sebagai kitab yang menakjubkan dan menunjukkan pada jalan yang lurus, seraya mau mengimani al-Quran. Mereka juga mengikuti konsekuensi dari keimanan tersebut. Di antara yang sangat penting, mereka tidak akan lagi menyekutukan Allah SWT dengan yang selain Diri-Nya. Mereka juga mengakui bahwa sesungguhnya Allah SWT Mahatinggi dari sifat memiliki istri dan anak.

Kemudian dilanjutkan ayat-ayat berikutnya yang meneguhkan keyakinan mereka terhadap keesaan Allah SWT. Mereka menyebut orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, juga mengatakan Dia memiliki istri dan anak, sebagai orang bodoh dan melampaui batas; juga meyebut hal demikian sebagai perkataan dusta.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا  ٤

Sungguh orang bodoh di antara kami selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.

 

Ayat ini masih mengisahkan perkataan jin yang telah mendengarkan al-Quran. Mereka menyebut perkataan jin yang bodoh tentang Allah SWT. Seperti sebelumnya, ayat ini juga diawali dengan kata [أَنَّه] yang merupakan harf ta’kîd dan dhamîr al-sya’n.Harf ta’kîd untuk mengukuhkan berita yang disampaikan. Adapun dhamîr al-sya’n untuk menunjukkan pentingnya perkara yang diberitakan.

Secara bahasa, kata [السَفِيْه] merupakan shifah musyyabbah yang menunjukkan makna ats-tsubût (tetap, permanen). Berasal dari kata  [سفُه , يَسفُه] yang berarti « جهِل وطاش، خفّ عقلُه » (bodoh, hilang akal, kurang akal).  Makna tersebut seperti dalam firman-Nya:

قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ٦٧

Dia (Hud) berkata, “Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun.” (QS al-A’raf [7]: 67).2

 

Menurut al-Khazin, pada asalnya kata « السَّفْه »  berarti « الخِفَّة » (ringan, remeh). Kemudian digunakan untuk menunjuk keadaan « خفة النفس لنقصان العقل » (lemah jiwa dan kurang akal) dalam urusan duniawi dan agama.3  Dengan demikian « السَفِيْه »  adalah « الجْاهِل » (orang bodoh) dan orang yang kurang dan lemah akal, yang menampakkan kedunguan dan kebodohan.4 Yang dimaksud oleh ayat ini adalah bodoh dalam urusan agama dan akhirat.5

Mengenai orang bodoh dalam ayat ini, banyak yang menafsirkan bahwa ia adalah Iblis. Di antara yang berpendapat demikian adalah Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan as-Suddi.6 Di antara alasannya adalah karena Iblis berasal dari kalangan jin sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ ٥٠

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian semua kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia termasuk (golongan) jin, kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya (QS al-Kahfi [18]:  50).7

 

Menurut pendapat lainnya, kata tersebut merupakan ism al-jins yang mencakup semua orang bodoh di kalangan mereka, yakni semua orang yang beranggapan bahwa Allah SWT memiliki istri dan anak.8 Karena mencakup semua jin, maka tercakup di dalamnya iblis yang menjadi  sumber kebodohan. Menurut Ibnu ‘Athiyah, pendapat ini lebih bagus.9

Jin yang kurang akalnya itu menyebut Allah SWT secara melampaui batas. Dalam ayat ini disebutkan « شَطَطًا». Kata tersebut berkedudukan sebagai sifat dari mashdar yang dihilangkan, yakni: « قَوْلًا شَطَطًا» (perkataan yang melampaui batas).10

Secara bahasa, kata « الشَّطَطُ» bermakna  « الْبُعْدُ عَنِ الْقَصْدِ وَمُجَاوَزَةُ الْحَدّ» (jauh dari maksud dan melampaui batas).11 Menurut asy-Syinqithi, al-Quran telah menjelaskan bahwa makna kata tersebut adalah jauh dalam artian secara khusus, yakni jauh dari kebenaran. Ini sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَلَا تُشۡطِطۡ ٢٢

Karena itu berilah keputusan di antara kami dengan haq dan jangan engkau menyimpang dari kebenaran (QS Shad [38]: 22).

 

Di antaranya juga bermakna  jauh dari hakikat tauhid. Itulah yang dimaksud di sini. Ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Kahfi, yakni:

لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا  ١٤

Kami tidak akan pernah menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran (QS al-Kahfi [18]: 14).

 

Sebabnya, berdoa kepada selain Allah SWT adalah tindakan yang jauh dari kebenaran. Yang dimaksud dengan « شَطَطًا» dalam ayat ini (Surat al-Jin) ditunjukkan oleh ayat sebelumnya, yakni firman Allah SWT:

فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا 2

Lalu kami pun beriman kepada-Nya dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.12

 

Tindakan melampaui batas yang mereka lakukan terkait dengan kekufuran juga disampaikan oleh banyak mufassir lainnya.  Menurut al-Qurthubi, asy-Syaukani, Ibnu ‘Adil dan lain-lain, makna « الشَّطَطُ» adalah « الْغُلُوُّ فِي الْكُفْرِ» (melampaui batas dalam kekufuran).13

Abu Malik memaknai kata tersebut sebagai « اَلْجَوْر » (aniaya, tidak adil). Al-Kalbi berkata: « الْكَذِبُ» (dusta).14  Ibnu Zaid bermakna « ظُلْمًا كَبِيرًا» (kezaliman yang besar).15

Dengan demikian orang bodoh adalah orang yang menganggap Allah SWT punya istri dan anak. Kesimpulan tersebut disampaikan oleh banyak mufassir. Dalam Tafsir Al-Jalâlayni disebutkan bahwa mereka disebut telah melampaui batas dalam kedustaan karena menyifati Allah SWT punya istri dan anak.16

Menurut Abdurrahman as-Sa’di,  ayat ini memberikan makna bahwa yang menyebabkan hal itu (menyimpang dari kebenaran dan melampaui batas) adalah kebodohan dan kelemahan akalnya. Sebabnya, seandainya yang bersangkutan teguh dan terang, pasti ia memahami apa yang diucapkan.17

Kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya:

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن تَقُولَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا 5

Sungguh kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

 

Ini masih mengabarkan tentang perkataan sekelompok jin yang mendengarkan al-Quran. Setelah sebelumnya mereka mengatakan tidak akan menyekutukan Allah SWT, mereka pun menyampaikan alasan mengapa sebelumnya mereka melakukan itu. Mereka mengira tidak ada satu pun manusia dan jin yang berani berdusta mengenai Allah SWT, dengan mengatakan bahwa Dia memiliki istri dan anak. Al-Qurthubi berkata, “Kami mengira bahwa manusia dan jin tidak akan mengatakan kedustaan atas Allah. Oleh karena itu kami membenarkan mereka bahwa Allah SWT memiliki istri dan anak hingga kami mendengarkan al-Quran dan telah jelas kebenaran bagi kami.”18

Kata « كَذِبًا» (kedustaan) merupakan mashdar untuk menguatkan kata « تَقُوْلَ» (mengatakan). Sebabnya, kadzib (kedustaan) termasuk salah satu jenis dari ucapan atau perkataan. Bisa juga menjadi sifat dari kata yang dibuang, yakni perkataan yang di dalamnya ada kedustaan.19

Perkataan tersebut merupakan alasan dari mereka mengenai kekufuran mereka sebelumnya. Mereka sebelumnya mengira bahwa tidak seorang pun berdusta tentang Allah, baik dari bangsa jin maupun manusia,  dalam hal Dia memiliki istri dan anak. Namun, ketika mereka telah mendengar al-Quran ini dan beriman kepada-Nya, mereka menjadi tahu bahwa ada orang-orang yang berani berdusta kepada Allah dalam hal tersebut.20

Tentang ayat ini, Ibnu Jarir ath-Thabari, “Sesungguhnya sekelompok jin itu tidak percaya bahwa ada orang yang berani berdusta atas Allah SWTketika mereka mendengarkan al-Quran. Sebabnya, sebelum mendengarkan al-Quran dan sebelum mereka mengetahui pendustaan Allah SWT kepada orang yang mengklaim bahwa Dia punya istri  dan anak, serta berbagai kekufuran lainnya, mereka mengira bahwa Iblis berkata jujur  dalam perkara yang dia serukan kepada orang-orang kafir. Setelah mendengarkan al-Quran, mereka menjadi yakin bahwa Iblis adalah pendusta dalam segala hal. Karena itu mereka menyebut orang-orang yang mengatakan tentang Allah SWT secara melampaui batas itu sebagai safih (orang yang kurang akal).” 21

Penjelasan senada juga dikemukakan oleh banyak mufassir. Menurut Abu Bakar al-Jazairi, jin yang mendengarkan al-Quran itu berkata kepada kaum mereka, “Sungguh kami mengira bahwa manusia dan jin tidak akan berdusta kepada Allah, tidak akan mengatakan apa-apa atas nama-Nya, kecuali kebenaran. Sekarang kami telah mengetahui bahwa mereka telah mendustakan Allah. Mereka juga berkata kepada Allah SWT perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh Diri-Nya, tetapi mereka menyandarkan kepada Diri-Nya. Padahal Mahasuci Allah dari semua tuduhan mereka tersebut.”22

Abdurrahman as-Sa’di juga berkata, “Kami sebelumnya tertipu. Yang menipu kami adalah para penguasa dan pemimpin dari kalangan jin dan manusia. Kami berbaik sangka kepada mereka dan kami mengira mereka tidak akan berani berdusta atas nama Allah SWT. Kkarena itulah kami mengikuti mereka sebelumnya. Pada hari ini, karena kebenaran telah jelas bagi kami, kami kembali dan tunduk kepada Allah SWT, serta tidak mempedulikan perkataan siapa pun yang bertentangan dengan petunjuk itu.”23

Artinya, sebelum ini mereka tidak mengira bahwa manusia dan jin bersepakat membuat kedustaan terhadap Allah SWT karena mereka menisbatkan kepada-Nya punya anak dan punya istri. Setelah mereka mendengar al-Quran ini dan beriman pada al-Quran, mereka mengetahui bahwa mereka dusta terhadap Allah dalam pengakuan mereka itu.

Demikianlah. Sekelompok jin itu mau beriman dan mengikuti konsekuensi keimanan. Mereka juga langsung berubah pandangan terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah SWT dan mengatakan Dia memiliki istri dan anak. Mereka menganggap orang yang mengatakan demikian sebagai orang-orang bodoh dan melampaui batas serta berani bersikap lancan dengan mengada-adakan kedustaan terhadap Allah SWT.

Jika para jin bersikap demikian hanya dengan mendengarkan beberapa ayat al-Quran, maka mereka bersikap sportif. Berbeda jauh dengan orang-orang kafir Makkah yang mereka tahu benar al-Quran bukan perkataan manusia, namun mereka tetap mengingkari al-Quran. Tidak ada yang layak buat mereka, jika terus bersikap seperti itu, kecuali azab yang keras.

Wal-Lâh ‘alam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        Lihat al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 295

2        Lihat Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah, vol. 2, 1076

3        al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 1, 34; Muhammad al-Hijazi, al-Tafsîr al-Wâdhih, vol. 33 (Beirut: Dar al-Jayl al-Jadid, 1993), 785

4        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 158

5        al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 295

6        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 239; al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 647

7        Lihat al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 295

8        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 239; Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrir al-Wajîz, vol. 5, 380

9        Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrir al-Wajîz, vol. 5, 380

10      Abdullah al-‘Ukbari, al-Tibyân fî I’râb al-Qur`ân, vol. 2, 1244. Lihat juga al-Da’as, I’râb al-Qur`ân, vol. 3, 388; Muhyiddin Darwisy, I’râb al-Qur`ân wa Bayânuhu, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Yamamah, 1995), 237

11      al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 365

12      Muhammad al-Amin al-Syinqithi, vol. 8 (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), 317-318

13      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 9; al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 365; Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, vol. 19, 415; al-Khathib al-Syirbini, al-Sirâj al-Munîr, vol. 4 (Kairo; Mathb’ah Bulaq, tt), 400

14      al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 365.

15      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 239

16      Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni,770

17      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannnân, 890

18      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 9

19      al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 296; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 161

20      al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3,434

21      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 647

22      al-Jazairin, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 447

23      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannnân, 890

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − two =

Back to top button