Opini

Peristiwa Penting Pada Bulan Ramadhan

Muhammad Sa’id Mursy dan Qasim Abdullah, dalam bukunya, Ramadhaniyat, mencatat sejumlah peristiwa penting pada bulan Ramadhan. Di antaranya sebagai berikut:

1 Ramadhan 587 H. Terjadi penguasaan Kota ‘Asqalan yang merupakan pintu masuk menuju kota al-Quds. Penguasaan kota ini dilakukan oleh Shalahuddin al-Ayyubi sebagai strategi menahan laju kekuatan kaum Salib (Kristen) yang akan merebut Kota al-Quds.

Kemudian tentera Islam yang dia pimpin terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan Ramadhan.

6 Ramadhan 223 H. Al-Mu’tasim Billah, seorang khalifah ‘Abasiyah, mengepung Kota Amuriyah yang merupakan benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium di Asia kecil. Usaha beliau berhasil dengan ditaklukannya kota tersebut.

8 Ramadhan 789 H. Khalifah al-Mu’tasim Billah pada hari ini mengumumkan kepada rakyatnya, “Siapa saja yang merasa dizalimi dan memiliki perkara yang mengantar pada permusuhan maka datanglah kepada saya pada hari Ahad dan Rabu untuk menyelesaikan permasalahannya.” Tradisi ini baru dimulai pada masa beliau dan selanjutnya diikuti oleh para khalifah setelah beliau.

23 Ramadhan 1270 H. Pada hari ini kekuatan militer Rusia di bawah pimpinan Marsyal Bernes menghentikan kepungannya terhadap Kota Selestriya yang terletak di wilayah Crimea. Pengepungan yang terjadi selama 35 hari ini tidak membawa dampak yang berarti bagi kekuatan Khalifah Utsmaniyah, walaupun kekuatan militer Rusia mencapai 60 ribuan, sementara tentara Utsmaniyah hanya berjumlah 15 ribu orang.

25 Ramadhan 658 H. Terjadi Perang Ain Jalut antara kaum Muslim dan Tartar. Perang ini merupakan perang besar dalam sejarah Islam. Dalam perang ini, Tartar mampu menguasai banyak daerah Islam dan menjatuhkan Khilafah Abbasiah. Mereka juga berhasil membunuh Khalifah al-Musta’shim Billah di Baghdad pada tahun 656 H / 1256 M. Ekspansi Tartar meluas sampai wilayah Gaza di bawah pimpinan Hulagu. Kemudian Hulagu mengirim kurir untuk meminta Sultan Mamluki “Quthus” agar tunduk di bawah kekuasaan Tartar. Permintaan ini ditolak oleh Sultan Quthus karena menunjukan kehinaan dan kelemahan. Lalu beliau memutuskan untuk menghadapi Tartar dalam pererangan. Selanjutnya, pada hari Jumat tanggal 25 Ramadhan 658 H bertepatan dengan 6 September 1260 M bertemulah dua pasukan besar di wilayah Ain Jalut. Peperangan ini akhirnya berakhir dengan kemenangan kaum Muslim.

28 Ramadhan 92 H. Kaum Muslim di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziad membuka Andalusia (Spanyol). Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Futuh Andalusia. Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropa atas perintah Musa bin Nushair, penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan Islam sudah sampai di seberang, diperintahkannya agar kapal-kapal perang Islam dibakar. Kemudian ia berpidato di depan pasukannya, “Musuh di depan kalian. Jika kalian mundur maka lautan di belakang kalian.”

Langkah yang beliau ambil dalam membangkitkan semangat kaum Muslim sangat tepat. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Yang ada hanyalah berjuang ‘mati-matian’ dan mengharap pertolongan Allah. Berturut-turut kota demi kota jatuh ke tangan kaum Muslim. Akhirnya, pada bulan Ramadhan jatuhlah Andalusia ke tangan kaum Muslim. Sejarah mencatat bahwa di kemudian hari Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan menjadi mercu peradaban manusia di zamannya. Kemajuan teknologi yang diperoleh orang-orang Eropa zaman sekarang hanyalah merupakan perpanjangan teknologi umat Islam masa silam. [Lukman Noerochim]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 4 =

Back to top button